Sherly Tjoanda dan Benny Laos saat mengenang perjuangan sang suami di Galala, Pulau Mandioli. Foto: Instagram @s_tjo's
JAKARTA, (ERAKINI) - Calon gubernur (cagub) Maluku Utara (Malut) Benny Laos meninggal dunia setelah musibah kebakaran speedboat Bela 72 yang ditumpanginya, di Pelabuhan Bobong, Kecamatan Taliabu Bar, Pulau Taliabu, Maluku Utara, Sabtu (12/10/2024) siang. dikenal sebagai dan politikus hebat.
Benny Laos masuk dalam daftar 10 kepala daerah terkaya di Indonesia. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN), Benny Laos memiliki kekayaan sebesar Rp510 miliar. Kekayaannya berupa surat berharga senilai Rp248,6 miliar dan 139 bidang tanah dan bangunan senilai Rp158,1 miliar.
Sebelum maju sebagai cagub, Benny merupakan Bupati Pulau Morotai periode 2017-2022. Pria kelahiran 8 Agustus 1972 ini pernah mencalonkan diri sebagai cawagub Maluku Utara bersama Syamsir Andili pada Pilkada 2013. Namun, pasangan ini kandas di putaram pertama setelah hanya meraih 79.246 suara atau 13,80 persen.
Pada 2024, Benny kembali maju dalam Pilkada Maluku Utara sebagai cagub berpasangan dengan Sarbin Sehe. Mereka diusung Partai NasDem, Partai Demokrat, PKB, PAN, PPP, PSI, Partai Gelora, dan Partai Buruh, pada Pilkada Maluku Utara 2024.
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Benny ternyata anak putus sekolah yang berjuang sendiri untuk meraih mimpi. Perjuangan Benny ini dikisahkan sang istri cantik, Sherly Tjoanda. Melalui unggahan di akun Instagram pada 20 September lalu, Sherly mengenang perjuangan sang suami di Galala, Pulau Mandioli.
"35 tahun yang lalu, setelah berhenti di SMA kelas 1, kamu (Benny) pulang ke Ternate dari Malang mungkin dengan perasaan kalah, marah, pasrah, dan bingung, seorang remaja putus sekolah bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan," tulis Sherly, dikutip Sabtu (12/10/2024).
Putus sekolah, Benny remaja kemudian merantau ke Galala, Pulau Mandioli. Di sana Benny harus bekerja keras sebagai tukang bungkus gula, menimbang dan memikul cengkeh serta pala. Tak cukup di situ, ia harus berjalan berkilo-kilo setiap hari tanpa listrik waktu itu.
"Dari seorang remaja yang bermimpi tinggi sekolah di Jawa dalam sekejap berada di sebuah pulau dan bekerja menggunakan fisik di usia yang sangat muda karena keterbatasan ekonomi waktu itu," katanya.
"Hari ini, bersyukur ama Tuhan dikasih kesempatan bisa nemenin papi kembali berdiri di tempat penuh kenangan ini, kali ini membawa istri dan anak untuk melihat di mana dulu belajar bekerja serta bernostalgia berjumpa kembali bersama keluarga dan sahabat-sahabat di Galala - Pulau Mandioli," sambungnya.
Sherly mengaku perjuangan sang suami sangat berat. Ia harus menghadapi ombak di laut hingga ombak di darat, alias jalan yang belum diaspal dan bergelombang.
"Tidak terbayangkan bagaimana 35 tahun lalu, saat kondisi jalannya masih jauh lebih buruk, belum ada listrik, dan kemana mana jalan kaki berkilo kilo sambil mikul kopra puluhan kg. Sekarang saya mengerti kenapa daya juang dan rasa empati suami sangat tinggi," ucapnya.
"Masa lalu yang keras telah membentuk karakter papi menjadi sosok yang tangguh dan berempati. Dari masa lalu yang sulit, kini tantangan itu menjadi motivasi membawa perubahan positif bagi saudara2 dan tanah kelahirannya," tambahnya.
Melihat perjuangan pahit sang Benny, Sherly pun dengan tekad bulat berjanji akan selalu berada di sisi sang suami, mendampingi dalam suka dan duka. Janji itu pun ia buktikan selama hidup dengan Benny. Tak peduli meski sering diterpa gelombang dan badai, Sherly selalu berada di samping suaminya.
Termasuk selama kampanye, ia turut menyemangati dan mendampingi Benny dalam perjalanan dari satu desa ke desa lainnya. Termasuk yang ia lakukan hari ini. Ia turut serta mendampingi sang suami saat hendak kampanye ke Desa Kawalo.
Namun takdir berkata lain. Speedboat yang mereka tumpangi terbakar di Pelabuhan Bobong, Kecamatan Taliabu Bar, Pulau Taliabu, Maluku Utara. Sherly selamat dalam musibah itu. Namun sang suami, meski sempat mendapat perawatan intensif di rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.