KPwBI Jateng menyelenggarakan PTBI 2025 di Kota Semarang, Jumat (29/11/2025). Foto: Dok. BI Jateng.
SEMARANG, (ERAKINI) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KpwBI) Provinsi Jawa Tengah optimis perekonomian di provinsi ini tetap tumbuh solid di tengah ketidakpastian global.
Plh. Kepala Perwakilan BI Jateng Nita Rachmenia mengemukakan pada triwulan III tahun 2025 ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen (year on year/yoy), meningkat dari 5,28 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 5,04 persen (yoy).
“Capaian ini mencerminkan fundamental ekonomi Jawa Tengah yang kuat yang didukung oleh sinergi erat antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga momentum pertumbuhan,” kata Nita kepada wartawan usai gelaran Pertemuan Tahunan Bank Indonesia () 2025 di Kota Semarang, Jumat (28/11/2025) malam.
Pada kegiatan daring dan luring itu Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan paparan terkait situasi perekonomian dan arahan ke depan di tahun 2026.
Situasi dan arahan itu juga terkait dengan kondisi global maupun tantangan yang ada. Tantangan global di tahun 2026 di antaranya; ketegangan geopolitik yang berdampak mendorong kenaikan bahan baku hingga ketidakpastian pasar keuangan yang dapat mempengaruhi aliran investasi dan pembiayaan.
Selain itu, risiko perubahan iklim juga bisa mempengaruhi produktivitas pertanian sehingga bisa jadi salah satu sumber volatilitas harga.
Namun demikian, sambung Nita, berbagai tantangan itu sudah dilakukan antisipasi pihaknya bersinergi dengan pemerintah provinsi, pemerintah kota/kabupaten maupun instansi terkait lainnya. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga sudah bersinergi untuk bisa menjaga dan mengantisipasi tantangan-tantangan itu.
“Oleh karena itu, dengan potensi-potensi dan modal yang dimiliki Jateng dan didukung adanya persediaan pangan, demografi usia muda, tenaga kompetitif, basis industri yang solid dan pertumbuhan positif di sektor pariwisata, kami proyeksikan di tahun 2026 ekonomi Jateng tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen dengan inflasi tetap terjaga dalam rentang 2,5 plus minus 1 persen. Ini pastinya didukung sinergi dan kolaborasi bersama BI, pemprov maupun kota kabupaten,” lanjut Nita.
Dia menegaskan kolaborasi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi daerah serta menjaga momentum pertumbuhan.
Selain itu, kata dia, realisasi investasi Jawa Tengah hingga September 2025 mencapai Rp66,13triliun, menunjukkan kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha daerah yang kompetitif dan produktif.
Melalui platform KERIS Jateng, kolaborasi penguatan investasi diproyeksikan terus berlanjut untuk mendorong transformasi sektor industri pengolahan, tekstil, alas kaki, furnitur, makanan dan minuman, pariwisata, hingga energi terbarukan.
“Selain itu, Jawa Tengah terus memperkuat ekosistem ekonomi digital dan sistem pembayaran, yang kini didukung lebih dari 8,09 juta pengguna QRIS serta hampir 1 miliar transaksi non tunai hingga Oktober 2025,” tandas Nita.
Nita menambahkan, pihaknya akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah daerah, otoritas terkait, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas dan mendorong produktivitas ekonomi regional.
Upaya ini diwujudkan melalui pendalaman ekosistem digital, penguatan pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan, serta dukungan terhadap transformasi sektor-sektor strategis di Jawa Tengah. Dengan langkah tersebut, Jawa Tengah diharapkan dapat terus memainkan peran sebagai penumpu pangan dan industri nasional sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi domestik.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Jawa Tengah Agus Prasutio yang mewakili Wakil Gubernur Jawa Tengah, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas perekonomian daerah. Aneka capaian yang ada mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.
“Penguatan UMKM, percepatan digitalisasi, dan pengendalian inflasi pangan secara end-to-end yang dilakukan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan ekonomi Jawa Tengah bertujuan untuk mendorong perekonomian agar berdaya tahan tinggi, tumbuh lebih inklusif dan hijau,” katanya.
High Level
PTBI sendiri merupakan high level event tahunan untuk menyampaikan pandangan Bank Indonesia mengenai kondisi perekonomian, tantangan yang dihadapi, serta arah kebijakan ke depan.
Pada kesempatan ini, para peserta juga mengikuti siaran PTBI Nasional yang dihadiri Gubernur Bank Indonesia dan Presiden Republik Indonesia beserta para Menteri Kabinet Merah Putih.
Kegiatan PTBI 2025 di Jawa Tengah dihadiri oleh Plh. Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Nita Rachmenia; Anggota Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah, Wali Kota Salatiga, Bupati Semarang, Wakil Walikota Solo, Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY, Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Kepala Perwakilan BI Solo, Tegal, dan Purwokerto; para Kepala Organisai Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seluruh pimpinan perbankan, akademisi, pelaku usaha, media, dan pemangku kepentingan lain.
Dalam sambutannya, Gubernur Bank Indonesia menyampaikan bahwa perekonomian global saat ini masih dibayangi gejolak geopolitik termasuk Indonesia. Di tengah kondisi tersebut, ekonomi nasional tetap menunjukkan daya tahan yang kuat dengan stabilitas yang terjaga, pertumbuhan yang relatif tinggi, dan inflasi yang berada dalam rentang sasaran.
Kinerja positif ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan yang diperkuat oleh sinergi lintas otoritas.
Ke depan, arah kebijakan Bank Indonesia difokuskan pada penguatan stabilitas, percepatan hilirisasi dan industrialisasi, serta dukungan terhadap transformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada Menko Perekonomian beserta para menteri lain dan Gubernur Bank Indonesia atas paparan yang dinilai akurat dan merefleksikan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Presiden menegaskan bahwa tema PTBI tahun ini sangat relevan dan sejalan dengan roadmap pembangunan Republik Indonesia, terutama dalam memperkuat fondasi kemandirian dan ketangguhan ekonomi.
Presiden juga menyampaikan bahwa berbagai capaian dalam satu tahun pemerintahan merupakan hasil sinergi kuat antar otoritas, didukung kebijakan yang pro-rakyat dan berkeadilan.
Presiden menekankan pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur dasar hingga ke desa-desa melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk memastikan bahwa pembangunan bermanfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas.