Salah satu momen petualangan Lilie Wijayati Poegiono dalam menaklukkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Foto: Facebook Lilie Wijayati
JAKARTA, (ERAKINI) - Selesai sudah petualangan Lilie Wijayati Poegiono dalam menaklukkan gunung-gunung tinggi di Indonesia. Lilie bersama sahabatnya, Elsa Laksono, meninggal dunia usai menaklukkan Puncak Carstensz Pyramid, Papua.
Lilie Wijayati dinyatakan meninggal dunia karena terkena gejala Acute Mountain Sickness (AMS) saat turun dari Puncak Gunung Carstensz Pyramid pada Sabtu (1/3) sekitar pukul 02.07 WIT. Ia sempat dievakuasi oleh rekan dan guide pendamping di Teras Dua.
Lilie Wijayati yang dikenal dengan sebutan 'Mamak Pendaki' di Instagram, adalah pendaki senior asal Malang. Dalam kesehariannya, Lilie merupakan perancang busana dengan bisnis bernama La Belle Femme (LBF).
Lahir pada 2 Oktober 1965, Lilie telah membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus mengejar impian dan menikmati petualangan. Sejak memulai hobinya mendaki gunung pada usia 18 tahun, Lilie telah berhasil menaklukkan setidaknya 30 gunung di Indonesia, termasuk beberapa gunung tertinggi seperti Gunung Merbabu, Semeru, Rinjani, Kerinci, Bukit Raya, dan bahkan Cartensz .
Sebelum melakukan pendakian ke Puncak Carstensz, ia sempat mengunggah video persiapannya memilih pakaian yang akan digunakan dalam perjalanan tersebut, yang mendapat perhatian banyak pengikutnya.
Lilie memang aktif membagikan berbagai pengalaman pribadinya dalam mendaki melalui media sosial, dan mendapatkan banyak respon positif dari para pengikutnya. Dengan lebih dari 22.000 pengikut di Instagram, setiap unggahannya selalu mendapatkan beragam komentar dan like.
Di balik keberhasilannya menaklukkan gunung-gunung tinggi, Lilie sering berbagi momen nostalgia tentang perjalanan hidupnya, mulai dari masa mudanya hingga tantangan yang dihadapinya sebagai seorang pendaki wanita.
Dalam salah satu unggahannya, ia menulis, "Forever Young? Cuman ikutin trend forever young aja... Tapi senang juga ngumpulin foto-foto masa lalu sampai ketawa-ketawa menertawakan diri sendiri. Sedikit kebahagiaan yang berarti ketika kita bisa menerima keadaan dan segala kondisi kita apa adanya bukan?".
Tak hanya itu, Lilie juga mengenang masa-masa awal pendakiannya yang penuh perjuangan. Ia menceritakan bagaimana pada awalnya ia mendaki dengan perlengkapan yang sangat sederhana, bahkan menggunakan sepatu basket dan celana katun. Namun, meskipun penuh tantangan dan cedera, ia terus menekuni pendakian gunung hingga akhirnya dapat mencapai puncak-puncak gunung yang terkenal.
"Memulai hiking dengan tertatih-tatih, cedera, berdarah-darah deh di awalnya. Tapi ditekuni terus," tulisnya dalam sebuah cerita di Instagram.
Hingga jelang memasuki usia 60 tahun, Lilie masih terus mendaki. Ia melihat setiap langkahnya sebagai pengingat akan perjuangan para pahlawan. Dalam sebuah unggahan penuh semangat, ia menulis, "Torang Indonesia: Berbeda-beda tapi satu. Di usia 59 tahun, aku masih terus mendaki. Setiap langkahku adalah pengingat akan perjuangan para pahlawan. Indonesia, layaknya sebuah pendakian panjang, penuh tantangan, tapi juga keindahan. Mari terus bergandengan tangan, menjaga persatuan dalam keberagaman."
Bagi Lilie, pendakian bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang semangat dan rasa cinta terhadap tanah air. Kehadirannya sebagai "Mamak Pendaki" di dunia pendakian menunjukkan bahwa tidak ada batasan usia untuk terus mengejar impian, serta menginspirasi banyak orang untuk tetap bersemangat dan menjaga keberagaman.
Dengan segala pengalaman dan kisah inspiratif yang dibagikan di media sosial, Lilie Wijayanti Poegiono menjadi bukti nyata bahwa usia hanyalah angka dan semangat petualang tidak mengenal batas.