Foto bersama usai pembukaan PPSL 2026 di UIN Banten (Foto: UIN Banten).
SERANG, (ERAKINI) - Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama (Puspenma) Kementerian Agama (Kemenag) kembali membuka Program Persiapan Studi Lanjut (PPSL) Luar Negeri Tahun 2026. Tahun ini, program tersebut diawali di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten.
Program PPSL Luar Negeri diharapkan dapat meningkatkan peluang dosen muda dan penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan doktoral (S3) di berbagai universitas bergengsi dunia. Berikut lima fakta mengenai Program Persiapan Studi Lanjut Luar Negeri 2026:
1. Diikuti 30 peserta
Pembukaan PPSL Luar Negeri 2026 digelar secara hybrid di Aula Gedung Training Center PPG Lantai 2 Kampus 2 UIN SMH Banten, Jumat.
Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Rinciannya, 15 peserta hadir secara langsung dan 15 peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring.
Wakil Rektor II UIN SMH Banten, Dr Ali Muhatarom, mengatakan PPSL merupakan program yang diinisiasi Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama (Puspenma).
Program tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan kemampuan akademik yang lebih kuat sehingga memiliki peluang lebih besar diterima di program doktoral universitas terkemuka di luar negeri.
"Program yang diinisiasi oleh Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama (Puspenma) ini ditujukan untuk memfasilitasi dan mempersiapkan para dosen muda serta awardee dalam menembus jenjang doktoral (S3) di berbagai perguruan tinggi ternama luar negeri," ujar Dr Ali Muhatarom dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).
2. Peserta dibekali kemampuan akademik dan mental
PPSL tidak hanya berfokus pada penguatan kompetensi akademik peserta. Peserta juga mendapatkan pembinaan karakter dan kesiapan mental. Bekal tersebut dinilai penting karena mahasiswa yang melanjutkan studi ke luar negeri harus mampu menghadapi tantangan akademik sekaligus perbedaan budaya di negara tujuan.
Kepala Pusat Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, Dr Ruchman Basori, menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor penting untuk menyelesaikan pendidikan di luar negeri.
"Menjalani studi di luar negeri membutuhkan mental baja dan adaptabilitas yang tinggi. Peserta dibentuk agar memiliki kepribadian tangguh yang siap menghadapi tantangan kultural maupun akademik di negara tujuan," kata Ruchman.
3. Dua peserta menerima simbol dimulainya program
Pada seremoni pembukaan, panitia menyerahkan tanda dimulainya PPSL secara simbolis kepada dua peserta. Keduanya yakni Tifany Fergie Tombokan dari IAKN Manado dan Sandi Pradana dari STAI Ma'arif Kalirejo Lampung.
Mewakili peserta, Tifany mengatakan PPSL bukan sekadar pelatihan untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing maupun akademik. Menurut dia, program tersebut menjadi wadah perjuangan bagi dosen muda Indonesia untuk membuka jalan menuju pendidikan tinggi bertaraf internasional.
"Program pelatihan ini bukan sekadar ajang peningkatan skor bahasa atau akademik semata, melainkan wadah perjuangan untuk menembus jenjang pendidikan tinggi di mancanegara," ujarnya.
4. Perluas jejaring antarakademisi
Sementara itu, Sandi Pradana berharap pelatihan tersebut dapat memperluas jejaring antarakademisi dari berbagai daerah. Sandi meyakini relasi yang dibangun selama mengikuti program akan menjadi bekal berharga saat menghadapi proses seleksi hingga menyelesaikan studi di luar negeri.
Menurut Sandi, kolaborasi antarpeserta juga dapat memperkuat semangat untuk saling mendukung dalam meraih beasiswa dan menyelesaikan pendidikan doktor.
5. Lulusan diharapkan berkontribusi setelah kembali ke Indonesia
Setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri dan kembali ke Indonesia, para lulusan PPSL diharapkan dapat berkontribusi melalui penguatan riset, peningkatan mutu pendidikan, serta pengembangan sumber daya manusia di lingkungan perguruan tinggi.