Dies Natalis ke-41 FIB Undip Undang KDM Orasi Budaya: Cerita soal Cepot, Akang hingga Dianggap jadi Ancaman
Eka Setiawan
SEMARANG –

SEMARANG –







Itu diungkapkan KDM saat menyampaikan Orasi Budaya “Merawat Budaya Menumbuhkan Peradaban” dalam rangka Dies Natalis ke-61 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (13/10/2026).
KDM bercerita tentang dinamika kepemimpinannya di civitas akademika Undip yang hadir. Termasuk soal panggilan yang melekat.
Soal panggilan Akang atau Kang, sebut KDM, sempat dianggap merusak tatanan birokrasi.
“Saya mengganti panggilan terhadap pemimpin, termasuk kepada saya, biasanya (dipanggil) bapak, bapak, bapak. Saya nggak usah dipanggil bapak. Cukup Kang Dedi saja. Keluar lagi bahasa ini orang merusak tatanan birokrasi, nggak ada dalam ilmu birokrasi kalimat Akang pada yang lebih tinggi kedudukannya,” kata KDM.
“Lebih baik jadi Akang menyenangkan, daripada jadi Bapak kerjanya naikin pajak,” lanjut KDM yang disambut tawa hadirin.
Dia juga mengenang ketika tahun 2003, memakai ikat kepala masih berwarna hitam. Gelar pertamanya adalah Cepot. KDM menyebut Cepot ini kalau di Jawa adalah Bagong. Bedanya, Bagong adalah anak bungsu, sementara Cepot anak paling Sulung (dalam pewayangan Sunda).
“Saya selalu mengatakan, tidak pernah marah. Saya katakan, lebih baik dipimpin oleh Cepot tapi membuat bahagia daripada dipimpin Arjuna hanya menambah istri dalam setiap periodenya,” ungkap KDM yang lagi-lagi disambut tawa hadirin.
Saat sering mengucapkan Sampurasun, KDM salah satunya ingin menghidupkan lagi budaya wiwitan. Dia menegaskan, orang Sunda harus kembali kepada wiwitan, sebab jika tidak maka tidak akan tahu masa depan.
Dia menyebut seluruh perjalanan itu bukan hanya persoalan perjalanan perdebatan publik dalam wacana akademis, tetapi sudah mengarah ke bullying fisik.
Dia bercerita rumah dinasnya pernah dilempari batu, disebut Dajjal Sunda. Anaknya mengalami trauma di sekolah karena mendapat stiker-stiker yang intinya ancaman pembunuhan, mobilnya juga pernah jadi sasaran pelemparan.
“Saya pernah dikejar 25 orang di Garut dengan membawa pedang. Semua hanyalah satu kecurigaan kepada saya, dianggap akan menghidupkan budaya masa lalu dan dianggap sebagai ancaman,” ceritanya.
KDM juga mengaku sering mendapat masukan dari konsultan untuk mengubah cara berpikir pembangunan dan politik karena dianggap akan mendegradasi keterpilihan di era masyarakat memilih langsung.
“Saya katakan, lebih baik saya tidak terpilih tapi berpegang teguh pada kebudayaan yang saya jadikan wacana ideologi pembangunan daripada saya berganti judul hanya untuk sebuah kekuasaan,” tegasnya.
“Saya yakin gitu loh, bahwa orang Sunda, daerah yang saya pimpin, itu tidak akan lagi melihat apa yang dibicarakan, tidak lagi melihat apa yang diwacanakan, tetapi akan melihat apa yang diperbuat,” jelasnya.
Beri Beasiswa
Pada orasi budaya KDM di FIB Undip, dihadiri sejumlah civitas akademika setempat. Di antaranya, Wakil Rektor IV Undip Wijayanto hingga Dekan FIB Undip Prof. Alamsyah.
Di akhir orasinya, KDM menyebut akan memberikan 12 beasiswa kepada mahasiswa FIB Undip. 10 untuk jenjang S1 dan 2 beasiswa untuk jenjang S2, hingga lulus.
“Tentunya nanti kami pilihkan yang berkualitas dan kurang mampu (secara ekonomi), nantinya melibatkan kaprodi (masing-masing) untuk siapa yang pas menerima beasiswanya,” kata Prof. Alamsyah.
Dia mengatakan sengaja mengundang KDM untuk orasi budaya sebagai salah satu inspirasi untuk lebih mencintai budaya lokal.
Rektor Undip Prof. Suharnomo, sebut Prof. Alamsyah, menitipkan salam kepada KDM.
“Beliau mendapat undangan mendadak dari Pak Jaksa Agung pagi ini pukul 11.00, Undip akan mendapat gedung perkuliahan dari Pak Jaksa Agung hasil sitaan, untuk kelas di Jakarta,” ceritanya.
Perjalanan Panjang
Prof. Alamsyah menyebut 41 tahun FIB adalah sebuah refleksi perjalanan panjang. Pihaknya selalu berusaha maksimal untuk memperluas langkah menjadi fakultas bereputasi internasional dan mendukung Undip sebagai universitas kelas dunia. Langkah itu salah satunya adalah program internasionalisasi yang ditujukan bagi dosen, mitra dan mahasiswa.
“Internasionalisasi membuat kita lebih terbuka, untuk memahami keterbukaan, kita tengok hubungan budaya Sunda dengan wilayah Jateng,” ungkapnya.
Jauh sebelum Indonesia berdiri, sebutnya, perjalanan manusia, bahasa, perdagangan, agama dan kesenian telah menghubungkan keduanya. Wilayah budaya disebutnya lebih luas dan lebih lentur daripada batas administrasi yang dikenal sekarang.
Prasasti Sang Hyang Tapak bertarikh 1030M menggunakan bahasa Jawa Kuno di wilayah Sunda, memperlihatkan peredaran bahasa dan pengetahuan di Pulau Jawa.
Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 mengisahkan perjalanan melintasi Jawa, termasuk Pamalang atau Pemalang (Jateng).
“Pada abad ke-15 dan ke-16 hubungan Cirebon dan Demak memperluas jaringan perdagangan, keagamaan, politik. Memasuki abad ke-17, pengaruh Mataram di Priangan membawa perubahan dalam tata pemerintahan dan kehidupan budaya,” jelasnya.
Pada kegiatan Dies Natalis ke-41 FIB itu juga turut diadakan pameran keris yang digelar di Gedung Art Center A FIB Undip.
Rektor Undip Prof. Suharnomo melalui sambutan yang dibacakan Wakil Rektor IV Wijayanto menyebut kehadiran KDM memberikan relevansi tersendiri terhadap refleksi kebudayaan.
“Beliau hadir sebagai pemimpin pemerintahan sekaligus politisi yang berkecimpung dalam kehidupan demokrasi dan dikenal memiliki perhatian terhadap kebudayaan. Kehadiran Beliau mengingatkan bahwa kebudayaan bukan semata-mata urusan seniman, budayawan atau akademisi. Kebudayaan merupakan bagian penting dari cara seorang pemimpin memahami rakyat, menjalankan kekuasaan dan menentukan arah pembangunan,” tandasnya.


