Tradisi Suronan Masyarakat Jawa di Bulan Muharram dalam Pandangan Islam
Abdul Rahman Ahdori
Setiap masuk bulan Muharram, santri di Pulau Jawa menggelar Suronan, tepatnya di hari kesepuluh. Istilah Suronan sendiri diambil dari bahasa Arab, ‘asyaro atau ‘asyroh yang berarti “hari kesepuluh”.
Dilansir dari NU Online, Suronan merupakan tradisi pesantren yang dilakukan saat tibanya hari kesepuluh di bulan Muharram. Tradisi menghormati hari kesepuluh di bulan Muharram mempunyai sejarah yang panjang.
Pada hari tersebut Allah Swt. mengampuni dosa Nabi Adam a.s.; menyelamatkan dan mendaratkan Nabi Nuh a.s. dengan kapalnya; menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun bersama tentaranya, dan menyelamatkan Nabi Yunus a.s. dari ikan paus.
Masih banyak lagi peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ‘Asyuro. Pada hari itu, Allah Swt. memberikan ampunan (maghfirah) kepada hamba-hamba-Nya yang berdoa memohon ampunan.
Oleh karena itulah seorang mukmin harus memperbanyak ibadah, mencari maghfirah-Nya, serta berpuasa dan memperbanyak sedekah kepada anak yatim. Pada hari Suronan, para santri berpuasa mengikuti Rasulullah saw. seperti dalam hadits:
“Ketika Nabi saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi puasa pada hari ‘Asyuro, beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Jawab mereka, ‘Hari ini hari yang baik.
Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh-musuh mereka, karena itu Musa mempuasainya.’ Sabda Nabi Saw., ‘Aku lebih berhak daripadamu dengan Musa.’ Karena itu Nabi saw. mempuasainya dan menyuruh mempuasainya.” (HR. al-Bukhari).
Dalam pelaksanaan tradisi Suronan, kalangan pesantren juga biasanya membuat bubur nasi, yaitu bubur abang (bubur merah) yang rasanya manis karena dibubuhi gula merah, dan bubur putih yang rasanya gurih.

















