Perkuat Moderasi Beragama, UIN Banten Dorong Kolaborasi Lintas Agama
Abdul Rahman Ahdori
SERANG, (ERAKINI) - Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten terus memperkuat perannya dalam mendorong moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Mimbar Moderasi Beragama di Auditorium Rektorat Lantai 3 UIN SMH Banten, Curug, Kota Serang, Senin (12/10/2026).
Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-64 UIN SMH Banten. Acara tersebut terlaksana melalui kerja sama dengan Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama (KAUB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
Forum ini menjadi wadah dialog antarpemeluk agama sekaligus mendorong penguatan kerja sama lintas iman di Provinsi Banten.
Rektor UIN SMH Banten, Prof KH Muhammad Ishom, mengatakan bahwa penguatan moderasi beragama saat ini perlu diarahkan pada kolaborasi nyata, bukan hanya sebatas membangun sikap toleransi.
Menurut dia, tingkat toleransi masyarakat Banten sudah tergolong tinggi. Namun, capaian tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kerja sama antarkelompok agama agar kerukunan dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan bersama.
"Kalau berbicara soal toleransi, nilainya di Banten sudah sangat tinggi, bahkan di atas 90. Tetapi kerja sama lintas iman masih berada di bawah angka 60. Karena itu, yang ingin kita dorong sekarang adalah aksi nyata melalui kolaborasi agar angkanya terus meningkat," ujar Prof Ishom.
Prof Ishom menjelaskan, mimbar Moderasi Beragama juga menjadi kesempatan bagi UIN SMH Banten untuk memperlihatkan penerapan nilai-nilai moderasi dalam kegiatan akademik dan proses pembelajaran di kampus.
Sementara momentum Dies Natalis ke-64, ujar Prof Ishom, sekaligus mempertegas posisi UIN SMH Banten dalam mengembangkan moderasi beragama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Lebih jauh, Prof Ishom menilai, moderasi beragama harus diterjemahkan menjadi kegiatan yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk membangun tujuan bersama sebagai sesama manusia.
"Kita ingin membangun kegiatan yang menggugah rasa kebersamaan. Yang kita tonjolkan bukan perbedaannya, tetapi persamaannya. Kita semua memiliki tujuan hidup yang sama sebagai sesama manusia," katanya.
Tak hanya itu, prinsip keterbukaan, ujar Prof Ishom, juga diterapkan dalam kehidupan kampus. UIN SMH Banten memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari berbagai latar belakang agama untuk memperoleh pelayanan yang setara.
"Mahasiswa nonmuslim juga ada di UIN Banten. Mereka mendapatkan pelayanan yang sama seperti mahasiswa lainnya," ujarnya.
Prof Ishom optimistis Banten dapat menjadi rujukan nasional dalam penerapan moderasi beragama. Ia merujuk pada sejarah Kesultanan Banten yang dinilai memiliki pengalaman dalam membangun hubungan dengan kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang.
Terlebih pada masa Kesultanan Banten, penyelenggaraan pemerintahan melibatkan berbagai kalangan, termasuk masyarakat Eropa dan Tiongkok yang memiliki keyakinan berbeda.
"Kita ingin menghidupkan kembali semangat itu agar Banten menjadi role model moderasi beragama melalui kegiatan yang nyata," ucapnya.
Prof Ishom kemudian mendorong generasi muda, terutama Generasi Z, agar terlibat aktif dalam berbagai inisiatif lintas iman. Bentuk keterlibatan itu dapat dilakukan melalui kegiatan sosial, pengabdian kepada masyarakat, hingga program pelestarian lingkungan.
Menurut Prof Ishom, berbagai konflik di dunia yang dipicu perbedaan keyakinan menjadi pengingat bahwa keberagaman seharusnya dirawat sebagai anugerah, bukan dipandang sebagai ancaman.
"Kemajemukan adalah berkah dari Tuhan. Karena itu, mari tingkatkan kerja sama lintas iman agar persatuan Indonesia semakin kuat," katanya.
Sementara itu, Kepala Pusat Moderasi Beragama LPPM UIN SMH Banten, Salim Rosyadi, mengatakan forum tersebut menghadirkan perwakilan majelis agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.
Kehadiran perwakilan enam agama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antarkelompok keagamaan dalam memperkuat kerukunan di Banten.
"Acara ini merupakan hasil sinergi dengan Komisi Hubungan Antar Umat Beragama MUI Pusat. Tujuan utamanya adalah membumikan moderasi beragama melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat," ujar Salim.
Saim melihat perguruan tinggi mempunyai peran penting dalam mengembangkan pemikiran sekaligus menerapkan praktik moderasi beragama. Kampus, menurut dia, tidak cukup hanya menghasilkan gagasan akademik, tetapi juga perlu menghadirkan lingkungan yang terbuka dan menghargai perbedaan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa moderasi beragama di UIN Banten bukan hanya konsep, tetapi diwujudkan dengan merangkul seluruh pemeluk agama yang ada di Provinsi Banten," katanya.
Sedangkan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang, KH Matin Syarkowi, turut menyoroti sejarah panjang kehidupan masyarakat Banten yang dinilainya memiliki modal kuat dalam menjaga kerukunan.
Keberadaan sejumlah bangunan ibadah, seperti kelenteng, vihara, dan gereja yang masih berdiri hingga saat ini, menjadi salah satu gambaran keberagaman yang terpelihara di wilayah tersebut.
"Modal dasar toleransi sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana kita terus meningkatkannya agar menjadi kebutuhan bersama, bukan sekadar kepentingan politik," ujarnya.
KH Matin menegaskan mahasiswa dan kalangan akademisi memiliki tanggung jawab untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya moderasi beragama. Menurut dia, lingkungan perguruan tinggi yang menjadi tempat berkembangnya pemikiran kritis harus mampu melahirkan mahasiswa yang berperan sebagai penggerak edukasi dan perubahan sosial.
"Mahasiswa harus menjadi agen perubahan. Mereka harus mengedukasi masyarakat bahwa moderasi dan toleransi merupakan kebutuhan bersama. Semua agama pada dasarnya membawa pesan perdamaian, kemanusiaan, dan harmoni dalam kehidupan," tuturnya.


















