Untuk pertama kalinya di Piala Dunia 2026, Haaland berhasil diredam. Meski Norwegia harus tersingkir setelah kalah dari Inggris di perempat final, sang penyerang tetap bangga. Foto: FIFA.com
JAKARTA, (ERAKINI) - Untuk pertama kalinya di Piala Dunia 2026, Erling Haaland berhasil diredam. Meski Norwegia harus tersingkir setelah kalah dari Inggris di perempat final, sang penyerang tetap memandang turnamen ini sebagai tonggak penting bagi perkembangan timnya.
Demi mengamankan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026, Inggris melakukan sesuatu di Miami pada Minggu (12/7) yang belum pernah mampu dilakukan lini pertahanan mana pun sebelumnya, yakni menghentikan Erling Haaland. Dalam kemenangan 2-1 setelah perpanjangan waktu, Jude Bellingham menjadi pahlawan dengan mencetak dua gol yang membalikkan keadaan.
Penyerang yang sebelumnya meneror empat lawan berturut-turut dengan mencetak tujuh gol ke gawang Irak, Senegal, Pantai Gading, dan Brasil itu akhirnya gagal mencetak gol untuk pertama kalinya di turnamen ini. Dampaknya langsung terasa. Di situlah perjalanan Norwegia berakhir.
Haaland ditarik keluar dalam kondisi kelelahan sebelum pertandingan usai, tepatnya pada akhir babak pertama perpanjangan waktu. Bagi sebagian besar pemain elite, kekalahan setelah sempat unggul dan tersingkir di perempat final mungkin membuat mereka memilih diam. Namun, Haaland berbeda. Ia justru menghampiri mikrofon untuk memberikan wawancara usai pertandingan dan mengakhiri Piala Dunia pertamanya dengan senyuman.
"Semua ini terasa begitu luar biasa. Saya rasa pengalaman ini telah mengubah saya sebagai pribadi," ujarnya, dilansir FIFA.com.
"Saya pikir profil saya juga sedikit meningkat. Sulit rasanya mencerna semua yang telah terjadi ketika mengingat kembali setiap pertandingan. Namun, bisa menjadi bagian dari ajang seperti ini sungguh istimewa. Dulu saya hanya menyaksikannya dari luar, sekarang saya mengalaminya sendiri."
Haaland mengaku sangat bangga dan benar-benar terharu ketika memikirkan penampilan negaranya di turnamen ini. Ada persatuan yang terbangun di Norwegia, serta semangat dan kebahagiaan yang dirasakan, baik di tanah air maupun di negara tuan rumah penyelenggara.
Menghadapi penyerang seperti Haaland bukanlah tugas satu orang. Bukan hanya karena kekuatan fisiknya, tetapi juga naluri tajamnya dalam menentukan hasil pertandingan meski tidak banyak menyentuh bola.
Seluruh lini belakang harus fokus penuh. Mereka harus mampu mengantisipasi pergerakannya sekaligus menutup ruang-ruang yang biasa dimanfaatkannya. Itulah yang berhasil dilakukan Inggris.
Di balik keberhasilan tersebut, peran Marc Guehi dan John Stones menjadi sorotan. Dua rekan setim Haaland di Manchester City itu memanfaatkan pemahaman mereka terhadap karakter permainan sang striker sebagai keuntungan taktis.
Saat ditarik keluar pada babak tambahan waktu, catatan statistik Haaland menunjukkan dua tembakan tepat sasaran, sembilan umpan dengan tujuh yang berhasil diselesaikan, serta jarak tempuh 8,9 kilometer.
Bandingkan dengan penampilannya saat Norwegia secara mengejutkan menyingkirkan Brasil di babak 16 besar. Ketika itu ia melepaskan empat tembakan, mencatat 11 umpan yang seluruhnya akurat, dan menempuh jarak 10,1 kilometer.
Di atas kertas, angkanya memang tampak tidak jauh berbeda. Namun, memberi Haaland dua peluang tambahan saja bisa menjadi pembeda yang membuat Brasil tersingkir. Pada laga perempat final, raksasa Norwegia itu hanya mampu melepaskan dua sundulan. Satu berhasil ditepis Jordan Pickford, sementara satu lagi melenceng dari sasaran.
Selain itu, terlihat jelas bahwa ruang geraknya jauh lebih terbatas, meski ia bermain 15 menit lebih singkat dan Norwegia meninggalkan pendekatan serangan balik yang mereka gunakan pada sebagian besar babak pertama di Miami. Bagi Stones dan Guehi, misi mereka dapat dikatakan berhasil.
Apakah itu berarti Haaland kini akan mendukung dua rekan setimnya di Manchester City dan berharap Inggris menjadi juara? Ia hanya tersenyum tipis sambil mengakui bahwa jawabannya tidak sesederhana itu.
"Saya memang punya rekan-rekan dari City di sini. Saya juga tumbuh besar di Inggris, dan jersey pertama yang pernah saya miliki adalah jersey timnas Inggris. Inggris adalah negara yang spesial. Tapi saya juga punya rekan setim dari Prancis dan Spanyol," katanya.
Di balik suasana hangat dan optimisme itu, pikiran Haaland sudah tertuju ke masa depan. Ia berbicara layaknya pemain yang telah merasakan atmosfer Piala Dunia dan ingin kembali mengalaminya.
"Kami membuktikan bahwa kami mampu mengalahkan salah satu tim terbesar di dunia, Brasil. Memang pada akhirnya kami kalah dari Inggris, tetapi kami membuat mereka bekerja sangat keras untuk menang," tandasnya.
"Mungkin hasilnya bisa saja berbeda. Kami masih memiliki Piala Dunia dan Piala Eropa berikutnya. Sekarang saatnya kami benar-benar menegaskan posisi sebagai tim yang patut diperhitungkan. Kami memiliki generasi pemain yang luar biasa," tukasnya.