Ilustrasi - Hari ini, Senin 27 Mei 2024 bertepatan dengan peringatan Hari Jamu Nasional tahun ini. Jamu telah resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia. (Foto: Freepik)
JAKARTA, (ERAKINI) - Hari ini, Senin 27 Mei 2024 bertepatan dengan peringatan Hari Jamu Nasional tahun ini. Jamu telah resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) dari Indonesia yang diumumkan pada 6 Desember 2023 lalu.
Kini, jamu telah menjadi tak benda dari Indonesia ke-13 yang masuk dalam daftar . Bagaimana sejarah Jamu di Indonesia hingga ditetapkan sebagai ?
Sejarah Jamu di Indonesia
Jamu merupakan minuman khas Indonesia yang berkhasiat sebagai minuman kesehatan. Biasanya digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit.
Dilansir dari laman Jalur Rempah Kemdibud, jamu terbentuk dari gabungan kata ‘Jawa’ dan ‘ngramu’ (yang memiliki arti mencampur atau mengumpulkan), dan secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “ramuan yang dibuat oleh orang Jawa” atau “ramuan yang berasal dari Jawa”.
Namun versi lain menyebutkan kata jamu berasal dari dua kata Jawa Kuno, yaitu kata 'Djampi' (jampi) yang bermakna penyembuhan atau doa dan 'Oesodo' (usodo) yang berarti kesehatan, sebagaimana dilansir dari situs Indonesia.go.id
Jamu sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Budaya Jamu dipercaya telah ada sejak abad ke-8 yang ditemukan pada relief di Candi Borobudur dan manuskrip-manuskrip kuno lainnya.
Hal ini dibuktikan melalui ilustrasi yang mirip dengan proses pembuatan jamu di berbagai situs, seperti situs arkeologi Liyangan, relief di candi-candi, serta prasasti Madhawapura yang menyebutkan istilah peracik jamu dengan sebutan “Acaraki”.
Hingga era kolonial, perkembangan jamu sebagai minuman dan ramuan herbal terus berlangsung. Menariknya, mengutip dari National Geographic Indonesia, pada abad ke-17 seorang ilmuwan bernama Jacobus Bontius menggunakan jamu untuk mengobati Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.
Saat ini, seiring perkembangan zaman, mulai banyak ragam varian jamu yang telah diracik. Namun jamu yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah jamu gendong. Disebut jamu gendong karena dijual dengan cara menggendong bakul yang berisikan botol-botol jamu. Konon, pelopor istilah jamu gendong berasal dari daerah Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Ditetapkan sebagai Warisan BudayaUNESCO
Disebutkan tim riset jamupedia dan gabungan pengusaha (GP) jamu, secara historis jamu telah terbukti sebagai pengetahuan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi.
Lantaran hal ini membuat jamu menjadi buah perjalanan sejarah peradaban masyarakat yang tidak dapat dilepaskan dari tali-temali kebudayaan Nusantara.
Dilansir dari laman Kemlu.go.id, UNESCO resmi menetapkan Jamu sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia yang telah diumunkan saat sidang ke-18 Intergovermental Committee for the Safeguarding of the Intangible CUltural Heritage di Republik Botswana yang dilangsungkan pada tanggal 6 Desember 2023 lalu.
Atas hal itu, jamu kini telah menjadi warisan budaya tak benda dari Indonesia ke-13 yang masuk dalam daftar UNESCO.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Hilmar Farid pada suatu kesempatan sebelumnya sempat menyampaikan bahwa jamu berhasil meraih gelar WBTB sejak 7 April 2022 lalu didaftarkan untuk kategori tersebut.
Menurut Hilmar, seperti halnya budaya Indonesia yang lain, jamu adalah warisan budaya yang harus dijaga kelestariannya. Jamu terbukti secara historis sebagai pengetahuan asli bangsa Indonesia yang telah digunakan selama ribuan tahun dari generasi ke generasi.
Dengan dijadikannya jamu sebagai warisan budaya di UNESCO, diharapkan generasi muda Indonesia terus bersama-sama melestarikan budaya sehat jamu untuk masa depan.