Dark
Light
Dark
Light
Top Banner

Puisi-Puisi Mh. Dzulkarnain

Puisi-Puisi Mh. Dzulkarnain

Lampu-Lampu Kota

Kuning remang-remang
menyoroti kursi dan pejalan kaki

Laron-laron pada menghampiri
baginya lampu-lampu kota adalah tuhan terindah

Bila jam satu malam
apalagi ditambah gerimis ataupun hujan

lampu-lampu kota itu menyihir puisi-puisiku
dengan namamu

Bandung, 2024

Di Gazebo Itu

Di gazebo itu
aku duduk bersandar menghisap waktu
memeras ampas kata dari hujan yang berjatuhan

Dingin.
ya, begitulah romantika hujan
pada setiap tubuh yang rindu pelukan

Di jendela mataku, terlihat
sore kehilangan senja
ia bersedih pada dedaunan, pada halaman,
pada jalanan, pada tanah lapang
dan padaku juga ia geram

Katanya, tak ada lagi sepasang kekasih
yang saling bercumbu di pangkunya.
tak ada tamu apalagi temu antara mereka
tinggal hening yang bising di telinga

Di gazebo itu
hujan beranjak dan meninggalkan anak sajak

Bandung, 2024

 

Rumah

Pada tembok dan atap yang disusun doa-doa
aku berlindung dari panas dan dinginnya kota

Biarlah tak ada kamar dan dapur
yang buat aku nyenyak dan kenyang
setidaknya ia tempat untuk aku menampung halu dan rindu
yang meluap-luap ke pemukiman

Biarlah tak ada meja dan kursi
yang biasa menyambut kedatangan atau kepulangan kekasih
mungkin teras panjang dan tikar daun siwalan
terasa cukup untuk menemani setiap persinggahan

Biarlah tak ada pintu dan jendela
yang biasa ditutup dan dibuka paksa
sebab aku ingin angan dan angin keluar-masuk lebih ramah
dan lebih nyaman dari biasanya

Inilah rumah yang kubangun di kepala
yang penghuninya cuma kita

Bandung, 2024

 

Utopia pada Tubuhmu

Di tubuhmu
aku ingin narasi lebih lama
aku ingin sedih lebih ramah
dan aku tak ingin kapal-kapal itu berlabuh padamu
cukup aku dan perahuku

Tuhan yang bersemayang di pelipis matamu
menolak nyenyak malam-malamku

mungkin, aku bakal tanggal dalam pelukanmu
tempat tersorga bagi tubuh-tubuhku

Bandung, 2024

Euforia Tahun Baru

Pada detik yang melingkar
sumbu dan arang-arang mulai dibakar
kembang api pun meletus di kepala
bersamaan dengan doa-doa yang di panggang di atas bara

Di sana, di lorong-lorong kota
lampu-lampu menjadi saksi jumpah-pisah
antara halu dan yang baharu
bak sampan yang lepas dari pelabuhan
disambut ikan dan lokan-lokan

Panggung-panggung yang dibangun derita
mempertunjukkan orang-orang bersorak-ria
melambai-lambaikan tangan
entah itu sedang senang atau minta pertolongan

Padahal, kami belum tahu pasti
hidangan apa yang bakal kau suguhkan pada kami
di atas meja hanya meratap kekosongan
mengharap zam-zam dan kurma nabi
malah datang tuak dan daging babi

Ternyata, adanya euforia
meredam suara sirene dan jeritan di langit Gaza

Bandung, 2024

Anatomi Buku Jokpin
:sepotong hati di angkringan

Di atas meja kecil
tubuhnya tampak mungil
bersanding laptop dan pensil
tak ada rak atau ranjang buatnya bermalam
memang aku sengaja, padanya
biarlah tau juga
cara bersesuci dengan sepi

14 x 20 cm dan 95 lembar kaca
:sekilas begitulah bentuk tubuhnya yang molek
kucoba peluk, cium dan membelainya
hingga ke ceruk dada,
hangat begitu terasa.

Ah, sungguh memang seksi buatanmu, Jokpin

Bandung, 2024

Mh. Dzulkarnain
Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kelahiran Sumenep Madura.
Menyukai puisi sejak nyantri di PP. Annuqayah. Karya-karyanya dapat dijumpai di beberapa media cetak dan online.

Kontributor Puisi:
- Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-11 KHATuLISTIWA (Jakarta-2021),
- Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-12 RAJA KELANA (Jakarta-2022),
- Antologi Puisi Dari Negeri Poci Ke-13 KULMINASI (Jakarta-2023)
- Antologi Puisi Nusantara (Indonesia-Malaysia-Singapura) ‘Identitas, Kemanusian, Kampung Halaman’ (2023).

Sastra Terkini