JAKARTA, (ERAKINI) - Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi resmi melantik pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menjadi Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO) di Jakarta pada Senin (18/11/2024).
Ujang dilantik bersama 5 tokoh lainnya yang juga mengemban amanah pada jabatan yang sama. Seperti apa sosok ? berikut ulasannya:
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (19/11/2024), Ujang Komarudin lahir pada 9 Agustus 1981. Ujang dikenal sebagai seorang analis, akademisi, dan pengamat politik Indonesia yang memiliki peran penting dalam dinamika politik tanah air.
Sebagai seorang tokoh yang aktif dalam dunia pendidikan dan politik, Ujang Komarudin memiliki dedikasi tinggi terhadap pengembangan pemikiran politik di Indonesia.
Sebelum menjadi JubirPCO dan dosen Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin sempat menjabat sebagai Staf Khusus Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Ade Komarudin, pada 2016.
Pada pertengahan tahun 2016, Ujang Komarudin mendirikan Indonesia Political Review (IPR), sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengamati dan menganalisis dinamika politik di Indonesia. IPR tidak hanya berfokus pada kajian politik, tetapi juga menghasilkan ide dan gagasan yang dapat disumbangkan untuk kemajuan bangsa, sebagai bentuk pengabdian Ujang Komarudin kepada negara.
Dalam kapasitasnya sebagai akademisi dan pengamat politik, Ujang Komarudin memiliki peran penting dalam memberikan analisis mendalam terhadap perkembangan politik di Indonesia.
Ia menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 atau Doktor Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI) pada 2006 dan 2013.
Sejak masa sekolah dan kuliah, Ujang Komarudin sudah aktif berorganisasi. Pengalaman organisasi yang dimilikinya sangat beragam, mulai dari menjadi peserta, pembicara, ketua, hingga pengurus dalam berbagai organisasi.
Orang tua Ujang berasal dari Subang, Jawa Barat yakni Marwi Natsir dan Komariyah. Keduanya merupakan petani di sebuah desa kecil bernama Kalentambo, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang.
Keluarganya hidup dalam kesederhanaan, yang memberi warna pada masa kecil Ujang Komarudin yang penuh dengan perjuangan dan keprihatinan. Pengaruh orang tua yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan ketaatan beribadah turut membentuk karakter dan pandangan hidup Ujang Komarudin.
Dalam menjalani pendidikan, Ujang Komarudin diharuskan untuk mengikuti pendidikan umum dan pendidikan agama secara bersamaan. Ia menempuh pendidikan MTSN Cirebon untuk tingkat pendidikan menengah pertama, sambil juga menimba ilmu di Pondok Pesantren.
Lalu, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMU Asshidiqiyah Jakarta, yang juga diimbangi dengan pendidikan di pondok pesantren. Kedua jalur pendidikan ini membentuk pribadi Ujang Komarudin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki landasan moral dan agama yang kuat.
Kehidupan Keluarga
Pada tahun 2007, Ujang Komarudin menikah dengan Siti Lia Nurdiah. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak laki-laki yang diberi nama Raden Kholid Raja Daud dan Sultan Muhammad Alfatih.
Kehidupan keluarga Ujang Komarudin menunjukkan keseimbangan antara karier, akademik, dan kehidupan pribadi yang harmonis, di mana ia selalu mengedepankan nilai-nilai keagamaan dalam mendidik anak-anaknya.
Dedikasi untuk Bangsa
Sebagai seorang analis politik, akademisi, dan pengamat, Ujang Komarudin berkomitmen untuk terus berkontribusi terhadap pembangunan politik dan demokrasi di Indonesia.
Melalui berbagai lembaga dan posisi yang dipegangnya, ia senantiasa berupaya memberikan pemikiran yang konstruktif dan solutif bagi perbaikan sistem politik Indonesia. Pendiriannya dalam Indonesia Political Review (IPR) menjadi salah satu wadah untuk melahirkan ide-ide baru yang diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi negara.