Ki Frans Dito bersama Sanggar Wayang Kancil Salatiga di sebuah pementasan dalam gerakan Wayang Masuk Sekolah. (Foto: Instagram/Sanggar Wayang Kancil Salatiga)
SALATIGA, (ERAKINI) – Ki Frans Dito namanya. Lahir pada 18 Januari 2001, Ki Frans Dito termasuk bagian dari generasi Z yang telah menunjukkan konsistensinya menekuni dunia wayang kancil, sebuah seni pertunjukan tradisional yang ia pilih sebagai media edukatif untuk anak-anak.
Meski tidak berasal dari keluarga seniman, kecintaannya pada seni muncul sejak kecil. Sejak duduk di bangku SMK Negeri 8 Surakarta jurusan Karawitan hingga menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun 2024, telah menunjukkan konsistensinya menekuni dunia wayang kancil tersebut.
Menurut Ki Frans, wayang kancil lebih komunikatif dan mudah dicerna oleh anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah. Melalui lakon-lakon yang dibawakan, anak-anak diajak memahami ajaran moral dan etika sosial secara menyenangkan. “Wayang kancil menyatukan pembelajaran budaya dan nilai budi pekerti dalam satu paket yang menarik,” ungkapnya.
Wayang Kancil sebagai Alat Edukasi Interaktif
Dalam setiap pementasan, Ki Frans tak hanya memainkan tokoh-tokoh binatang khas cerita kancil, tapi juga membangun interaksi dua arah dengan penonton anak-anak. Ia menyelipkan pertanyaan-pertanyaan jenaka dan lagu-lagu permainan tradisional seperti “Sluku-sluku Bathok,” “Suwe Ora Jamu,” dan “Gundhul Pacul” di sela-sela cerita. Hal ini bertujuan agar anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga menyerap nilai-nilai luhur budaya Jawa.
Menurutnya, wayang kancil bukan sekadar pertunjukan, melainkan jembatan untuk mengenalkan anak-anak pada warisan budaya dan tata krama. "Anak-anak perlu tahu budaya mereka sendiri, agar tak tercerabut dari akar tradisi," ujarnya.
Mendirikan Sanggar Wayang KancilSalatiga
Untuk memperluas dampak positifnya, Ki Frans bersama rekan-rekan seniman mendirikan Sanggar Wayang KancilSalatiga. Sanggar ini bertujuan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap budaya tradisional sekaligus menanamkan karakter positif dan etika sosial.
Dalang muda yang sehari-hari tinggal di Kota Salatiga itu ingin suatu hari nanti, anak-anak yang pernah menonton wayang kancil bisa bercerita ke anak cucunya: 'Aku pernah menyaksikan pertunjukan wayang semasa kecil'," tutur Frans penuh harap. Ia percaya bahwa memori masa kecil seperti itu bisa menjadi titik awal regenerasi seni pertunjukan wayang.
Ia bersama Sanggar Wayang KancilSalatiga pun melakukan gerakan wayang masuk sekolah. Wayang kancil yang dibawakan Ki Frans sudah dipentaskan di berbagai kota, mulai dari Salatiga, Semarang, Magelang, hingga Gianyar, Bali. Ia mengaku ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak-anak menikmati pertunjukan tradisional ini.
Sejarah Singkat Wayang Kancil
Wayang kancil adalah bentuk wayang yang menggunakan tokoh-tokoh binatang, dengan kancil sebagai tokoh sentral. Wayang ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Giri pada abad ke-15 sebagai sarana dakwah Islam. Namun, perkembangannya sempat stagnan.
Baru pada tahun 1925, seorang Tionghoa bernama Bo Liem mempopulerkan kembali wayang kancil yang dibuat dari kulit kerbau. Perkembangan selanjutnya terjadi pada 1943 oleh Raden Mas Sayid, dan kemudian disempurnakan pada era 1980-an oleh Ki Ledjar Subroto dari Yogyakarta, yang memperbarui bentuk dan penyajian agar lebih menarik bagi penonton masa kini.
Wayang kancil tidak hanya menampilkan kancil, tetapi juga binatang lain seperti harimau, ular, burung, hingga karakter manusia seperti Pak Tani dan Bu Tani. Cerita-cerita yang diangkat disesuaikan dengan kondisi zaman, menjadikannya tetap relevan bagi anak-anak masa kini.
“Lewat wayang kancil, nilai-nilai positif kehidupan lebih mudah disampaikan kepada anak-anak. Mereka belajar sambil tertawa,” ucapnya.
Apa yang dilakukan oleh Ki Frans Dito menunjukkan bahwa tradisi bisa tetap hidup dan berkembang bila dijalankan dengan pendekatan segar dan menyenangkan. Lewat medium wayang kancil, ia bukan hanya melestarikan seni tradisi, tetapi juga menjadi penggerak pendidikan karakter berbasis budaya.