Menteri BUMN Erick Thohir saat rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (19/3/2024). Foto: Dhemas Reviyanto
JAKARTA, (ERAKINI) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir optimistis jumlah perusahaan pelat merah bisa diciutkan hingga menjadi 30 perusahaan saja. Ia akan berusaha mewujudkan itu sebelum lengser.
"Kita masih optimistis, kita menjadi 30 BUMN saja. Kita kurangkan lagi supaya fokus ke jenis-jenis yang kita harus hadir sebagai negara, tidak perlu semuanya," ujar dalam rapat kerja dengan , Selasa (19/3/2024), dilansir dari.
Saat ini Kementerian BUMN terus mendorong konsolidasi untuk memperbaiki tata kelola korporasi. Erick menyebut beberapa yang menjadi pertimbangan adalah pada sektor hotel dan penyedia jasa navigasi penerbangan seperti AirNav.
"Kemarin sempat misalnya apakah BUMN perlu hadir di bisnis hotel, ini yang masih menjadi dinamika. Kita bertahap konsolidasi, seperti AirNav, perlu enggak di kita atau sebaiknya di Kementerian Perhubungan," kata Erick.
Erick menyampaikan, Kementerian BUMN masih memiliki waktu untuk berkonsolidasi hingga Oktober 2024 atau sebelum masa jabatannya berakhir. Kementerian BUMN juga sedang melakukan konsolidasi pada BUMN Karya atau infrastruktur.
Erick meyakini, kinerja BUMN Karya akan lebih efisien dan profesional jika digabungkan. Tujuh perusahaan yang masuk dalam konsolidasi ini yakni PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita (Persero), PT PP (Persero), PT Wijaya Karya (Persero), PT Brantas Abipraya (Persero), PT Adhi Karya (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero).
Sejak awal menjabat pada 2019, Erick telah merencanakan pengurangan jumlah BUMN. Pada Juni 2020, Kementerian BUMN telah mengurangi jumlah entitas BUMN dari 142 perusahaan menjadi 107 perusahaan.
Ini dilakukan sebagai bagian dari program restrukturisasi BUMN, yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja BUMN. Saat ini jumlah perusahaan yang berada di bawah BUMN mencapai 41 korporasi.
Erick menegaskan bahwa BUMN harus memiliki tiga pilar. Pertama, BUMN harus menjadi korporasi yang sehat agar dapat berkontribusi terhadap pendapatan negara melalui pajak dan dividen.
Pilar kedua, BUMN harus memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi. Pilar ketiga, BUMN harus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Apalagi saat ini 92 persen dari total kredit ultra mikro dan mikro di Indonesia disalurkan oleh BUMN
DPR Apresiasi Capaian Dividen
Pada rapat kerja tersebut, anggota Dewan mengapresiasi kinerja Erick Thohir yang berhasil meraih target dividen, meski pandemi Covid-19 sempat menghantam.
"Kita harus apresiasi setelah melalui pandemi ternyata bisa dicapai, dividen tahun lalu," kata Anggota Komisi VI DPR RI Deddy Sitorus.
Dia menilai wajar apabila BUMN masih mengejar angka yang ditargetkan lima tahun lalu. Sebab mayoritas waktu dari lima tahun masa kerja Kementerian BUMN dilalui di era krisis akibat pandemi Covid-19.
Deddy pun berharap struktur yang baik di BUMN tetap dipertahankan “Jangan justru, BUMN yang sudah semakin baik kembali ke titik nol,” ucap dia.
Senada dengan Deddy, anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto juga memberikan apresiasi atas pencapaian laba dan dividen yang berhasil diraih BUMN. Darmadi pun menyampaikan harapan agar BUMN yang profesional dipertahankan.
"Selama ini ada kekhawatiran BUMN jadi ‘bancakan’, tapi di zaman Pak Erick ini bagus. Tapi kekhawatiran itu bisa muncul lagi karena itu butuh SOP (standar operasional prosedur) dan mekanisme agar BUMN yang sekarang sudah bagus bisa tetap dijaga," pungkasnya.