Organisasi negara produsen minyak, OPEC+, mulai menyuarakan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, di tengah semakin memanasnya perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran. Foto: arnnewscentre
JAKARTA, (ERAKINI) — Organisasi negara produsen minyak, OPEC+, mulai menyuarakan kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, di tengah semakin memanasnya perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran.
Dalam pertemuan panel terbaru, OPEC+ menyoroti meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi yang dinilai berdampak langsung pada distribusi pasokan dunia.
Dalam sebuah dokumen, panel menilai kerusakan infrastruktur energi akibat serangan membutuhkan biaya besar sehingga berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
“Komite menyoroti pentingnya menjaga jalur pelayaran internasional untuk memastikan kelancaran distribusi energi,” demikian isi pernyataan tersebut, dilansir Al Jazeera, Minggu (5/4/2026).
Selain itu, OPEC+ menegaskan bahwa proses pemulihan fasilitas energi yang terdampak tidak hanya mahal, tetapi juga memakan waktu panjang, yang pada akhirnya dapat menekan ketersediaan pasokan secara keseluruhan.
Ancaman Keras Donald Trump
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabungkan dalam satu hari, di Iran,” tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.
“Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu, kalian orang-orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah,” lanjut Trump.
Di tengah ketegangan tersebut, secercah upaya diplomatik mulai terlihat. Iran dan Oman dikonfirmasi telah membuka pembicaraan untuk membahas pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz.
Laporan dari Dubai menyebutkan, dialog kedua negara berlangsung di tingkat pejabat tinggi dan difokuskan pada upaya menjaga keamanan jalur pelayaran, mencegah gangguan di masa depan, serta merancang mekanisme de-eskalasi konflik.
Selat Hormuz merupakan titik krusial dalam perdagangan global. Ketegangan di kawasan ini telah menyebabkan ribuan kapal tertahan, mengganggu arus distribusi minyak dan energi dunia.
Iran memanfaatkan posisi strategisnya di selat tersebut sebagai bentuk “penangkal ekonomi”, meski tidak memiliki kemampuan penangkal nuklir.
Sementara itu, Irak menyampaikan apresiasi kepada Iran setelah kapal tanker minyaknya diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menegaskan kembali sikap negaranya yang menolak perang, dalam pertemuan dengan Duta Besar Iran untuk Irak, Mohammad Kazem Al-Sadeq.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif di tengah upaya internasional untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur vital energi global tersebut.