Ilustrasi - BMKG mengingatkan potensi hujan lebat di hampir seluruh wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) — Dalam beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi melanda berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah daerah seperti Sumatera, Jawa bagian barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya dilaporkan mengalami hujan intens.
Catatan BMKG menunjukkan beberapa titik bahkan diguyur hujan sangat lebat hingga ekstrem, seperti Sumatera Utara dengan intensitas 166 mm/hari, Bali 117,7 mm/hari, dan Maluku Utara 104 mm/hari.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca basah ini dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer skala global hingga lokal yang aktif bersamaan.
Dalam periode sepekan mendatang, sejumlah pola atmosfer diperkirakan akan memperkuat potensi terbentuknya awan hujan di banyak wilayah Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:
1. Gelombang Atmosfer Aktif
Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuator, serta pola MJO spasial diprediksi memberikan pengaruh pada atmosfer di beberapa kawasan, seperti: - Sumatera, - Jawa, - Bali, - NTB–NTT, - Kalimantan, - Sulawesi, - Maluku dan Maluku Utara, - Papua.
Aktivitas gelombang ini mendorong peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan intens.
2. Indeks Iklim Global Mendukung Pembentukan Awan Hujan
Sejumlah parameter iklim global menunjukkan kondisi yang mengarah pada peningkatan curah hujan:
- DMI bernilai -0,46 → memicu pertumbuhan awan di Indonesia bagian barat. - Nino 3.4 sebesar -0,91 & SOI +9,4 → menandakan La Niña lemah yang mendukung intensifikasi hujan di wilayah timur Indonesia. - Penguatan Monsun Asia, dengan indikator WNPMI signifikan → suplai uap air dari Samudra Hindia meningkat tajam.
Kombinasi faktor ini memperkuat potensi hujan di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama pada sore hingga malam hari.
Meski MJO berada pada fase 7 yang biasanya tidak berpengaruh besar terhadap curah hujan Indonesia, keaktifannya tetap berinteraksi dengan Gelombang Kelvin dan Rossby. Ketiganya diperkirakan memperkuat potensi hujan lebat di wilayah:
- Sumatera bagian barat,
- Lampung,
- Banten,
- Jawa Barat bagian barat,
- DKI Jakarta.
BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 93W yang berada di timur laut Filipina, dengan karakteristik: kecepatan angin maksimum 30 knot (56 km/jam) dan tekanan udara: 1003 hPa.
Bibit siklon ini memang tidak masuk ke wilayah Indonesia, namun efek tidak langsungnya membuat hujan berpotensi turun lebih lebat di kawasan Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Selain itu, sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan memicu terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi angin di sekitar Laut Natuna, yang turut memperparah pembentukan awan hujan.
Kelembapan udara yang tinggi, ditambah pemanasan permukaan pada siang hari, meningkatkan peluang terjadinya hujan intens yang bisa disertai kilat/petir, angin kencang, hingga hujan ekstrem di beberapa daerah.
Masyarakat diimbau waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir, area lereng dan tebing yang rentan longsor, serta daerah pesisir dan bantaran sungai. BMKG menyarankan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi yaitu dengan membersihkan selokan dan memastikan drainase tidak tersumbat, menjauhi pohon besar, reklame, atau bangunan tua saat hujan angin dan mengikuti pembaruan cuaca resmi BMKG sebelum beraktivitas di luar ruangan.