Kegiatan pembukaan Festival Jateng Syariah di Kota Semarang, Senin (6/8/2026). Foto Eka Setiawan
SEMARANG, (ERAKINI) – Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah menyebut ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) menjadi salah satu sumber ekonomi baru di tengah perekonomian global yang penuh tantangan.
Salah satu untuk mendorongnya adalah penguatan literasinya di lingkungan sekolah. Pembentukan Sekolah Pelopor Ekonomi Syariah (SPES) di Jateng melibatkan 450 guru dan kepala sekolah SMA se-Jateng sudah digarap bersama Dinas Pendidikan Provinsi Jateng.
Kepala Perwakilan BI Jateng M. Noor Nugroho mengemukakan merupakan sekolah yang memasukan nilai dan materi ke dalam kegiatan intrakulikuler.
”Dimasukkan dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Ekonomi,” kata Noor Nugroho saat pembukaan Festival Jateng Syariah di Kota Semarang, Kamis (6/8/2026).
Selain memasukkan materi ekonomi syariah dalam intrakulikuler pelajaran, kata dia, BI juga mendorong terbangunnya budaya halal dan bersih di lingkungan sekolah termasuk pengelolaan kantin sehat, koperasi siswa hingga Unit Pengumpul Zakat (UPZ).
Pengembangan ekosistem ekonomi syariah di Jateng ini juga didukung fasilitasi dari hulu ke sektor hilir. Di antaranya; pendampingan terhadap 44 Rumah Potong Hewan (RPH) dan unggas untuk memperoleh sertifikasi halal, 230 juru sembelih halal, 70 peserta auditor halal hingga 225 pelaku usaha untuk Sistem Jaminan Produk Halal (SJPH).
Sementara, akselerasi sertifikasi halal di sektor hilir di antaranya ada 1.170 UMKM makanan dan minuman yang mendapatkan pendampingan, 14 UMKM furniture atau mebel dan 1 jasa usaha distribusi.
”Jateng punya modal kuat mengembangkan ekonomi syariah, ada pondok pesantren, UMKM, industri halal hingga masyarakat yang makin terbuka gaya hidup halal,” jelas Noor Nugroho.
Dia mengatakan perlu sinergi lintas sektor untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi syariah sebagai potensi baru sumber perekonomian di Jateng.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen yang hadir pada pembukaan festival itu menegaskan ruh dari ekonomi syariah adalah mensejahterakan umat.
”Pembangunan ekonomi di Jateng kita niatkan untuk mensejahterakan masyarakat Jateng, untuk bagaimana orang miskin bisa merasakan manfaat ekonomi syariah di Jateng,” ungkapnya.
Dia juga mengajak masjid untuk difungsikan tak hanya jadi tempat ibadah, namun jadi salah satu pusat perekonomian umat.
”Masjid harus punya usaha, di Sragen ada masjid sewa lahan pertanian, dikelola, hasilnya dikembalikan ke masjid. Saya ingin masjid-masjid di Jateng bisa seperti itu,” tandas Taj Yasin.
Festival Jateng Syariah (Fajar) 2026 sendiri digelar dari 6 Agustus hingga 9 Agustus 2026 di Queen City Mal Kota Semarang sebagai bagian dari rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.
Fajar 2026 yang kali ini mengusung tema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan melalui Sinergi Penguatan Literasi dan Halal Value Chain, menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat literasi masyarakat sekaligus mendorong pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) di Jawa Tengah.
Sejumlah tamu hadir pada kegiatan tersebut, di antaranya dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), OPD Provinsi dan Kota/Kabupaten di Jawa Tengah, Majelis Ulama Indonesia, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), pimpinan pondok pesantren, akademisi, perbankan syariah, lembaga Ziswaf, asosiasi hingga pelaku usaha syariah.