residen Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). Foto: YouTube Prabowo Subianto
KARAWANG, (ERAKINI) - Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan mega proyek Ekosistem Industri Terintegrasi Konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), , Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). Nilai investasi proyek ini mencapai USD6 miliar atau sekitar Rp100 triliun.
"Saya Prabowo Subianto, Presiden RI dengan penuh kebanggaan meresmikan ekosistem Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL. Dengan demikian, saya nyatakan dimulai," ujar Presiden Prabowo dalam pidatonya.
Presiden tiba di lokasi groundbreaking sekitar pukul 13.45 WIB didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruar Sirait, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sementara Wakil Menteri ESDM Yuliot turut menyaksikan acara tersebut secara virtual dari Desa Buli Asal, Halmahera Timur, Maluku Utara, lokasi pengembangan hulu proyek ini.
Prosesi peletakan batu pertama industri baterai listrik di Karawang ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Presiden Prabowo bersama sejumlah pejabat terkait.
Prosesi tersebut turut disaksikan oleh Pemilik Grup Artha Graha Tommy Winata, Dubes China untuk Indonesia Wang Lutong, Menteri Perumahan Maruarar Sirait, CIO Danantara Pandu Sjahrir, dan COO Danantara Dony Oskaria,
Prabowo menegaskan pentingnya proyek ini. Karena itu, ia hadir langsung dalam acara groundbreaking ini. “Biasanya, saya tidak terlalu mau hadir di acara groundbreaking, tapi kali ini saya hadir. Karena, saya sadar betul bahwa acara ini bersejarah dan punya nilai strategis,” kata Prabowo.
Prabowo mengatakan bahwa proyek ini bukan hanya simbol kemajuan teknologi, tetapi juga bagian dari upaya besar Indonesia menuju kemandirian energi dan transisi ke industri ramah lingkungan.
Proyek industri baterai ini merupakan kerja sama antara PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Konsorsium CATL, Brunp, serta Lygend (CBL). Proyek baterai kendaraan listrik ini dikembangkan dari hulu ke hilir dengan total enam subproyek, lima di antaranya berlokasi di Halmahera Timur dan satu di Karawang.
Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), nilai investasi proyek mencapai USD6 miliar mencakup area seluas 3.023 hektare, dengan potensi penyerapan tenaga kerja hingga 8.000 orang, serta pengembangan 18 proyek infrastruktur, termasuk dermaga multifungsi.
Proyek ini juga dirancang ramah lingkungan dengan pemanfaatan kombinasi energi seperti PLTU 2x150 MW, PLTG 80 MW, pembangkit dari limbah panas 30 MW, dan tenaga surya sebesar 172 MWp, termasuk 24 MWp di pabrik Karawang.
Pabrik baterai di Karawang yang berada di atas lahan seluas 43 hektare dioperasikan oleh perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), hasil kolaborasi IBC dengan CBL, anak usaha raksasa baterai dunia Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL).
Pabrik ini ditargetkan memiliki kapasitas awal 6,9 GWh pada fase pertama dan meningkat hingga 15 GWh pada fase kedua. Operasi komersial dijadwalkan dimulai akhir 2026.
Di Halmahera Timur, ANTAM dan Hong Kong CBL Limited (HK CBL) telah membentuk PT Feni Haltim (PT FHT) untuk mengembangkan kawasan industri energi baru yang terdiri atas proyek pertambangan nikel, smelter pirometalurgi dengan kapasitas 88.000 ton refined nickel alloy per tahun (2027).
Selain itu, juga memproduksi smelter hidrometalurgi menghasilkan 55.000 ton Mixed Hydroxide Precipitate per tahun (2028), pabrik bahan katoda Nickel Cobalt Manganese (NCM) sebesar 30.000 ton per tahun (2028), serta fasilitas daur ulang baterai menghasilkan logam sulfat dan lithium karbonat sebanyak 20.000 ton per tahun.