JAKARTA (ERAKINI) – Merayakan hari Perempuan internasional 2026, L’Oreal, menegaskan perannya dalam mendorong kemajuan perempuan dengan ajakan untuk bergerak bersama.
Hal itu diwujudkan dengan menghadirkan rasa aman sebagai fondasi, membuka akses terhadap peluang yang setara, serta memberikan pengakuan atas kontribusi perempuan di berbagai bidang.
Komitmen ini dituangkan melalui program-program sosial korporat dan brand mulai dari L’Oréal Paris StandUp, YSL Beauty Abuse Is Not Love, hingga L’Oréal Beauty For A Better Life yang telah mencapai ratusan ribu penerima manfaat di Indonesia.
Perempuan Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang membanggakan di berbagai bidang, mulai dari jurnalistik, diplomasi, sains, hingga industri kreatif. Di tengah kemajuan tersebut, perjalanan menuju kesetaraan masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.
Secara global, dunia masih membutuhkan sekitar 135 tahun untuk mencapai kesetaraan ekonomi penuh. Untuk mempercepat langkah menuju kesetaraan tersebut, perempuan membutuhkan rasa aman sebagai fondasi, akses terhadap peluang yang setara, serta dukungan yang memungkinkan mereka berkembang tanpa hambatan struktural.
Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oreal Indonesia menyampaikan, “Bagi kami, merayakan perempuan bukan sesuatu yang musiman, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Perempuan bukan hanya mayoritas konsumen kami, tetapi juga karyawan, inovator, dan talenta masa depan yang membentuk arah perusahaan setiap hari. International Women’s Day menjadi momen refleksi dan komitmen untuk terus mendorong kesetaraan yang lebih nyata. Karena itu, kami berupaya menghadirkan tiga hal yang kami yakini penting bagi kemajuan perempuan: rasa aman sebagai fondasi, peluang yang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi dan potensi mereka. Kami percaya, ketika perempuan maju, dampaknya akan dirasakan jauh lebih luas.”
Data CATAHU Komnas Perempuan 2024 mencatat 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di Indonesia sepanjang 2024, meningkat lebih dari 43.000 kasus dibanding tahun sebelumnya. Mayoritas kasus terjadi di ranah personal dengan 309.516 kasus, disusul ranah publik atau komunitas sebanyak 12.004 kasus. Di tengah perkembangan dunia digital, kekerasan berbasis gender juga semakin marak terjadi di ruang online, memperluas risiko yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Dr. Livia Iskandar, M.Sc., Psikolog, Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, menjelaskan bahwa tingginya angka tersebut bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. “Kekerasan berbasis gender berakar pada ketidakadilan berbasis gender, penyalahgunaan relasi kuasa, dan budaya patriarki. Jika diibaratkan pohon, kekerasan yang terlihat hanyalah daun. Akar persoalannya ada pada kurangnya edukasi, ketimpangan relasi, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada korban. Karena itu, pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau.”
Bentuk kekerasan yang dilaporkan pun beragam. Kekerasan seksual menjadi yang paling banyak dilaporkan sebesar 36,43 persen, diikuti kekerasan psikis 26,94 persen, fisik 26,78 persen, dan ekonomi 9,84 persen. Angka-angka ini menegaskan bahwa kekerasan bukan isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, dan dapat terjadi di ranah publik maupun personal.
Untuk mencegah kekerasan di ruang publik, L’Oréal Paris menghadirkan program Stand Up Melawan Kekerasan Seksual di Ruang Publik yang bertujuan meningkatkan kesadaran sekaligus membekali masyarakat dengan langkah intervensi yang aman. “L’Oreal Paris percaya bahwa every woman is worth it. Semua perempuan harus menyadari bahwa dirinya berharga, terbebas dari berbagai bentuk pelecehan yang sayangnya masih menjadi isu utama perempuan di dunia maupun Indonesia,” ujar Rosyanti Chijanadi, Brand General Manager L’Oréal Paris.
Di ranah personal, YSL Beauty bekerjasama dengan Yayasan Pulih menghadirkan program global Abuse Is Not Love untuk meningkatkan kesadaran mengenai kekerasan dalam hubungan berpasangan. Venesia Rizani, Business Unit General Manager YSL Beauty & Armani Beauty menjelaskan, “YSL Beauty adalah brand yang merayakan liberation atau kebebasan. Namun, terkadang kebebasan tersebut terhambat dengan adanya hubungan personal yang mengekang dan merenggut kebebasan tadi–seringkali, tanpa sadar. Melalui Abuse Is Not Love, kami mengedukasi masyarakat mengenai 9 tanda kekerasan dalam hubungan agar orang dapat mengenalinya sejak dini, yaitu: mengabaikan, meremehkan, mengontrol, memanipulasi, mengancam, mencemburui, mengintrusi, mengisolasi, dan mengintimidasi.”
Di saat yang sama, bentuk kekerasan yang paling sering terjadi justru kerap tidak disadari. Agata Paskarista, M.Psi., Psikolog, menjelaskan, “Kekerasan psikis sering luput disadari karena tidak meninggalkan luka fisik. Ia bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius, kasus child grooming dan juga manipulasi menunjukkan bagaimana kekerasan psikis berdampak jangka panjang bagi kehidupan korban. Edukasi tentang tanda kekerasan menjadi kunci agar kekerasan dapat dikenali lebih dini.”
Menjawab kebutuhan tersebut, L’Oréal Indonesia menghadirkan dukungan komprehensif melalui berbagai inisiatif yang dirancang untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan karier perempuan. Melalui Beauty for a Better Life, L’Oréal menyediakan pelatihan tata rambut dan tata rias bersertifikat secara gratis bagi perempuan dengan keterbatasan sosial ekonomi. Sejak 2014 hingga 2023, program ini telah membantu 3.749 perempuan memperoleh keterampilan dan akses kerja sehingga lebih mandiri secara ekonomi.