Hamnet. film paling mengharukan dan terindah tahun ini. Foto: Universal Ficture/BBC
JAKARTA, (ERAKINI) – Dua kritikus film BBC, Caryn James dan Nicholas Barber, merilis daftar film terbaik tahun 2025. Sinema terbaik tahun ini menghadirkan ragam genre, dari drama keluarga mengharukan, satire politik, komedi hangat, hingga horor penuh adrenalin.
Film "Hamnet" karya Chloe Zhao menempati posisi teratas berkat visual yang memukau dan kisah emosional tentang keluarga Shakespeare. Di posisi berikutnya ada "Sorry, Baby", dramakomedi indie karya Eva Victor yang memadukan isu kekerasan seksual dengan persahabatan perempuan secara lugas dan jenaka.
Film Korea "No Other Choice" besutan Park Chan-wook, juga masuk daftar sinema terbaik versi BBC. Film ini menampilkan komedi hitam penuh twist tentang pria yang kehilangan pekerjaan dan berubah menjadi pembunuh demi bertahan hidup.
Dari Brasil, "The Secret Agent" menawarkan thriller politik intens mengenai korupsi rezim diktator. Salah satu film paling mengguncang tahun ini adalah "The Voice of Hind Rajab", yang merekonstruksi tragedi nyata di Gaza dan memadukan rekaman suara asli sang korban, menciptakan pengalaman sinema yang memilukan.
Drama keluarga "Sentimental Value" karya Joachim Trier menampilkan eksplorasi mendalam hubungan ayah dan dua putrinya. Jafar Panahi kembali hadir lewat film satir "It Was Just an Accident", dibuat secara diam-diam karena larangan berkarya dari pemerintah Iran.
Sinema terbaik lainnya yang masuk daftar wajib ditonton adalah Marty Supreme, Wake Up Dead Man, Weapons, Highest 2 Lowest, hingga film horor emosional Bring Her Back. Berikut daftar 15 film terbaik 2025, dikutip dari BBC, Minggu (7/12/2025):
Film terbaru Chloe Zhao ini menjadi salah satu karya paling mengharukan tahun ini. Mengadaptasi novel Maggie O’Farrell, "Hamnet" berhasil memindahkan kisah kematian putra Shakespeare ke layar lebar dengan keindahan visual dan kekuatan emosi yang tetap terjaga.
Cerita tentang duka mendalam pasangan Shakespeare mudah jatuh pada sentimentalitas, namun Zhao justru menghadirkannya dengan lembut dan menyentuh. Kedalaman akting para pemeran menjadi kuncinya. Jessie Buckley tampil memukau sebagai Agnes—istri Shakespeare yang kuat sekaligus pahlawan sejati kisah ini—dengan performa yang bergantian antara garang dan menyayat hati. Paul Mescal menambah kehangatan lewat karakter Shakespeare yang manusiawi dan membumi.
Membawa penonton ke dunia abad ke-16 yang kaya detail, film ini merangkum perjalanan hidup mereka dari masa pendekatan hingga momen pertunjukan *Hamlet* yang memilukan, yang dalam fiksinya menghadirkan kembali Hamnet melalui salah satu tokoh sastra paling abadi.
Indah secara visual dan kuat dalam tema cinta, seni, kematian, serta duka, "Hamnet" layak disebut sebagai film paling mengharukan dan terindah tahun ini.
Dramakomedi indie yang memikat ini ditulis dan disutradarai oleh Eva Victor, yang juga tampil sebagai tokoh utama, Agnes. Cerita bergerak antara masa kini—ketika sahabatnya, Lydia (Naomi Ackie), berkunjung ke kampus New England tempat Agnes mengajar—dan kilas balik saat mereka masih mahasiswa. Pada masa itu, Agnes mengalami pelecehan seksual oleh salah satu profesor, sebuah peristiwa yang membekas dalam hidupnya.
Victor menggambarkan momen-momen sebelum dan sesudah kejadian dengan kejujuran yang lugas, dibalut humor sarkastik bergaya deadpan. Hasilnya, drama yang berpotensi gelap justru berubah menjadi kisah bittersweet tentang ketangguhan dan persahabatan perempuan.
Yang membuatnya semakin istimewa, "Sorry, Baby" merupakan debut Victor sebagai penulis-sutradara, namun gaya dan nadanya sudah terasa matang dan sangat khas.
Bradley Cooper kembali menghadirkan eksplorasi dunia seni pertunjukan lewat film ketiganya sebagai sutradara. Setelah menggali musik rock dalam A Star is Born dan musik klasik lewat Maestro, ia kini menyelami dunia komedi stand-up berskala kecil melalui "Is This Thing On?". Hasilnya adalah film Cooper yang paling santai, intim, dan benar-benar menyenangkan sejauh ini.
Will Arnett — yang juga menulis naskah bersama Cooper — berperan sebagai eksekutif finansial yang kelelahan dan merasa menjauh dari istrinya (Laura Dern). Suatu malam, demi menghindari biaya masuk klub komedi di New York, ia justru naik ke panggung dan menemukan bahwa stand-up menjadi cara baginya untuk membuka diri, menghadapi masalah hidup, dan menyadari bahwa usia paruh baya tidak hanya berkutat pada anak dan pekerjaan.
Terinspirasi dari pengalaman komedian Inggris John Bishop (yang menjelaskan kenapa Arnett sesekali memakai jersey Liverpool), dramakomedi hangat ini menyoroti betapa rumitnya pernikahan—sekaligus mengingatkan bahwa perjuangan mempertahankannya tetap sepadan.
4. One Battle After Another
Film orisinal terbaru Paul Thomas Anderson ini menghadirkan perpaduan unik antara komedi kacau, drama keluarga yang menyentuh, serta plot serius seputar pemerintahan otoriter dan konspirasi rasis. Meski penuh elemen berlapis, "One Battle After Another" mengalir mulus tanpa satu pun momen tersendat.
Deretan pemain bertabur bintang menjadi salah satu kekuatan utamanya. Leonardo DiCaprio tampil luar biasa lucu sebagai Bob Ferguson, mantan radikal yang hidupnya berantakan. Ia didukung Benicio del Toro, Sean Penn, dan Teyana Taylor yang masing-masing hadir dengan peran mencolok. Anderson mengolah bobot intelektual novel Vineland karya Thomas Pynchon—sumber inspirasi utama film ini—ke dalam tema sosial dan politik yang kuat.
Di balik skala ceritanya yang besar, hubungan ayah–anak yang dimainkan DiCaprio dan Chase Infiniti menjadi inti emosional yang memberi kehangatan, sesuatu yang jarang muncul dalam film Anderson. Tak hanya itu, film ini juga dipenuhi adegan aksi super cepat dan mendebarkan, mulai dari kejar-kejaran mobil hingga baku tembak intens.
Banyak pihak menilai peluang Oscar Anderson semakin besar—dengan alasan bahwa “ini waktunya ia menang”. Namun apa pun perdebatan itu, "One Battle After Another" berdiri sebagai salah satu film terbaik tahun ini berkat ambisi besar serta kemampuan memadukan seni dan hiburan secara memukau.
5. No Other Choice
Farce satir terbaru Park Chan-wook, yang diadaptasi dari novel Donald Westlake, menjadi kemenangan penuh darah lainnya dari sutradara Korea di balik Oldboy dan The Handmaiden. Lee Byung-hun memerankan seorang manajer pabrik kertas yang selama ini merasa hidupnya sempurna—karier stabil, keluarga harmonis, dan masa depan cerah.
Namun, kesombongan memang kerap mendahului kejatuhan. Tanpa peringatan, ia tiba-tiba dipecat. Lebih parah lagi, tak ada perusahaan yang mau mempekerjakannya. Dengan rumah tangga terancam dan masa depan anak-anak di ujung tanduk, ia berubah menjadi versi “Mr Ripley” yang tak terlalu berbakat: membunuh para rival demi pekerjaan yang diincarnya.
"No Other Choice" hadir sebagai komedi hitam penuh twist kreatif, karakter tak biasa, dan ide-ide nyeleneh khas Park. Meski brutal dan absurd, Park tetap memberikan empati pada sang anti-hero, sekaligus mengangkat isu relevan soal dampak PHK massal dan meningkatnya peran artificial intelligence di dunia kerja.
6. The Secret Agent
Drama menegangkan ini menghidupkan kembali berbagai trope thriller politik dengan cara yang segar. Sutradara sekaligus penulis naskah Kleber Mendonça Filho menyoroti bagaimana kekuasaan rezim korup mengalir ke bawah dan merusak kehidupan warga biasa. Nada unik film langsung terasa sejak awal, ketika teks pembuka menempatkan penonton di Brasil tahun 1977—disebut sebagai “masa kenakalan besar”, istilah ironis untuk menggambarkan masa kediktatoran.
Wagner Moura tampil karismatik sebagai Marcelo, seorang profesor apolitis yang tiba-tiba berseteru dengan oligarki pemerintah hingga menjadi target pembunuhan. Film ini memadukan berbagai genre dengan mulus: suasana karnaval, jaringan perlawanan bawah tanah, hubungan ayah–anak yang mengharukan, hingga baku tembak brutal antara para pembunuh bayaran.
Ada pula sentuhan meta seputar dunia film, termasuk spoof horor mini tentang kaki berbulu terpenggal yang bisa melompat dan membunuh—detail absurd yang justru menambah pesona. Menggabungkan berbagai elemen yang tampak mustahil, Mendonça Filho menghadirkan film yang intens, tegang, dan sangat memikat. Dengan karya ini, ia menegaskan posisinya sebagai salah satu sutradara terbaik saat ini.
7. The Voice of Hind Rajab
Dalam hal kekuatan emosional yang menghantam langsung, tak ada film lain tahun ini yang menandingi "The Voice of Hind Rajab". Disutradarai dan ditulis sineas Tunisia Kaouther Ben Hania, film ini merekonstruksi tragedi memilukan yang terjadi pada Januari 2024: kisah seorang gadis Palestina berusia lima tahun yang terjebak di reruntuhan mobil di Gaza, ketakutan tank Israel akan menembak, dan berbicara melalui telepon dengan para relawan Bulan Sabit Merah Palestina pada jam-jam terakhir sebelum ia terbunuh.
Dalam film, para aktor memerankan relawan yang berupaya mengirim ambulans untuk menyelamatkannya. Namun suara di ujung telepon adalah rekaman asli Hind Rajab—detail yang membuat paduan dokumenter dan drama ini terasa semakin menghancurkan. Thriller berpacu dengan waktu pun berubah menjadi potret perang yang brutal, intim, dan nyaris tak tertahankan.
Dua film terakhir Ben Hania, "Four Daughters" dan "The Man Who Sold His Skin", telah masuk nominasi Oscar. "The Voice of Hind Rajab" layak melanjutkan rekam jejak itu untuk ketiga kalinya.
8. Sentimental Value
Meski judulnya terdengar lembut, kekuatan drama keluarga ini justru terletak pada nadanya yang tulus tanpa terjebak sentimentalitas. "Sentimental Value" menggali dinamika rumit antara seorang ayah—seorang sutradara brilian—dan dua putrinya yang sudah dewasa, ketika ia terlambat mencoba memperbaiki hubungan emosional yang dulu retak.
Stellan Skarsgard menampilkan salah satu performa terbaik dalam kariernya sebagai Gustav Borg, seniman egosentris yang tetap memiliki kasih tulus untuk anak-anaknya. Joachim Trier, sebagai penulis dan sutradara, menampilkan akting yang sangat realistis dari Renate Reinsve sebagai putri sulung yang cemas dan penuh keraguan, serta Inga Ibsdotter Lilleaas sebagai adik yang berusaha melindungi putranya sendiri sekaligus kakaknya.
Elle Fanning, yang berperan sebagai aktris yang dibintangi Borg dalam filmnya, menambah lapisan makna bahwa seni dapat memperkaya hidup sekaligus memperumitnya. Dibuka dengan adegan di rumah keluarga Borg di Oslo, film ini langsung membawa penonton seolah masuk ke kehidupan keluarga tersebut—dipenuhi kewaspadaan, kerinduan, dan upaya menemukan cinta kembali.
9. It Was Just an Accident
Jafar Panahi kini membuat film secara diam-diam setelah dilarang menyutradarai oleh pemerintah Iran. Setelah menjalani dua hukuman penjara sebelumnya, ia baru saja mendapat tambahan hukuman satu tahun dan larangan bepergian. Tak heran jika "It Was Just an Accident" menyuarakan kritik keras terhadap rezim, namun mengejutkan karena tetap sarat kemanusiaan, optimisme, dan humor slapstick.
Vahid Mobasseri berperan sebagai Vahid, seorang montir yang mengenali suara mantan penjaga yang dulu menyiksanya saat menjadi tahanan politik. Ia memutuskan menculik sang penyiksa, tapi ada masalah: matanya diborgol selama di penjara, sehingga ia tak yakin menarget orang yang tepat. Solusinya? Berkeliling Teheran sambil bertanya pada mantan tahanan lain untuk memastikan.
Komedi kesalahan jenius Panahi ini memenangkan Palme d’Or di Festival Film Cannes tahun ini, membuktikan bahwa kreativitasnya tetap tak terbendung meski dibatasi.
10. Marty Supreme
Timothee Chalamet memerankan sosok pahlawan paling tak terduga—seorang pemuda egois yang hidup dari tipu muslihat dan bermimpi menjadi juara pingpong—dan berhasil membuatnya tetap memikat dalam film arahan Josh Safdie, berlatar Lower East Side, New York, tahun 1950-an. Chalamet menggambarkan Marty Mauser yang bersemangat, kurus, dan cepat bicara sebagai sosok yang begitu ingin maju hingga tak menyadari betapa kejam dirinya. Penampilannya cerdas karena tidak meminta penonton menyukai karakter tersebut; memahaminya saja sudah cukup.
Sepanjang petualangan komedi Marty yang berkelana ke berbagai negara, bertemu mantan bintang film (Gwyneth Paltrow), seorang kriminal, dan suami pacarnya, akting Chalamet sangat cocok dengan humor absurd dan energi kinetik film ini. Sebuah studi karakter yang riuh dalam balutan film olahraga, **Marty Supreme** begitu hidup dan menyenangkan hingga sulit ditolak—meski sang tokoh utama jauh dari sempurna.
11. Wake Up Dead Man
Film ketiga dari rangkaian misteri Knives Out karya Rian Johnson ini sama menghiburnya dengan dua film sebelumnya. Seperti biasa, kita kembali menyaksikan Daniel Craig sebagai Benoit Blanc yang selalu tampil rapi, memecahkan teka-teki rumit, dan menumpas para penjahat licik. Di balik kelucuan itu, hadir satire tajam terhadap bagian masyarakat Amerika yang penuh privilese.
Dalam Knives Out, Johnson menyoroti anak-anak orang kaya yang manja. Di Glass Onion, ia menyasar para “tech bro” dan influencer kosong. Dalam "Wake Up Dead Man", ia mengkritik para pemimpin agama apokaliptik dan politisi yang memanfaatkan mereka. Sebagai kontras menarik bagi Blanc yang flamboyan, Josh O’Connor berperan sebagai pendeta muda yang tulus dan bertentangan pandangan dengan pendeta garis keras yang diperankan Josh Brolin.
12. Father Mother Sister Brother
Karier Jim Jarmusch dipenuhi film-film kontemplatif yang indah dan dibuat cermat, namun sering diremehkan karena terlihat santai. Karena itu, kemenangan film terbarunya yang meraih Golden Lion di Festival Film Venesia tahun ini terasa sangat pantas.
Film ini terdiri atas tiga kisah terpisah, masing-masing berlatar kota berbeda dengan jajaran pemain luar biasa. Meski tampak ringan, tiap segmen memiliki lapisan cerita lebih dalam dan ambisius. Ketiganya mengangkat tema hubungan antara orang tua dan anak dewasa yang sering salah memahami satu sama lain—bahkan ketika mereka berusaha memahami.
Tingkat keseriusannya meningkat setiap bagian. Ada komedi gelap ketika Adam Driver dan Mayim Bialik, sebagai kakak-beradik yang renggang, mengunjungi ayah mereka (Tom Waits) di New Jersey. Segmen Dublin memperlihatkan Cate Blanchett dan Vicky Krieps sebagai dua saudari yang sedang minum teh bersama ibu mereka (Charlotte Rampling), dalam drama realistis tentang hubungan dingin yang tak pernah tersampaikan. Lalu hadir nuansa elegi dan rasa sejarah dalam segmen Paris, dengan Indya Moore dan Luka Sabbat sebagai anak dari ekspatriat Amerika.
Dengan gaya khas Jarmusch yang mengalir dan sentuhan emosional kuat, film ini mengatakan lebih banyak tentang keluarga dalam bagian-bagian singkatnya daripada banyak sutradara dalam film berdurasi panjang.
13. Weapons
Weapons dimulai pada pukul 02.17 di suatu malam di pinggiran kota tak bernama ketika 17 murid sekolah dasar bangun dari tempat tidur mereka, keluar rumah, dan berlari ke dalam kegelapan. Sejak itu, warga kota yang panik harus menghadapi pertanyaan: apa yang terjadi dan mengapa?
Solusi misteri supranaturalnya ternyata sederhana, tetapi Zach Cregger—penulis dan sutradara Barbarian (2022)—mengambil rute yang tidak biasa menuju akhir mengejutkan itu. Ia menampilkan rangkaian kejadian dari sudut pandang beberapa karakter: guru getir (Julia Garner), kepala sekolah kewalahan (Benedict Wong), orang tua marah (Josh Brolin), polisi bermasalah (Alden Ehrenreich), dan lainnya.
Sepanjang film, Cregger menunjukkan kendali mahir atas elemen horor—dari keheningan menegangkan hingga adegan gore mengejutkan, dari surealisme meresahkan hingga humor tak terduga. Namun, mosaik kehidupan masyarakat Amerika biasa membuat "Weapons" terasa unik. Dipengaruhi Magnolia karya Paul Thomas Anderson dan Short Cuts karya Robert Altman, film ini terasa seperti jenis horor baru yang belum pernah ada sebelumnya.
14. Highest 2 Lowest
Thriller penuh energi dan pemikiran ini terinspirasi dari High and Low (1963) karya Akira Kurosawa, namun sepenuhnya berjiwa Spike Lee—dan itu pujian besar. Denzel Washington memerankan David King, seorang mogul industri musik yang putranya diculik. Namun sang penculik keliru dan justru mengambil anak asistennya (Jeffrey Wright). Pertanyaannya, akankah King yang sedang kesulitan finansial tetap membayar tebusan untuk anak orang lain?
Dilema moral itu dibangun dengan gaya khas Lee. Ada kesadaran tajam terhadap isu ras dan kelas sebagai masalah sosial yang meresap. Ada visual mencolok, termasuk penthouse mewah King di Brooklyn yang dipenuhi karya seni seniman kulit hitam. Musiknya pun beragam: rap, salsa, hingga orkestra.
Ketika King berhadapan dengan penculik, terjadi pengejaran menegangkan di jalur kereta bawah tanah New York saat perayaan Puerto Rican Day yang penuh sesak. Washington tampil dalam salah satu peran terbaiknya, sementara ASAP Rocky memberikan akting pendukung tajam. Beberapa dialog bersifat menggurui, tetapi itu ciri khas Spike Lee. Intens dan mumpuni, "Highest 2 Lowest: adalah film yang hanya bisa dibuat olehnya.
15. Bring Her Back
Danny dan Michael Philippou melakukan lompatan besar dari YouTuber menjadi sutradara film layar lebar lewat horor supranatural Talk to Me (2022)—dan film terbaru mereka ini bahkan lebih hebat. "Bring Her Back" adalah kisah yang dibangun sangat cermat dengan atmosfer lengket, tentang kakak-beradik yatim piatu (Billy Barratt dan Sora Wong) yang dikirim tinggal bersama ibu angkat yang tampak hangat—mungkin terlalu hangat—diperankan Sally Hawkins.
Kuncinya adalah bagaimana Philippou bersaudara menyeimbangkan porsi horor dan drama. Alih-alih mengandalkan jump scare murahan atau twist berlebihan, mereka menghadirkan cerita emosional kuat tentang karakter tiga dimensi dalam lingkungan yang terasa nyata—meski melibatkan kerasukan iblis dan zombie pemakan daging.
Film ini tegang, intens secara visceral, dan cukup khas untuk menegaskan posisi mereka sebagai dua pembuat film horor terbaik saat ini. Jika para pemilih Oscar lebih memberi perhatian pada genre horor, Sally Hawkins seharusnya menjadi kandidat kuat Aktris Terbaik.