PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) kehilangan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga Rp13 triliun setelah PP Muhammadiyah menarik simpanannya. Foto: MES/Dok
JAKARTA, (ERAKINI) - PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) kehilangan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga Rp13 triliun setelah PP Muhammadiyah menarik simpanannya. Alasan Muhammadiyah memindahkan dananya untuk rasionalisasi dan konsolidasi terkait keuangan organisasi.
Lantas seperti sejarah lahirnya BSI? Hadirnya BSI menjadi sejarah baru bagi industri perbankan di Indonesia. Dikutip dari laman resminya, Kamis (6/6/2024), BSI merupakan bank hasil merger antara PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.
Melalui Surat Keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 04/KDK.03/2021 secara resmi mengeluarkan izin merger tiga usaha bank syariah tersebut pada 27 Januari 2021. Selanjutnya, pada 1 Februari 2021, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan kehadiran BSI.
Penggabungan ini menyatukan kelebihan dari ketiga bank syariah tersebut, sehingga menghadirkan layanan yang lebih lengkap, jangkauan lebih luas, serta memiliki kapasitas permodalan yang lebih baik.
Didukung sinergi dengan perusahaan serta komitmen pemerintah melalui Kementerian BUMN, BSI didorong untuk dapat bersaing di tingkat global.
BSI merupakan ikhtiar atas lahirnya bank syariah kebanggaan umat, yang diharapkan menjadi energi baru pembangunan ekonomi nasional serta berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat luas.
Keberadaan BSI juga menjadi cermin wajah perbankan Syariah di Indonesia yang modern, universal, dan memberikan kebaikan bagi segenap alam (Rahmatan Lil ‘Aalamiin).
Potensi BSI untuk terus berkembang dan menjadi bagian dari kelompok bank syariah terkemuka di tingkat global sangat terbuka. Selain kinerja yang tumbuh positif, dukungan iklim bahwa pemerintah Indonesia memiliki misi lahirnya ekosistem industri halal dan memiliki bank syariah nasional yang besar serta kuat, fakta bahwa Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia ikut membuka peluang.
Dalam konteks inilah kehadiran BSI menjadi sangat penting. Bukan hanya mampu memainkan peran penting sebagai fasilitator pada seluruh aktivitas ekonomi dalam ekosistem industri halal, tetapi juga sebuah ikhtiar mewujudkan harapan Negeri.
Dalam kiprahnya, BSI menjadi bank syariah pertama di Indonesia yang menyediakan layanan Rekening Dana Nasabah (RDN) berbasis online.
BSI mendapatkan persetujuan resmi dari OJK pada 1 Desember 2023 untuk membuka layanan pembukaan RDN secara online. Keberadaan RDN online di industri perbankan syariah tidak hanya menciptakan kemudahan bagi nasabah, tetapi juga menciptakan peluang pertumbuhan bagi BSI.
Daftar pemegang saham PT BS per tanggal efektif penggabungan 1 Februari 2021:
1. Saham Seri A Dwiwarna
Jumlah Saham (Lembar): 1
Nilai Nominal (Rupiah): 500
Persentase: 0%
2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Jumlah Saham (Lembar): 23.740.608.436
Nilai Nominal (Rupiah): 11.870.304.218.000
Persentase: 51,47%
3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Jumlah Saham (Lembar): 10.720.230.418
Nilai Nominal (Rupiah): 5.360.115.209.000
Persentase: 23,24%
4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
Jumlah Saham (Lembar): 7.092.761.655
Nilai Nominal (Rupiah): 3.546.380.827.500
Persentase: 15,38%
5. Masyarakat
Jumlah Saham (Lembar): 4.575.659.628
Nilai Nominal (Rupiah): 2.287.829.814.000
Persentase: 9,91%
Jumlah Modal Dasar
Jumlah Saham (Lembar): 80.000.000.000
Nilai Nominal (Rupiah): 40.000.000.000.000
Modal Ditempatkan dan Disetor
Jumlah Saham (Lembar): 46.129.260.138
Nilai Nominal (Rupiah): 23.064.630.069.000
Persentase: 100%
Saham Dalam Portepel
Jumlah Saham (Lembar): 33.870.739.862
Nilai Nominal (Rupiah): 16.935.369.931.000
Susunan Direksi:
1. Direktur Utama: Hery Gunardi
Lahir di Bengkulu tahun 1962.
Riwayat Pendidikan:
- Doktor Manajemen Bisnis, Universitas Padjadjaran tahun 2021
- Pascasarjana di University of Oregon USA bidang Finance and Accounting tahun 1991
- Sarjana di Universitas 17 Agustus 1945 bidang Administrasi Niaga tahun 1987
2. Wakil Direktur Utama: Bob Tyasika Ananta
Lahir di Surakarta tahun 1963.
Riwayat Pendidikan:
- Master of Finance University di Oregon USA tahun 1989
- Sarjana Universitas Gadjah Mada bidang Akuntansi tahun 1986
3. Direktur Retail Banking: Harry Gusti Utama
Lahir di Palembang tahun 1968.
Riwayat Pendidikan:
- Magister di IPB bidang Manajemen Agribisnis
- Sarjana di Universitas Islam Indonesia bidang Ekonomi
4. Direktur Teknologi Informasi: Saladin Dharmanugraha Effendi
Lahir di Jakarta tahun 1974.
Riwayat Pendidikan:
-S1 Sarjana Bsc Mechanical Engineering, Swinburne University Of Technology Australia
5. Direktur Keuangan & Strategi: Ade Cahyo Nugroho
Lahir di Jakarta tahun 1978.
Riwayat Pendidikan:
- Magister di Rotterdam School of Management, Erasmus University Netherland bidang Bisnis Administrasi tahun 2011
- Sarjana di Universitas Indonesia bidang Akuntansi tahun 2003
6. Direktur Penjualan & Distribusi: Anton Sukarna
Lahir di Bandung tahun 1970.
Riwayat Pendidikan:
- Sarjana di Institut Pertanian Bogor bidang Sosial Ekonomi Peternakan tahun 1994.
7. Direktur Kepatuhan & SDM: Tribuana Tunggadewi
Lahir di Jakarta tahun 1967.
Riwayat Pendidikan:
- Magister di Universitas Indonesia bidang Hukum Bisnis tahun 2002
- Perguruan Tinggi Spesialis di Universitas Airlangga bidang Kenotariatan tahun 1993
- Sarjana di Universitas Indonesia bidang Hukum tahun 1990
8. Direktur Manajemen Risiko: Grandhis Helmi Harumansyah
Lahir di Ngawi tahun 1981.
Riwayat Pendidikan:
- S2 Magister Business Administration, Washington University
- S1 Sarjana Teknik Industri, Universitas Indonesia
9. Direktur Wholesale Transaction Banking: Zaidan Novari
Lahir di Palembang tahun 1967.
Riwayat Pendidikan:
- Magister di Universitas Gadjah Mada bidang Manajemen Keuangan tahun 1999
- Sarjana di Universitas Sriwijaya bidang Ekonomi Studi Pembangunan tahun 1991
10. Direktur Treasury & International Banking: Ari Rizaldi
Lahir di Sanggau tahun 1970.
Riwayat Pendidikan:
- Sarjana di Universitas Andalas bidang Ekonomi Akutansi