Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu tetap optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen pada 2025. Foto: Instagram/@febriokacaribu
JAKARTA, (ERAKINI) – Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2 persen pada 2025. Febrio ogah ikut proyeksi (World Bank) yang memperkirakan laju nasional masih di bawah 5 persen.
Menurut Febrio, proyeksi lembaga internasional tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan arah kebijakan fiskal Indonesia yang kini difokuskan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“World Bank kan enggak tahu (kondisi) tentang fiskal kita. Jadi ya sebagai outsider, itu bagus. Jadi, kita dapat feedback,” ujar Febrio di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2025 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya sebesar 4,8 persen, sedikit naik dari estimasi sebelumnya 4,7 persen. Namun, angka tersebut masih di bawah target pemerintah sebesar 5,2 persen.
Dalam laporan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik disebut masih relatif tinggi. Namun, sejumlah kebijakan yang menjaga pertumbuhan saat ini dinilai belum tentu mampu menopang kinerja jangka panjang.
Bank Dunia juga menilai antangan fiskal Indonesia lebih terkait dengan komposisi belanja pemerintah ketimbang besaran defisit, yang sejauh ini masih sesuai dengan batas fiskal nasional.
Febrio menjelaskan, lembaga internasional seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) kerap menggunakan data makroekonomi yang terbatas.
Sementara pemerintah telah menyiapkan berbagai stimulus fiskal untuk menjaga daya beli dan mendorong investasi. Untuk 2026, ia bahkan optimistis pertumbuhan bisa mencapai 5,4 persen.
Lebih lanjut, Febrio menyebut perhatian lembaga-lembaga seperti Bank Dunia, IMF, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menunjukkan tingginya minat investasi global di Indonesia.
"World Bank itu kan bukan lembaga auditor. World Bank itu ingin investasi di Indonesia. Terus kita tanya, keuntungannya berapa? Ya, kalau terlalu mahal ya kita enggak mau juga. Banyak orang dan lembaga internasional ingin investasi di Indonesia. Makanya mereka pantau terus (ekonomi Indonesia)," bebernya.
Begitu juga OECD yang mewakili negara-negara maju, juga rutin memantau perkembangan ekonomi Indonesia untuk mengidentifikasi peluang investasi baru.
“OECD itu juga perpanjangan tangan dari negara-negara maju. Mereka ingin tahu perkembangan ekonomi kita, makanya mereka rutin mengkaji ekonomi Indonesia,” tambahnya.
Febrio menegaskan, pemerintah menyambut baik perhatian lembaga internasional terhadap perekonomian nasional dan siap menunjukkan sektor-sektor potensial yang dapat menarik investasi lebih besar. “Artinya mereka ingin investasi. Kita akan tunjukkan peluangnya dan berikan dukungan di beberapa sektor,” tandasnya.