Markus Horison dan keluarga (Foto: Instagram/Markus Horison)
JAKARTA, (ERAKINI) - Bagi penggemar sepak bola Nasional, nama Markus Horison pastilah sudah tidak asing lagi. Penjaga gawang yang identik dengan kepala plontos tersebut namanya bukan hanya menjadi buah bibir pencinta sepak bola sebagai salah satu kiper terbaik Timnas Indonesia namun kisahnya sebagai seorang mualaf juga menyisakan kisah tersendiri yang layak diketahui.
Dikutip dari berbagai sumber pada Minggu (9/3/2025), Markus Horison terlahir dari keluarga yang memegang prinsip toleransi tinggi. Markus kecil lahir di Pangkalan Brandan, Medan, 14 Maret 1981. Sejak kecil banyak belajar dari keluarga ibunya yang berasal dari Aceh. Mantan suami Kiki Amalia ini, menghabiskan waktunya saat masa kecil mengunjungi saudaranya di Aceh.
Dilahirkan dari di keluarga yang semua anggotanya beragama Kristen, Markus yang merupakan anak dari buah cinta pasangan Julius Ririhina, dan Yenny Rosmawati, banyak memperoleh gambaran mengenai agama Islam dari keluarga pihak ibu.
”Ibu saya awal beragama Islam. Namun sejak menikah dengan ayah, Ibu berganti kepercayaan mengikuti kepercayaan ayah,” tutur pemilik nama lengkap Markus Horison Ririhina ini.
Markus bercerita, kedekatan dan keakraban yang ia miliki dengan kerabat dari pihak ibu, membuat Markus sejak kecil sudah tidak asing lagi dengan hal-hal yang berbau Islam, seperti salat, puasa, dan mengaji.
”Sejak duduk di sekolah dasar, saya sering menghabiskan liburan sekolah dengan berkunjung ke rumah saudara dari pihak ibu yang tinggal di Aceh. Dari situ, saya sering ikut mereka ke masjid. Tidak benar-benar masuk sih, tapi yah saya banyak memperoleh gambaran tentang Islam, dan salat dari situ,” tutur pemain yang menyabet gelar penjaga gawang terbaik’ Liga Indonesia musim 2007-2008.
Pada tahun 2004, ketika ia berusia 25 tahun, pria bertinggi 186 cm ini mendapatkan hidayah dari Allah SWT, dan akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam.
”Saya memutuskan untuk masuk Islam, tanpa ada paksaan dari siapapun. Jadi, ini benar-benar keinginan saya sendiri,” tuturnya.
Semenjak menjadi mualaf, Markus memiliki nama lain yang lebih bernafaskan Islam, yaitu Muhammad Haris. Namun, ia lebih sering menggunakan nama aslinya karena memang ia telah lebih dulu dikenal dengan nama Markus Horison.
Sikap Markus yang akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Islam sebagai agama barunya bukan tanpa rintangan. Di masa-masa awal perjalanannya memeluk Islam, sang ayah beserta ketiga kakaknya menentang keputusan tersebut.
”Awalnya tentu mereka semua merasa keberatan. Hal tersebut wajar, dan saya sangat bisa mengerti. Tapi, pada akhirnya mereka menyadari bahwa saya sudah cukup dewasa dan bisa menentukkan jalan hidup yang saya rasa terbaik untuk saya sendiri,” tutur anak bungsu dari empat bersaudara ini.
Sebagai satu-satunya muslim di keluarga, membuat Markus terbiasa beribadah sendirian. Di kala bulan Ramadan tiba misalnya, Markus biasa sahur, berbuka, menjalankan tarawih, dan merayakan lebaran Idul Fitri dan Idul Adha sendirian.
”Awalnya memang berat, tapi hal tersebut harus saya jalani,” kata Markus.
Meskipun begitu, penjaga gawang yang dikenal dengan gerakan refleknya ketika didepan gawang ini mengaku tetap senang, dan bahagia menjalaninya.
Menurutnya, dalam menjalani agama yang ia anut sebelumnya, dengan yang ia anut kini, Markus tidak menemukan adanya sebuah perbedaan yang teramat besar.
”Buat saya sebenarnya semua agama tidak terlalu berbeda. Semuanya mengajarkan kita untuk selalu ingat kepada Tuhan. Hal terpenting sebenarnya hanyalah bagaimana kita menjalankan kewajiban kita sebagai umat beragama,” lanjutnya.
Kebersamaan, dan dukungan sejak awal ia menjadi mualaf, justru diperoleh Markus dari rekan-rekannya ketika berseragam PSMS Medan yang kebanyakan beragama Islam.
”Kepada teman-teman saya di PSMS yang beragama Islam saya sering bertanya hal-hal seputar Islam kepada mereka,” cerita Markus.
Ramadan pertama yang harus ia lalui pun bersamaan dengan kewajiban Markus menjalani latihan bersama dengan rekan-rekan satu klubnya.
”Haus bukan halangan, karena puasa itu kan kewajiban,” tegas Markus yang mengidolakan Rasullulah SAW ini.
Pengalamannya berpuasa pada Ramadan pertamanya sejak mualaf merupakan salah satu pengalaman paling berkesan yang ia rasakan. Pada tahun pertamanya berpuasa, ternyata ia mampu menjalankan ibadah puasa, tanpa ada bolong satu haripun.
”Hari-hari biasa saya terkenal dengan orang yang tidak bisa nahan lapar. Tetapi di bulan Ramadan rasanya saya tidak percaya bahwa saya bisa. Ternyata saya memang bisa, dan bahagianya saya ketika akhirnya berhasil mencapai Hari Kemenangan,” kenangnya.
Kini, sebagai seorang muslim, membuat Markus makin rajin mempelajari seluk beluk dunia Islam. Ia kerap membaca, dan mempelajari sendiri buku mengenai Islam yang ia beli untuk memperluas pengetahuan keislamannya.
Buku-buku panduan salat, dan berbagai buku bacaan doa pun sering ia beli untuk menyempurnakan ibadahnya.
”Saya biasanya membaca tulisan latinnya saja, karena memang bacaan arab saya masih kurang lancar,” ucapnya.
Sebagai seorang muslim, Markus mengaku juga berusaha mengikuti ibadah Sunnah selain tentunya ibadah wajib. Ibadah Sunnah yang berusaha ia jalankan itu antara salah satunya berpuasa Senin-Kamis.
Karier Sepakbola
Selama perjalanan kariernya di lapangan hijau, Markus Horison sangat populer di Timnas Indonesia. Namanya makin melambung usai dipercaya menjadi penjaga gawang Tim Merah Putih pada babak penyisihan grup Piala Asia 2007 menggantikan Jendri Pitoy.
Meskipun waktu itu Indonesia kalah 1-0 dari Korea Selatan, dan tersingkir dari gelaran kompetisi, tapi justru sejak itu, Markus kerap dipercaya berada di bawah mistar gawang Tim Nasional Indonesia.
Selain karier di Timnas, Markus juga sempat memperkuat sejumlah klub besar di Indonesia. Setelah malang melintang di klub Divisi I, pada tahun 2003, Markus bergabung dengan klub asal tanah kelahirannya, PSMS Medan.
Bersama klub yang dijuluki ‘Ayam Kinantan’ ini, Markus sempat berpeluang menjadi kampiun pada Liga Indonesia 2007-2008, sebelum akhirnya dikalahkan Sriwijaya FC.
Adanya permasalahan internal di tubuh PSMS menjelang masa dimulainya Liga Super Indonesia 2008-2009 menyebabkan Markus bersama dengan rekan-rekannya di PSMS seperti Mahyadi Panggabean, memutuskan hijrah ke Persik Kediri meski pada akhirnya ia kembali bergabung dengan PSMS setelah sekitar dua musim berbaju Persik.
Sejak menekuni kariernya sebagai pesepakbola profesional, sejumlah prestasi telah ditorehkannya, baik untuk level klub maupun pribadi. Bersama klubnya kala itu, PSMS, Markus menjuarai turnamen ‘Piala Emas Bang Yos’ selama tiga tahun berturut-turut (2004, 2005, 2006).
Bahkan pada akhir turnamen pada 2006, Markus memperoleh gelar sebagai ‘Pemain Terbaik’. Setelah pensiun sebagai pemain, Markus Horison bersama rekan sesama legenda Timnas Indonesia, Nova Arianto mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) dengan nama Akademi Pro Bandung di Bandung.