“Pertama-tama izinkan saya menyampaikan duka cita mendalam atas bencanabanjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Saya mengapresiasi gerak cepat Kanwil, Kankemenag, para penyuluh, penghulu, madrasah, dan pesantren yang langsung turun membantu masyarakat,” kata Menag.
Pada kesempatan tersebut, Menag menyerahkan total Rp155,5 miliar bantuan kemanusiaan, yang bersumber dari anggaran berikut ini:
- Ditjen Bimas Islam: Rp10,4 miliar (untuk 49 KUA, 61 masjid dan mushola)
- Ditjen Pendidikan Islam: Rp40,85 miliar (untuk lembaga pendidikan Islam terdampak bencana)
- BAZNAS: Rp60 miliar
- Bantuan Forum Zakat (FOZ): Rp31,6 miliar
- Bantuan Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ): Rp11 miliar
- Bantuan Kemenag Peduli: Rp1,7 miliar.
Adapun bantuan tersebut masih akan dilanjutkan melalui proses verifikasi agar penyalurannya tepat sasaran. Penggalangan dana juga masih terus dilakukan melalui kanal ‘Tanggap Darurat Kemenag’.
Menag juga menjelaskan bahwa pihaknya dapat memperoleh data lapangan dengan cepat karena memiliki aparatur hingga tingkat Kantor Urusan Agama (KUA). “Satu keuntungan kita, laporan dari KUA itu detik itu juga sampai ke pusat. Data yang masuk insya Allah valid, karena melalui jejaring KUA, majelis taklim, imam masjid, hingga unit-unit lintas agama di daerah,” jelasnya.
Kemenag, lanjutnya, tengah memetakan kondisi madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan yang terdampak. Kebijakan khusus akan diterapkan sesuai tingkat kerusakan. “Yang sangat parah akan mendapat perlakuan khusus. Kita tidak ingin menambah beban mereka. Sudah tertimpa musibah, jangan ditambah masalah baru,” tegas Menag.
Menag juga mengajak media untuk terus mengambil bagian dalam menyuarakan pesan moral, terutama pada kondisi bangsa yang sedang menghadapi tantangan besar akibat bencana. Menurutnya, kerja sama antara Kemenag dan media sangat penting untuk membentuk ruang publik yang sehat dan penuh empati.
“Bangsa ini memerlukan bahasa agama yang efektif, efisien, dan tepat waktu. Media memiliki peran strategis menyuarakan seruan moral agar masyarakat tetap kuat dan saling peduli,” ujar Menag.
Menag menegaskan bahwa isu ekoteologi sangat relevan dan mendesak untuk dikedepankan. Ia menyebut bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini adalah kerusakan alam akibat perilaku manusia terhadap lingkungan. “Bahasa agama sangat efektif untuk menyadarkan masyarakat betapa pentingnya bersahabat dengan lingkungan. Merusak alam adalah dosa, dan memperbaiki alam adalah amal pahala,” tegasnya.