Densus 88 sebut 52 Anak di Jateng Terpapar Kekerasan, Meningkat Lebih dari 100 Persen dari Tahun Lalu: Mayoritas Korban Bullying
Eka Setiawan
SEMARANG, (ERAKINI) - Satuan Tugas Wilayah Jawa Tengah (Satgaswil Jateng) Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri menyebut hingga awal Oktober ini, ada 52 anak di wilayah ini yang terpapar kekerasan via online. Jumlah ini meningkat lebih dari 100 persen di banding data Densus 88 akhir tahun lalu di provinsi ini.
Hal itu diungkapkan Perwira Satgaswil Jateng Densus 88/Antiteror Iptu Yusuf saat kegiatan sosialisasi “Dampak Bullying di Ruang Digital” di RT02/RW06 Perumahan Grand Tembalang Regency, Kota Semarang, Sabtu (10/10/2026) petang.
“Sekarang ada 52 anak di Jateng yang terpapar, 2 di antaranya sudah masuk grup jaringan teroris, istilahnya jadi anak yang berhadapan dengan hukum walaupun jadi saksi, mereka yang dewasa sudah kami tangkap, dilakukan penegakan hukum,” kata Yusuf di antara warga yang hadir.
Berdasar fakta dari penanganan anak-anak itu, ungkap Yusuf, rata-rata orangtuanya tidak percaya. Mereka menyebutkan anak-anak mereka cenderung “penurut”, lebih banyak di dalam kamar, beraktivitas online.
“Setelah kami buka ponselnya, tunjukkan video-video yang ada di dalamnya, mereka (orangtua) kaget semua. Beberapa anak memberikan penolakan, tapi dengan koordinasi orangtua, kami buka ponsel mereka tunjukkan apa yang ada di dalamnya,” sambung Yusuf.
Aktivitas anak-anak yang disebut “penurut”, lebih banyak di kamar, tak menjamin tidak mendapat paparan kekerasan. Pasalnya, sebut Yusuf, salah satu pintu masuk kekerasan, radikalisme, ekstremisme hari ini justru dari aktivitas onlinenya.
Dia menyebut pintu masuknya gim online Roblox, di mana di dalamnya terdapat fitur chat global. Dari fitur ini, mereka akan masuk lagi ke percakapan lebih privat, seperti Telegram maupun WhatsApp. Salah satunya grup bernama True Crime Community. Isinya; berbagai video tentang kekerasan hingga pembunuhan sadis.
Ketika anak-anak terbiasa melihat video-video itu, hal yang dikhawatirkan adalah adanya normalisasi kekerasan. Anak-anak cenderung menjadi “tidak risih” melihat aksi sadistis. Bahkan, menganggap kekerasan adalah solusi ketika mendapat persoalan.
“Ketika mendapatkan bullying lalu anak ini tidak mendapat penanganan yang benar, bisa jadi mereka akan luapkan dengan aksi kekerasan. Yang kami tangani, ada yang H-1, H-4, ada yang seminggu sebelumnya mereka akan melakukan kekerasan, kami masuk lebih dulu ke mereka, door to door. Ada yang ingin melakukan penusukan massal di sekolahnya,” cerita Yusuf.
Anak-anak yang terpapar itu, sebut Yusuf, sekira 80 persen adalah korban bullying. Anak yang tidak dapat ruang di dunia nyata lari ke dunia maya, ini fakta yang kami dapatkan.
“Di Jateng, akhir tahun 2025 ada 22 orang anak, ini sudah mau akhir tahun sudah 52 anak yang kami tangani, kenaikannya (lebih dari) 100 persen. Kami juga masih mengidentifikasi ribuan nomor (ponsel) yang mengarah ke sana,” jelasnya.
Kenapa Densus Turun?
Yusuf menjelaskan, trend paparan kekerasan terorisme ke ranah digital sebenarnya sudah mulai terjadi ketika kelompok ISIS di Timur Tengah memproklamirkan diri sekira tahun 2014, kemudian disusul di Indonesia melalui kelompok teror Jamaah Anshorut Daulah (JAD).
Pada perkembangannya, muncul aksi teror melibatkan anak-anak dan orangtuanya seperti kasus Bom Surabaya tahun 2018. Densus melihat adanya pergeseran pola propaganda kelompok teror ke ranah digital.
“Game online ini jadi salah satu sarana pintu masuknya,” papar Iptu Yusuf.
Ingin Orangtua Aktif Awasi Perilaku Anak
Di depan warga GTR Kota Semarang, Iptu Yusuf mengajak semuanya terutama para orangtua untuk rutin dan aktif mengawasi perubahan perilaku anaknya.
Jika terdapat kebiasaan yang berubah, seperti; lebih sering mengurung diri, asosial, lebih banyak aktivitas online, orangtua perlu melakukan pendekatan lebih intens ke anak-anaknya.
Meskipun sudah ada kerjasama dengan Pemprov Jateng – Psikolog termasuk kepolisian tingkat resor maupun daerah, Iptu Yusuf menyebut orangtua memegang peran krusial untuk pencegahan dini.
Ketua RT02/RW06 Bale Amarta Perumahan GTR Kota Semarang Edy Warsito mengamini dewasa ini banyak terjadi insiden bullying di kalangan pelajar. Itu yang membawanya, bersama kelompok PKK setempat, aktif melakukan sosialisasi, mendatangkan narasumber kompeten agar warga mendapat pengetahuan maupun informasi lebih banyak akan fenomena ini.
Senada, Ketua RW06, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Khusnul Hidayat mengatakan di wilayahnya juga banyak aktivitas mahasiswa mengingat banyak kampus di sana. Aktivitas ini juga tak bisa lepas dari ruang digital.
“Kami sangat apresiasi kegiatan seperti ini, mudah-mudahan di Bulusan khususnya di Grand Tembalang Regency, ketika ada fenomena seperti itu, warga juga bisa cepat merespons, merangkul, atas dampak daripada teknologi tadi,” tandasnya.

















