Hukum Ngegosip saat Puasa, Batal?
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Puasa dalam syariat Islam dimaknai sebagai menahan diri. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari berbagai perbuatan buruk atau maksiat.
Dalam praktiknya, masih ada sebagian orang yang tetap menjalankan puasa, tetapi melakukan perbuatan tercela seperti berdusta, menghasut, atau yang kini sering disebut dengan bergosip.
Padahal, kewajiban menjauhi sifat-sifat tercela tersebut sebenarnya tidak hanya berlaku ketika seseorang sedang berpuasa.
Di luar bulan Ramadan pun, umat Islam tetap diperintahkan meninggalkan perbuatan tersebut karena termasuk tindakan yang dilarang dalam ajaran agama.
Lalu bagaimana hukum orang yang berpuasa tetapi tetap bergosip?
Dikutip dari media resmi Nahdlatul Ulama, yang merujuk pada kitab Busyrol Karim, Senin (2/3/2026), ulama bernama Syekh Said Muhammad Ba’asyin menjelaskan:
ويتأكد له أي للصائم من حيث الصوم، وإن وجب لذاته ترك الكذب والغيبة وإن أبيحا لنحو إصلاح أو تظلم، فيسن تركهما. بخلاف الواجبين ككذب لإنقاذ مظلوم وذكر عيب خاطب توقفت النصيحة عليه وحفظ جوارحه من كل منهي عنه لخبر البخاري "من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه". وخرج بزيادتي من حيث الصوم نحو النميمة والكذب والغيبة لذاتها فيجب تركها، فهي يجب تركها لذاتها، ويسن للصوم.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa dusta dan ghibah seharusnya semakin dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa. Pada dasarnya, kedua perbuatan tersebut memang wajib ditinggalkan oleh setiap Muslim.
Meski dalam kondisi tertentu dusta atau ghibah dapat diperbolehkan, misalnya untuk mendamaikan pihak yang bertikai atau menceritakan kezaliman yang dialami seseorang, orang yang sedang berpuasa tetap dianjurkan untuk menghindarinya.


















