Poster resmi film 'King Ivory'. Film ini dijadwalkan akan tayang milai 14 November 2025 mendatang. (Foto: IMDb).
JAKARTA, (ERAKINI) - Filmkriminal terbaru berjudul ‘King Ivory’ siap hadir di bioskop mulai pertengahan November 2025 mendatang. Film ini akan membawa penonton masuk ke dalam sisi tergelap dari krisis narkoba yang melanda Amerika Serikat, khususnya di wilayah Tulsa, Oklahoma.
Disutradarai oleh John Swab, film ‘King Ivory’ merupakan sebuah eksplorasi tajam tentang dunia kartel narkoba, mafia lokal, dan pecandu yang terjebak dalam lingkaran kecanduan mematikan. Ceritanya terinspirasi dari riset mendalam yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari petugas hukum, narapidana, migran, hingga para pengguna narkoba itu sendiri. Berikut ini sinopsisnya!
Melansir Firstshowing, film ‘ King Ivory’ mengikuti kisah Layne West, diperankan oleh James Badge Dale, seorang polisi yang hidupnya berubah drastis saat mengetahui bahwa putranya sendiri terjerumus dalam kecanduan fentanil, zat sintetik yang 100 kali lebih kuat dari heroin dan nyaris tidak terdeteksi di perbatasan.
Didorong oleh tragedi pribadi dan tekad untuk menyelamatkan generasi muda, West memulai penyelidikan besar yang menjerumuskannya ke dalam jaringan kejahatan lintas kelompok dan etnis.
Bersama rekannya Ty, dan agen FBI Beatty, West memburu pelaku-pelaku utama dalam jaringan peredaran fentanil, termasuk: Ramón Garza, penghubung kartel Meksiko di wilayah lokal, Holt Lightfeather, diperankan oleh Graham Greene, pemimpin kelompok Indian Brotherhood yang mengendalikan peredaran dari balik jeruji di penjara ‘Big Mac’, Oklahoma, dan Smiley Greene (Ben Foster), bos mafia Irlandia yang dibantu oleh ibunya, Ginger (Melissa Leo), dan pamannya, Mickey.
Seiring jalannya cerita, satu pelajaran penting terus terulang, perang ini bukan hanya soal menangkap pelaku, tapi soal merebut kembali masa depan generasi muda yang dijadikan target utama oleh kartel.
King Ivory menyajikan lebih dari sekadar ketegangan ala film polisi. Film ini juga menyuguhkan potret sosial yang kompleks, menggambarkan bagaimana fentanil telah merusak kehidupan dari berbagai kalangan, baik sebagai pelaku, korban, maupun keluarga yang harus menanggung akibatnya.
Dengan atmosfer kelam dan pendekatan realistis, film ini menggabungkan elemen police procedural, drama keluarga, dan thriller kriminal, membuatnya relevan di tengah meningkatnya krisis opioid yang menjadi perhatian global.