Perkuat Kemitraan Petani Sawit Perlu Pendekatan Sosiologi Antropologi
Thomas Pulungan
MEDAN, (ERAKINI) - Kemitraan antara perusahaan perkebunan sawit dengan masyarakat, seringkali berakhir dengan konflik. Untuk menghindari hal itu kembali terjadi, perlu pendekatan sosiologi antropologi untuk memperkuat kemitraan di masa mendatang.
Dalam membangun kemitraan maupun sebaliknya menyelesaikan konflik petani sawit dan perusahaan perkebunan, perusahaan seringkali hanya melakukannya lewat jalur hukum formal-regulatori atau pendekatan materiil saja.
"Padahal, bagi masyarakat setempat, sesuatu yang awalnya berupa ide kemitraan namun akhirnya berujung pada konflik antar para pemangku lahan sawit, akan menjadi ancaman terhadap tatanan/ hubungan sosial (sosiologi) dan akan berdampak munculnya krisis eksistensi budaya, gangguan sistem keyakinan, serta ruang hidup masyarakat,” kata Yusak Maryunianta, peneliti sosial ekonomi Universitas Sumatra Utara (USU), dalam Diskusi Uji Publik di Kampus USU Medan, Selasa (15/9/2026).
Diskusi yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) dan USU ini mengangkat tema “Kemitraan Petani-Perusahaan Dalam Membangun Petani Yang Handal dan Kompetitif, Melalui Intensifikasi Lahan dan Industrialisasi.”
Yusak menjelaskan, sebagai langkah
awal menuju kemitraan petani kelapa sawit– perusahaan yang berkeadilan
dan berkelanjutan, pendekatan aspek sosiologi dan antropologi dalam mengenali karakteristik masyarakat setempat perlu dilakukan. Ketika masyarakat pedesaan berhadapan dengan korporasi, maka telaah sosiologi
perlu dititikberatkan pada karakteristik unsur seperti relasi kuasa dan ketimpangan struktur, kelembagaan lokal, dinamika konflik, serta diferensiasi sosial.
“Secara antropologi, perlu dikenali karakteristik masyarakat lokal, misalnya terkait dimensi non ekonomis dari tanah. Bagi masyarakat adat/lokal, tanah bukan sekadar aset produksi, tetapi memiliki dimensi spiritual (tempat bersemayam leluhur), dimensi historis, dan dimensi sosial sebagai pengikat identitas kolektif. Kehilangan tanah berarti hilangnya kebudayaan dan ruang hidup mereka,” katanya.

















