Bacaan Niat Mabit Ketika Murur di Muzdalifah
Abdul Rahman Ahdori
Skema pengangkutan jemaah haji menggunakan bus secara taraddudi (wira-wiri) pada malam 10 Zulhujjah tahun ini direncanakan tanpa menurunkan jemaah di Muzdalifah.
Artinya, jemaah haji yang sudah selesai wukuf di Arafah pada petang harinya akan diangkut langsung menuju Mina. Skema perjalanan haji ini disebut "murur" (melintas).
Pertimbangan PPIH menerapkan skema ini adalah untuk mengurangi resiko jemaah haji. Utamanya supaya tidak terulang peristiwa musim haji tahun lalu, di mana jemaah haji Indonesia banyak yang terlantar du Muzdalifah hingga siang hari tanggal 10 Zulhujjah.
Dikutip dari artikel Kemenag berjudul Ketika Murur di Muzdalifah Jangan Lupa Niat Mabit yang ditulis KH Ishom menjelaskan, masalah hukum "murur" Muzdalifah sudah dibahas dalam kitab-kitab fiqh, maupun dalam forum Ijtima' Ulama.
Dalam kitab tersebut, pada intinya sekalipun mabit di Muzdalifah termasuk wajib haji akan tetapi bagi jemaah haji yang berhalangan boleh tidak berdiam lama dari mulai waktu magrib sampai pertengahan malam maupun sebelum terbit fajar di Muzdalifah.
Ketika jemaah haji melintas di daerah Muzdalifah, di atas kendaraan yang melaju pelan dan sesekali berhenti karena kepadatan lalu lintas, bacalah niat dalam hati maupun dengan lisan kalimat sebagai berikut:

















