Tim Syifa bersama kedua temannya saat menyimak argumen dari salah satu tim lawan pada Debat Bahasa Inggris di serangkaian ajang MQKN 2023 yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur, Jumat (14/7/2023). (Foto: Erakini/Akhmad Baihaqi Arsyad)
LAMONGAN, (ERAKINI) – Inihari Jumat (14/7/2023).Waktu menunjukkan pukul 09:15 WIB. Udara pagi mulai terasa pekat. Suasanadi salah satu sisi di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan Jawa Timur, mulai ramai. Orang-orang nampak berkerumun membentuk setengah lingkaran yang hampir penuh memutar dan berjajar di depan sebuah panggung dengan ukuran sekitar 4x6 meter.
Hangat pagi beranjak memanas. Pori-pori wajah mulai terasa dialiri buih keringat dan sedikit minyak.Sesekalibeberapa lelaki yang berjajar tadi memegang rambut, dan beberapa perempuan menutupkan tangannya di atas kerudung. Mereka merespons sentuhan sinar matahari yang tak lagi memberikan kehangatan pagi.
Namun, orang-orang tetap tak mau beranjak. Panasnya sinar matahari tak menggoyahkan sedikitpun posisi mereka berdiri. Mereka nampak melempar pandang ke arah panggung yang telah terisi dua meja yang saling berseberangan sisi. Satu meja di kanan dan satu meja di kiri, dengan masing-masing meja ditemani tiga kursi di belakangnya.
“Peserta berikutnya,” suara perempuan yang lantang keluar dari dua sudut sound yang berada di dua sisi panggung. Itu adalah suara panitera yang menandai pergantian peserta Debat Bahas Inggris di ajang Musabaqah Qira’atil Kutub Nasional (MQKN) 2023.
Seketika Syifa dan kedua temannya melangkahkan kakinya. Mereka berjalan melewati sisi samping panggung. Langkah mereka tegas. Tak ada keraguan sedikitpun. Syifa dan kedua temannya mulai menaiki panggung.
Tiga santriwati lainnya menyusul Syifa dan kedua temannya. Mereka bertiga menaiki panggung dan menempati meja yang berseberangan sisi dengan Syifa. Mereka terlihat siap. Tak sedikitpun wajah memucat tampak dari mereka bertiga. Mereka bertigalah yang akan menjadi lawan Debat Bahasa Inggris Syifa. Mereka akan beradu argumen dengan Syifa dan kedua temannya. Dua meja dan enam kursi telah terisi. Semua mengenakan nomor urut peserta yang melingkar di tubuh mereka. Mereka adalah peserta Debat Bahasa Inggris.
Persiapan selama satu bulan membuat Syifa dan kedua temannya tak ragu sedikitpun. Apalagi, Syifa kesehariannya di Pesantren Insan Cendekia, Payakumbuh, Sumatera Barat telah biasa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Di depan panggung, terpampang foto Syifa dan 5 santriwati lainnya di layar, sekaligus terpampang timer yang menunjukkan angka 45:00:00 pada sisi atas layar. Orang-orang memandang dan sebagian yang lainnya mengangkat ponsel mereka dengan tapilan layar siap menyentuh tombol merah untuk merekam. Tiga dewan hakim dengan selembar kertas penilaian dan satu pena telah siap menorehkan angka nilai dan catatan atas hasil Debat Bahasa Inggris tersebut.
“It’s the time to deliver the argument (Sekarang saatnya menyampaikan argumen),” panitera menunjuk ke arah lawan Syifa. Angka timer di layar mulai bergerak mundur. Salah satu tim lawan Syifa langsung melempar argumen pro mengenai ‘Reformulasi Fikih Zakat dalam Pandangan Santri’. Semua pandangan tertuju padanya. Syifa dan kedua temannya menyimak dengan seksama.
“Ok, it’s enough, (Ok, cukup). It’s your turn to deliver your argument (Sekarang giliran kelompokmu),” ucap panitera sambil menunjuk kelompok Syifa. Syifa mulai menyampaikan argumen di sisi kontra tentang tema tadi dengan begitu lantang. Tak terbata-bata. Tanpa diam jeda. Syifa menyampaikan argumennya dengan cepat dan terdengan seperti bule. Saat Syifa berhenti berucap, seketika sahut tepuk tangan penonton bertebaran. Suasana panas matahari pecah menjadi panas keseruan Debat Bahasa Inggris di panggung. Pertarungan ide dan argumen makin sengit hingga sesi saling tanya jawab mengenai argumen masing-masing. Waktu terus berjalan.
Keseruan perdebatan tim Syifa dan tim lawannya telah menleburkan lamanya waktu 45 menit. Waktu mundur di layar telah menempati angka lima menitan. Dan akhirnya tiba di kesimpulan.
“Ok. It’s over, (Ok. Selesai),” ucap panitera menandai selesainya forum perdebatan Bahasa Inggris antara tim Syifa dan tim lawannya. Tak berselang lama mereka saling mendekat dan bersalaman. Suasana panas perdebatan nyatanya justru membuat mereka menjadi lebih akrab. Keakraban mereka ditandai dengan saling bertukar akun Instagram dan diakhiri foto bersama.
“Alhamdulillah lega. Akhirnya kami bisa tampil menyuarakan pendapat kami. Sekarang kami tinggal berdoa semoga hasilnya terbaik,” ucap Syifa Nafisah (15) dan kedua temannya Tifa Pramavi Aisyah (17) dan Nisey Natania Amiroh (16).
Syifa mengungkapkan, bisa tampil dengan versi terbaiknya setelah satu bulan persiapan. “Sebenarnya temanya sulit dan complicated ya karena masalahnya fikih hukum islam,” ujar Syifa.
Syifa mengatakan, selain dalam pelajaran, dia dan teman-temannya menerapkan bahasa Inggris di keseharian karena Pondok Pesantrennya Bilingual.
“Jadi kami dua minggu full berbahasa Inggris dan dua minggu selanjutnya full bahasa Arab. Begitu bergantian,” katanya.
Selain itu, mereka bertiga mengaku memang suka dengan bahasa Inggris sejak lama. Motivasi kuat mereka untuk berbahasa Inggris salah satunya adalah keinginan untuk kuliah di luar negeri. Disoal mengenai ke Negara mana yang mereka inginkan mereka menjawab.
“Saya ingin ke Australia,” kata Tifa. “Saya juga, Kanada,” “Saya juga,”,sahut Syifa dan Nisey yang hampir bersamaan.
Syifa dan kedua temannya merasa senang berkesempatan mengikuti MQKN 2023 ini. Dalam kesempatan tersebut Syifa mengaku mendapatkan pengalaman baru, banyak teman baru dan banyak ilmu baru.
“Kami jadi bisa menjalin relasi baru. Debat dengan tim lawan yang beda pandangan itu jadi kita punya pandangan baru tentang tema debat menurut pandangan mereka ,gitu,” kata Syifa.
“Apapun hasilnya semoga dapat hasil yang terbaik dan untuk MQKN ke depan semoga ada lagi dengan peningkatan yang lebih baik lagi,” pungkas mereka.
Para Peserta Debat Tampil Memuaskan
Salah satu dewan hakim Debat Bahasa Inggris, Arif Maftuhin mengugkapkan, secara umum peserta MQKN 2023 pada cabang lomba Debat Bahasa Inggris sudah cukup memuaskan penampilannya.
“Penampilan mereka memuaskan, karena dilihat dengan topiknya yang berat sementara anak anak itu levelnya SMA dan menggunakan bahasa Inggris,” ungkapnya.
Menurutnya, dari semua kelompok yang sudah tampil dari awal sampai hari ini, Jumat (14/7/2023), lanjutnya, para peserta sudah melakukan improvisasi dengan cukup baik.
“Kalau saya mau ngasih bintang satu sampai lima, itu sudah sampai bintang 4 lah. Jadi anak anak ini sudah improvisasi,” katanya.
Dia berharap, potensi yang ada seperti ini terus dikembangkan oleh pihak pesantren.
“Karena bahasa Inggris itu adalah bahasa ketiga di pesantren, tentu itu harusnya segala potensi yang sudah ada ini terus dikembangkan karena ada potensi besarnya,” ujarnya.
Satu dewan hakim Debat Bahasa Inggris lainnya, Atun Wardatun mengungkapkan, setelah melihat jalannya lomba Debat Bahasa Inggris dia bisa menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan antara santri putra dengan santri putri. “Karena malah yang putri itu lebih ekspresif, mereka lebih tenang, logikanya bagus tapi ekspresif. Jadi, ada beberapa group yang isinya santriwati yang bagus sekali,” ungkapnya.
Keberanian mengungkapkan pendapat atau argumen ini, menurutnya, bisa menjadi salah satu contoh yang menepis pandangan bahwa pesantren itu mungkin masih mendahulukan putra ketimbang putri. “Itu mungkin sepuluh tahun yang akan datang antara putra dan putri itu bisa jadi setara. Karena kita pengennya sih tidak bu nyai itu lebih dulu atau kiai lebih dulu. Pengennya paralel, equal karena ini juga yang menjadi isu di dunia pesantren,” ujarnya.