Kementerian ESDM memanggil pengelola SPBU swasta terkait belum dilaksanakannya pembelian base fuel dari bahan bakar minyak (BBM) impor yang disediakan PT Pertamina (Persero). Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memanggil pengelola SPBU swasta terkait belum dilaksanakannya pembelian base fuel dari bahan bakar minyak (BBM) impor yang disediakan PT Pertamina (Persero).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian , Laode Sulaeman, mengatakan pertemuan akan digelar pada Jumat (3/10/2025) ini pukul 15.30 WIB.
“Di Kantor Migas, jadi mungkin kita tunggu saja nanti sore. Info yang lebih pasti mengenai kesepakatan akan kami sampaikan setelah rapat,” kata Laode dikutip dari Antara.
Ia menegaskan, pertemuan tersebut bertujuan melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan antarbadan usaha terkait pasokan BBM impor melalui Pertamina.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut SPBU swasta seperti Shell, Vivo, British Petroleum (BP), dan ExxonMobil telah menyetujui skema pembelian stok BBM tambahan lewat impor Pertamina. Langkah ini diambil guna mengatasi kelangkaan BBM di sejumlah SPBU swasta sejak Agustus 2025.
Namun hingga kini, belum ada SPBU swasta yang merealisasikan pembelian base fuel tersebut. PT Vivo Energy Indonesia bahkan menolak, karena hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan etanol sekitar 3,5 persen dalam BBM imporPertamina.
Padahal sebelumnya, Vivo telah menyepakati pembelian 40 ribu barel dari total 100 ribu barel base fuel yang diimpor Pertamina.
Menanggapi hal ini, Laode menegaskan kandungan etanol dalam base fuel Pertamina tidak melanggar spesifikasi yang ditetapkan pemerintah. Regulasi hanya mengatur angka oktan atau research octane number (RON).
“Kandungan etanol wajar ditemukan pada bahan bakar ramah lingkungan (biofuel). Jadi, penolakan Vivo bukan karena kualitas BBM Pertamina bermasalah, melainkan karena mereka memiliki spesifikasi khusus yang tidak menerima etanol,” jelasnya.
Sementara PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penggunaan etanol dalam BBM merupakan best practice yang telah diterapkan secara internasional. Hal ini untuk menekan emisi karbon, meningkatkan kualitas udara, sekaligus mendukung transisi energi yang berkelanjutan.
“Penggunaan etanol dalam BBM bukan hal baru, melainkan praktik yang sudah mapan secara global,” ucap Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.
Implementasi etanol, lanjut dia, terbukti berhasil mengurangi emisi gas buang, menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil murni, serta mendukung peningkatan perekonomian masyarakat lokal melalui pemanfaatan bahan baku pertanian.
Roberth menjelaskan, etanol berasal dari tumbuhan seperti tebu atau jagung, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil murni.
Dengan mencampurkan etanol ke dalam BBM, emisi gas buang kendaraan bisa berkurang sehingga kualitas udara lebih baik. Kata dia, penggunaan etanol dalam BBM juga terbukti menjadi standar di banyak negara, seperti Amerika Serikat.