Ajang MRC 2025 resmi digelar di Atrium Utama Living World Kota Wisata Cibubur, Sabtu (1/11/2025). MRC 2025 mencatat rekor peserta terbanyak sejak pertama digelar 2015. Foto: Ist
BOGOR, (ERAKINI)- Ajang tahunan Kompetisi Robotik Madrasah (Madrasah Robotics Competition/MRC) 2025 resmi digelar di Atrium Utama Living World Kota Wisata Cibubur, Sabtu (1/11/2025). MRC 2025 mencatat rekor peserta terbanyak sejak pertama kali digelar tahun 2015.
Kompetisi ini menjadi wadah kreativitas dan inovasi teknologi bagi siswa madrasah dari berbagai daerah di Indonesia. Total peserta sebanyak 616 tim yang tersaring dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).
Namun, jumlah yang masuk grand final hanya 50 tim terbaik yang sebelumnya lolos dari babak kualifikasi nasional. Grand Final MRC 2025 berlangsung selama dua hari sejak 31 Oktober hingga 1 November 2025.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag) Amien Suyitno menjelaskan, MRC 2025 mengusung tema “Robotic Technology for a Green Future”. MRC 2025 menjadi momentum kebangkitan inovasi madrasah setelah sempat vakum dua tahun.
“Tahun ini kami hadir dengan semangat baru. Tema ‘Robotic Technology for a Green Future’ kami pilih untuk menegaskan bahwa teknologi juga harus berpihak pada keberlanjutan lingkungan,” ujar Amien.
Menurut Amien, ajang ini menjadi wadah untuk menampilkan bakat dan kreativitas siswa madrasah dalam bidang sains, teknologi, dan lingkungan. Madrasah bukan hanya mencetak ulama, tapi juga calon ilmuwan dan insinyur yang berakhlak mulia.
“Robot-robot karya anak madrasah bukan hanya keren secara teknologi, tapi juga membawa pesan tentang masa depan hijau. Ini sejalan dengan program Madrasah Hijau, Pesantren Hijau, dan Green Campus yang sedang kami kembangkan,” tambah Amien.
Selain itu, lanjut Amien, MRC 2025 juga menjadi bagian dari strategi Kemenag menyongsong era baru pendidikan madrasah. Tahun ini, madrasah akan menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) yang menjadi salah satu indikator penerimaan di perguruan tinggi negeri.
“Kita ingin memastikan bahwa anak-anak madrasah siap bersaing, baik secara akademik maupun dalam kompetensi teknologi,” ungkapnya.
Tahun ini, kompetisi terbagi menjadi dua kategori utama yaitu Robot Karya Inovasi (jenjang MTs dan MA), serta Mobile Robot Labirin (jenjang MI, MTs, dan MA). Kedua kategori menekankan kreativitas, penerapan teknologi, serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Beberapa karya robot yang tengah dirakit menarik perhatian pengunjung, mulai dari robot pertanian cerdas berbasis IoT, drone penyiram tanaman otomatis, hingga robot pengolah limbah dan penjaga lingkungan laut. Inovasi peserta menunjukkan kemampuan siswa madrasah dalam menggabungkan nilai keilmuan, teknologi, dan kepedulian sosial.
Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ditjen Pendis Kemenag Nyayu Khodijah menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar lomba, melainkan bentuk nyata implementasi Madrasah Reform yang mendorong pembelajaran berbasis sains dan teknologi.
“Robotik madrasah adalah simbol transformasi pendidikan Islam yang futuristik. Anak-anak ini adalah cikal bakal generasi inovator bangsa,” jelasnya.
Kemenag memastikan seluruh peserta mendapatkan dukungan penuh, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga fasilitas teknis di arena kompetisi.
“Kami ingin ajang ini menjadi ruang ekspresi dan pembelajaran bagi seluruh peserta. Tidak ada kata kalah, karena setiap ide yang lahir dari madrasah adalah bentuk kemenangan pendidikan kita,” tandasnya.