Duduk Perkara Penyebab Korsel dan AS Keluarkan Travel Warning ke Indonesia
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) – Sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan (travel warning) bagi warganya yang hendak ke Indonesia. Peringatan ini menyusul laporan meningkatnya kasus kejahatan yang menyasar wisatawan asing di sejumlah destinasi populer.
Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) menjadi yang terbaru memperbarui imbauan resmi, memicu perhatian terhadap isu keamanan di Pulau Dewata. Pada tengah pekan ini Kedutaan Besar Korea Selatan dan Biro Imbauan Perjalanan Amerika Serikat sama-sama memperbarui panduan perjalanan bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Indonesia.
Kedubes Korea Selatan mengeluarkan travel warning yang mengimbau warganya untuk berhati-hati jika berkunjung ke Pulau Bali, karena terjadi kejahatan serius yang menargetkan warga negara asing secara beruntun. Travel warning tersebut dikeluarkan pada Rabu (01/04/2026) dengan judul "Peringatan Keamanan tentang Pencegahan Kejahatan Serius" di situs resminya.
“Seiring meningkatnya kejahatan serius yang menargetkan warga asing di kawasan wisata populer seperti Jimbaran, Seminyak, dan Canggu di wilayah Bali, kami mengimbau warga yang berkunjung ke Bali agar memperhatikan keselamatan pribadi mereka,” tulis pernyataan resminya.
Kedutaan tersebut juga menyoroti sejumlah kasus kejahatan serius terhadap warga asing di Bali sepanjang tahun ini, termasuk penyerangan berat hingga pembunuhan.
Data dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisatawan asal Korea Selatan. Pada periode Januari hingga Februari 2026, sebanyak 51.108 wisatawan Korea Selatan berkunjung ke Bali. Di sisi lain, minat warga Indonesia untuk bepergian ke Korea Selatan juga meningkat.
Menanggapi peningkatan level peringatan perjalanan dari Korea Selatan, Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyatakan bahwa hal tersebut merupakan respons yang wajar dan tidak memerlukan intervensi khusus dari pemerintah daerah. Ia mengatakan, “Aman, sudah ditangani oleh Polda.”
Koster menambahkan, “Biarkan saja peringatan itu untuk sementara, situasi akan membaik dengan sendirinya.”Situasi ini juga mendorong Kepolisian Bali mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam keterangannya disebutkan, “Setelah koordinasi yang baik dengan Konsulat Republik Korea, kami ingin menegaskan bahwa informasi yang beredar di media sosial terkait ‘larangan perjalanan’ tidak benar. Konsulat menegaskan bahwa pengumuman tersebut merupakan imbauan keselamatan rutin, bukan larangan untuk mengunjungi pulau kami,” katanya.
Tidak hanya Korea Selatan, Biro Imbauan Perjalanan Amerika Serikat juga meningkatkan level peringatan dalam beberapa hari terakhir. Peringatan tersebut diperbarui menyusul gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang terjadi di Maluku Utara pada 2 April.
Peringatan tsunami sempat dikeluarkan, namun kemudian dicabut. Meski demikian, Kedutaan Besar AS di Jakarta mengimbau agar wilayah pesisir di area terdampak dihindari. Gempa tersebut tidak berdampak langsung ke Bali, namun aktivitas seismik di Indonesia membuat para pemimpin daerah di Bali tetap bersiaga.
Pada akhir pekan lalu, Gunung Semeru di Jawa Timur tercatat meletus sebanyak sembilan kali, dengan semburan abu mencapai ketinggian lebih dari 1 kilometer. Gunung dengan ketinggian 3.676 meter itu mulai erupsi pada Sabtu pukul 02.07 dini hari, dengan kolom abu pertama mencapai 700 meter di atas puncak.
Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki risiko gempa bumi dan letusan gunung berapi yang selalu harus diperhatikan wisatawan saat merencanakan perjalanan.
Dari sisi keamanan di Bali, pulau ini pada dasarnya tetap aman dan terbuka bagi wisatawan. Namun, dalam sepekan terakhir, The Bali Sun mencatat adanya peningkatan laporan ketidakamanan dari para pelancong.
Indeks Keamanan Wisatawan yang disusun bersama Travel Off Path menunjukkan peningkatan laporan penipuan, sehingga skor keamanan turun dari angka stabil 84 menjadi 77 dengan status “meningkatkan kewaspadaan”.
Indeks tersebut memantau berbagai laporan wisatawan, termasuk kasus penipuan, pencurian, perampokan bersenjata, penyerangan, pelecehan, diskriminasi, narkoba, masalah transportasi, kerusuhan sipil, hingga konflik aktif.
Respons Kemenpar
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyatakan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait travel warning yang dikeluarkan oleh pemerintah Korea Selatan.
"Tentu pendekatan diplomatik juga kami terus lakukan koordinasi dengan pemerintah di sana dan utamanya dengan Kemlu," ujar Ni Luh di Jakarta, Sabtu (11/4/2026) dikutip dari Antara.
Hingga kini Kemenpar melihat data kunjungan wisatawan asal Korea Selatan ke Indonesia masih terjadi peningkatan. Ni Luh berharap kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dari Korea Selatan dapat tetap tumbuh meski ada peringatan wisata.

















