Jurus Baru Tak Biasa, Pemerintah Semprotkan 1,5 Ton Es Kering Atasi Asap Beracun Karhutla
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Pemerintah mulai menguji jurus baru yang tak biasa untuk mengatasi kabut asap beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebanyak 1,5 ton es kering atau karbon dioksida padat akan disebarkan dari pesawat di atas Sumatera Selatan, salah satu wilayah yang paling parah terdampak asap.
Uji coba yang dijadwalkan berlangsung Kamis (15/10/2026) ini menjadi langkah eksperimental pemerintah untuk mengurai kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia di tengah musim kebakaran yang disebut sebagai yang terburuk dalam satu dekade terakhir.
Kondisi tersebut diperparah fenomena El Nino yang lebih kuat dari biasanya, sehingga memperpanjang kekeringan dan membuat api semakin sulit dipadamkan.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menjelaskan, penyebaran es kering berbeda dari metode modifikasi cuaca yang selama ini dilakukan melalui penyemaian awan atau cloud seeding.
Jika penyemaian awan bertujuan memicu hujan dengan membantu pembentukan kristal es di dalam awan, penggunaan es kering dalam uji coba ini ditujukan untuk mengurai kabut asap di lapisan atmosfer bawah agar dapat naik ke lapisan yang lebih tinggi.
“Jika uji coba ini berhasil, kami akan melanjutkannya di wilayah lain yang menjadi pusat kabut asap, seperti Kalimantan Tengah dan sekitarnya,” kata Dudung.
Presiden Prabowo Subianto telah meminta seluruh instansi terkait meningkatkan upaya pemadaman karhutla sekaligus menekan dampak kabut asap beracun yang menyebar dari titik-titik kebakaran.
Selain uji coba es kering di Sumatera Selatan, pemerintah juga menjadwalkan operasi penyemaian awan di Kalimantan Tengah pada Kamis dan Jumat untuk membantu memicu hujan.
Di lapangan, petugas pemadam kebakaran masih berjibaku mengendalikan api yang terus meluas. Puluhan helikopter juga dikerahkan untuk mendukung pemadaman dari udara.
Namun, upaya tersebut menghadapi kendala serius. Jarak pandang yang memburuk akibat pekatnya kabut asap terkadang mengganggu operasi udara, sehingga memperumit penanganan kebakaran.
Asap Merembet ke Negara Tetangga
Dampak kabut asap paling dirasakan warga di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera Selatan. Langit di berbagai kota berubah menjadi kuning kecokelatan, sementara kualitas udara memburuk hingga mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan.
Polusi bahkan terbawa angin melintasi perbatasan menuju Singapura dan Malaysia, memicu kekhawatiran terhadap dampak kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Di Malaysia, sejumlah wilayah yang terdampak parah, termasuk Kuala Lumpur dan Johor Bahru, turut menjalankan operasi penyemaian awan. Bulan lalu, Indonesia memberikan izin kepada otoritas Malaysia untuk memasuki wilayah udara Indonesia guna melakukan operasi modifikasi cuaca di sepanjang perbatasan kedua negara.
Lebih dari 900 Ribu Hektare Lahan Terbakar
Besarnya krisis karhutla tergambar dari data platform pemantauan hutan independen Nusantara Atlas. Sepanjang 2026, lebih dari satu juta titik panas kebakaran tercatat di Indonesia, dengan luas lahan terbakar hampir 900.000 hektare.
Praktik pembakaran vegetasi untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan turut menjadi sorotan. Metode tersebut kerap dipilih karena dianggap sebagai cara murah untuk membersihkan lahan dalam skala luas, tetapi berisiko memicu kebakaran yang meluas dan menghasilkan kabut asap berbahaya.
Polri telah menetapkan lebih dari 200 orang dan sembilan perusahaan sebagai tersangka terkait kebakaran tersebut.
Di tengah meluasnya dampak karhutla, uji coba es kering menjadi salah satu upaya tambahan pemerintah untuk menangani kabut asap. Namun, efektivitas metode eksperimental ini masih harus dibuktikan melalui hasil pengujian di lapangan.

















