Pengungsi Palestina berjalan melewati reruntuhan saat mereka berusaha untuk kembali ke rumah mereka di Gaza utara. (Foto: Reuters)
JAKARTA, (ERAKINI) – Kementerian Luar Negeri RI merespons adanya kabar bahwa Donald Trump melalui tim transisisnya mempertimbangkan untuk merelokasi sebanyak 2 juta penduduk Gaza untuk direlokasi ke Indonesia saat rekonstruksi Jalur Gaza yang hancur pascaperang berlangsung.
Terkait kabar itu, Jubir Kemlu Rolliansyah Soemirat mengatakan kepada wartawan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi mengenai rencana relokasi itu. "Pemerintah RI tidak pernah mendapatkan informasi apapun mengenai hal ini," ujar Rolliansyah Soemirat.
Sebelumnya telah diberitakan bahwa tim transisi Donald Trump mempertimbangkan relokasi penduduk Gaza selama pembangunan kembali pascaperang. Informasi ini dilaporkan oleh media NBC dan juga diunggah di Times of Israel.
Satu pejabat transisi Trump dalam wawancara NBC News yang tidak disebutkan namanya membeberkan gagasan tersebut yang secara luas dianggap tidak realistis. Selain itu juga tidak jelas berapa banyak orang di pemerintahan baru yang benar-benar mempertimbangkannya dengan serius.
Hingga saat ini, negara-negara regional telah menolak gagasan menerima migran Palestina, karena tidak ingin dianggap terlibat dalam krisis pengungsi lainnya. Ada juga ketakutan yang signifikan di antara banyak warga Palestina bahwa Israel tidak akan mengizinkan mereka yang meninggalkan Jalur Gaza untuk kembali.
Melansir media JFeed, penilaian baru-baru ini memberikan gambaran suram mengenai kehancuran yang meluas di Gaza, yaitu dengan rincian:
- Kota Gaza rusak paling parah, dengan 74% bangunan hancur atau rusak parah
- Jalur Gaza Utara menyusul dengan tingkat kehancuran sebesar 70%.
- Khan Younis melaporkan 55% bangunan dirusak
- Deir al-Balah menunjukkan 50% bangunan rusak
- Rafah, yang saat ini menampung banyak pengungsi Palestina, melaporkan 49% bangunan tidak dapat digunakan
Secara keseluruhan, 60% bangunan di seluruh Jalur Gaza telah rusak atau hancur. Perkiraan pada bulan Oktober menyebutkan ada 128.000 bangunan rusak – jumlah ini terus bertambah secara signifikan.
NBC juga melaporkan bahwa utusan Timur Tengah yang akan datang, Steve Witkoff, sedang mempertimbangkan kunjungan ke Gaza, karena ia berupaya mempertahankan kesepakatan gencatan senjata yang baru lahir yang dijadwalkan dimulai pada hari Minggu (19/1/2025).
“Anda harus melihatnya, Anda harus merasakannya,” kata pejabat transisi tersebut, seraya menambahkan bahwa dengan melakukan hal tersebut, Witkoff akan dapat melihat sendiri dinamika yang terjadi di lapangan, dibandingkan hanya mempercayai kata-kata Israel dikutip dari NBC News, Senin (20/1/2025).
Witkoff sedang mempertimbangkan perjalanan ke Gaza, karena ia berencana untuk mempertahankan kehadirannya secara konstan di wilayah tersebut selama beberapa minggu dan bulan mendatang, mengingat betapa rapuhnya kesepakatan tersebut, kata NBC, masih mengutip satu-satunya pejabat transisi yang tidak disebutkan namanya.
“Ingat, ada banyak orang, radikal, fanatik, tidak hanya dari pihak Hamas, dari sayap kanan Israel, yang benar-benar diberi insentif untuk menghancurkan seluruh kesepakatan ini,” kata pejabat transisi tersebut, yang jarang melontarkan kritik terhadap Israel, meskipun tidak disebutkan namanya.