Diketahui, PTN-BH adalah institusi pendidikan tinggi yang didirikan oleh pemerintah melalui badan hukum yang berdiri sendiri. PTN-BH mirip dengan perusahaan BUMN. PTN-BH memiliki otonomi pengelolaan dan keuangan lebih besar daripada PTN biasa.
Berbeda dengan PTN biasa yang dikelola langsung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, PTN-BH memiliki keleluasaan lebih besar dalam mengelola keuangan, menetapkan kebijakan internal, serta mengembangkan program-program akademik dan penelitian.
PTN-BH juga memiliki kemandirian dalam membuka dan menutup program studi. Sementara untuk biaya kuliah, wajib berkonsultasi dnegan menteri terkait. Hanya, PTN-BH dapat mengelola dana dari sumber-sumber pendapatan sendiri, seperti dari hasil kerjasama dengan pihak swasta, layanan pendidikan, dan hasil riset.
Sejumlah kampus besar di Indonesia yang sudah berstatus PTN-BH antara lain Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menelisik sejarah lahirnya Universitas Trisaksi, sebenarnya status PTN-BH ini bukan hal baru. Sebab Universitas Trisakti lahir dibidani langsung pemerintah.
Universitas Trisakti telah menjadi bagian integral dari sejarah pendidikan tinggi di Indonesia sejak kelahirannya. Universitas Trisakti merupakan satu-satunya perguruan tinggi swasta di Indonesia yang didirikan oleh pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) RI Nomor 014/dar tahun 1965, yang ditandatangani Sjarif Thajeb.
Mengutip laman resminya Universitas Trisakti, proses kelahiran kampus ini dimulai dari kehancuran Universitas Respublika pada September 1965, yang dianggap terlibat dalam pergerakan politik Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari puing-puing kampus Respublika itulah maka dibangun Universitas Trisakti, dan secara resmi dinyatakan berdiri pada 29 November 1965.
Yang menarik, nama Universitas Trisakti diberikan langsung Presiden Soekarno pada waktu itu. Bahkan makna Trisakti diambil dari pidato Ir Soekarno, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Pemberian nama Trisakti kepada perguruan tinggi ini dengan harapan agar universitas ini mencerminkan keberdaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan keberanian dalam kebudayaan. Sejak saat itu, Trisakti menjadi tonggak bagi pendidikan yang mencerdaskan dan berdaya saing.
Landasan inilah yang kemudian menjadi tonggak Universitas Trisakti untuk ikut mencerdaskan anak bangsa dalam berbagai aspek, baik kecerdasan intelektual, emosional, spiritual dan kepekaan sosial terhadap sesama, serta kepedulian dalam menjaga lingkungan hidup.
Dalam perjalanannya, Universitas Trisakti terus berkembang. Dari lima fakultas awal kini universitas ini telah memiliki sembilan fakultas yang menyelenggarakan berbagai program studi di tingkat sarjana, diploma, dan pascasarjana.
Lima fakultas awal, yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Teknik yang memiliki empat departemen yaitu Departemen Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro dan Arsitektur.
Saat ini, Universitas Trisakti sudah memiliki sembilan fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknik Lingkungan, serta Fakultas Seni Rupa dan Desain.
Terdapat 23 program sarjana dan lima program Diploma III. Universitas Trisaksi juga memiliki terdapat Program Pascasarjana dengan delapan Program Magister dan dua Program Doktor.
Dalam perkembangannya, Universitas Trisakti tidak terlepas dari berbagai peristiwa penting. Salah satunya tragedi 12 Mei 1998, yang merenggut nyawa empat mahasiswanya. Peristiwa itu menjadi pemicu bagi pergerakan mahasiswa Indonesia dalam menggulingkan Orde Baru, menandai awal dari Era Reformasi.
Sejak itu, Universitas Trisakti yang berlokasi di Jalan Letjen S Parman, Grogol, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, itu dikenal sebagai Kampus Pahlawan Reformasi.