Arsenal membawa misi balas dendam saat terbang ke PSG untuk melakoni leg kedua semifinal Liga Champions, Kamis (8/5/2025) dini hari pukul 02.00 WIB. Foto: Ilustrasi/arsenal.com
PARIS, (ERAKINI)) - Arsenal membawa misi balas dendam saat terbang ke Paris Saint-Germain (PSG) untuk melakoni leg kedua semifinal Liga Champions, Kamis (8/5/2025) dini hari pukul 02.00 WIB. Skuad asuhan Mikel Arteta wajib membalikkan defisit 0-1 demi mengamankan tiket final pertama dalam 19 tahun terakhir.
Pada leg pertama, gol cepat Ousmane Dembele pada menit ke-4 menjadi hasil akhir di Emirates Stadium, sekaligus membawa PSG mencatat kemenangan perdana atas Arsenal dalam enam pertemuan.
Kini, The Gunners optimistis bisa mencatat sejarah dengan meraih kemenangan tandang kelima beruntun di Eropa, sekaligus melaju ke final yang akan digelar di Munich pada 31 Mei melawan Inter Milan.
Namun, sejarah tidak berpihak pada Meriam London. Dari lima pertandingan, Arsenal belum pernah bisa membalikkan keadaan setelah kalah di kandang pada leg pertama kompetisi Eropa.
Meski begitu, Mikel Arteta tetap optimistis. Hanya, timnya harus melakukan sesuatu yang beda dan luar biasa. “Kami hanya satu kemenangan lagi dari final Liga Champions. Kami datang ke kota yang indah, melawan tim hebat,” ujar Arteta dalam konferensi pers, dikutip dari laman resmi klub, arsenal.com.
“Jika ingin berada di final Liga Champions, Anda harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Kami datang ke Paris untuk mencatat sejarah. Mari kita buktikan semuanya di atas lapangan. Menang trofi adalah soal berada di tempat dan waktu yang tepat,” sambungnya.
Jelang laga, Arsenal mendapat kabar baik dengan kembalinya Jurrien Timber dan Riccardo Calafiori ke sesi latihan. Thomas Partey juga kembali tersedia setelah absen di leg pertama karena skorsing. Namun, Jorginho, Kai Havertz, Gabriel Jesus, dan Takehiro Tomiyasu masih absen karena cedera.
Di kubu tuan rumah, Pelatih PSG Luis Enrique menegaskan timnya tetap percaya diri. Ia mengaku tidak membuat banyak perubahan strategi pada leg kedua ia. Ia percaya, dengan penampilan seperti di leg pertama PSG akan melaju ke final kedua Liga Champions dalam sejarah klub. Pada final perdana kontra Bayern Munich musim 2019/20, PSG tumbang 0-1 dan gagal mengangkat si kuping besar untuk pertama kalinya.
“Kami ada di sini karena kami pantas. Kami menang di leg pertama dan target kami besok adalah menang lagi. Banyak faktor yang bisa menentukan, tapi kami harus menunjukkan kepercayaan yang telah diberikan para pendukung, baik dalam hal usaha maupun kecerdasan emosional," ucapnya.
“Kami menang di leg pertama dan kami datang untuk menang lagi. Kami akan tetap berpegang pada ide permainan kami dan membangun dari kekuatan yang ada,” lanjut Enrique.
Hanya, performa tim Ibu Kota Prancis sedang menurun. PSG hanya menang dua kali dari enam laga terakhir di semua kompetisi. PSG juga mengalami kekalahan beruntun di Ligue 1 untuk pertama kalinya dalam dua tahun.
Setelah kalah 1-3 dari Nice, PSG juga takluk 2-1 dari Strasbourg akhir pekan lalu. Setelah memastikan gelar liga lebih awal, Luis Enrique memang memilih merotasi besar-besaran, dimana hanya menyisakan Joao Neves dari starter di Emirates.
Namun skuad muda gagal mempertahankan rekor tak terkalahkan dalam 39 laga tandang PSG, usai gol bunuh diri Lucas Hernandez dan gol Felix Lemarechal hanya bisa dibalas satu oleh Barcola.
Jelang meladeni Arsenal, PSG mendapat kabar gembira dengan pulihnya Dembele. Sementara bek Presnel Kimpembe dipastikan absen karena cedera kaki. Gelandang Lee Kang-in diragukan tampil usai mengalami cedera di laga akhir pekan lalu.
Fakta dan Statistik Arsenal terbilang sangat produktif musim ini. Total Bukayo Saka dkk telah mencetak 16 gol, rekor tertinggi The Gunners sepanjang sejarah di 21 musim Liga Champions. Arsenal juga ganas di kandang lawan, dimana mencetak tujuh gol di markas PSV Eindhoven, lima gol di Sporting Lisbon, dan dua gol di Santiago Bernabeu untuk mengalahkan Real Madrid dan melaju ke semifinal.
Meski demikian, dalam sejarah Liga Champions hanya tujuh tim yang pernah berhasil lolos ke final setelah kalah di leg pertama semifinal, tiga di antaranya terjadi dalam enam musim terakhir. Pada 2019, Liverpool membalikkan ketertinggalan 3-0 untuk menyingkirkan Barcelona dengan agregat 4-3. Sehari setelahnya, Tottenham Hotspur mencetak gol di detik-detik terakhir untuk menyingkirkan Ajax dan menciptakan final sesama tim Inggris.
Terakhir terjadi dua tahun lalu ketika Real Madrid mencetak dua gol di akhir laga untuk menyingkirkan Manchester City dengan agregat 6-5 dalam duel klasik. Namun, hanya ada dua tim dalam sejarah yang berhasil mencapai final setelah kalah di kandang pada leg pertama semifinal, yakni Ajax saat mengalahkan Panathinaikos pada 1995/96, dan Spurs pada 2019.
Arsenal juga memiliki catatan kurang menguntungkan. Dari 11 laga fase gugur yang dijalani setelah kalah di leg pertama, hanya dua kali berhasil lolos, yakni saat melawan Porto musim 2009/10 dan 2023/24.
Di sisi lain, meski tampil di depan publik sendiri di Parc des Princes, PSG juga memiliki rekor buruk dalam semifinal Liga Champions. Dari tiga laga semifinal yang mereka mainkan di kandang, semuanya berakhir dengan kekalahan, yaitu 0-1 dari Milan (1994/95), 1-2 dari Manchester City (2020/21), dan 0-1 dari Borussia Dortmund (2023/24).
Jadi menarik menantikan laga ini. Apakah Arsenal menjadi tim ketiga yang berhasil membalikkan keadaan dan lolos ke final setelah kalah di kandang pada leg pertama, atau PSG yang akan mengakhiri kutukan kandang di semifinal?