Lilie Wijayati Poegiono (kanan) dan Elsa Laksono, dua pendaki senior yang meninggal dunia saat menaklukkan Puncak Cartensz Pyramid, Papua. Foto: facebook elsa.laksono
JAKARTA, (ERAKINI) - Kelompok pencinta alam di Indonesia berduka. Dua pendaki senior meninggal dunia saat menaklukkan Puncak Carstensz Pyramid, Papua.
Keduanya adalah Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, keduanya berumur 60 tahun. Lilie merupakan perancang busana di Bandung, sedangkan Elsa seorang dokter gigi di Jakarta.
Lilie Wijayati dan Elsa Laksono diketahui teman dekat sejak SMA di sekolah yang sama, yakni SMA Dempo Malang, Jawa Timur, alumni tahun 1984. Keduanya memiliki hobi yang sama, yakni mendaki gunung.
Kedua pendaki meninggal dunia setelah mengalami Acute Mountain Sickness (AMS). Lantas apa itu AMS? Dikutip dari laman emc.id, Spesialis Kedokteran Penerbangan dr Andyka Banyu Sutrisno, Sp.KP menjelaskan, AMS merupakan suatu kondisi akibat adanya perbedaan karakteristik lingkungan pada ketinggian.
Kondisi ini terjadi akibat adanya reaksi tubuh terhadap berkurangnya kadar oksigen di lingkungan, yang kemudian berpengaruh terhadap sistem saraf pusat sehingga menimbulkan keluhan.
Gejala yang dapat terjadi ketika mengalami AMS di antaranya sakit kepala (gejala utama), mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, rasa lelah berlebih (terutama ketika beristirahat), gangguan tidur, dan pusing. Pada kondisi yang lebih berat dapat menyebabkan terjadinya perdarahan pada retina mata dan menggangu lapang pandang.
Gejala-gejala tersebut dapat muncul dimulai dari beberapa jam disaat pendakian hari pertama. Pada kondisi yang ringan ketika tubuh akhirnya dapat menyesuaikan dengan lingkungan, gejala tersebut dapat hilang secara sendirinya (setelah hari kesatu hingga ketiga).
Walaupun begitu, perlu diketahui adanya kondisi yang lebih mengancam akibat AMS yang berat atau disebut Severe Altitude Sickness (SAS) yang menyebabkan edema paru dan edema serebral. Gejala dari keduanya dapat berupa fatigue yang sangat ekstrim, rasa kantuk berlebih, kebingungan, hilang koordinasi, batuk, dan sesak
Karena itu penting untuk mengetahui pencegahan terjadinya kondisi tersebut baik AMS maupun SAS. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan di antaranya pastikan kondisi tubuh sedang fit sebelum melakukan pendakian.
Kemudian, melakukan aklimatisasi dengan cara melakukan pendakian secara bertahap (tidak terburu-buru untuk mencapai puncak, berikan waktu untuk tubuh menyesuaikan diri khususnya pada pendakian yang mencapai ketinggian lebih dari 2500 meter). Apabila sudah muncul gejala, jangan memaksakan untuk melanjutkan pendakian.
Kronologi Kejadian
Lilie Wijayati dan Elsa Laksono dikabarkan meninggal dunia pada Minggu (2/3/2025). Kabar meninggalnya kedua pendaki bermunculan di WhatsApp Group (WAG) sejumlah organisasi atau kelompok mapala di Indonesia.
Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman membenarkan adanya dua orang yang meninggal dunia dalam pendakian Puncak Carstensz Pyramid.
"Benar ada dua pendaki (perempuan) asal Jakarta dan Kota Bandung (sesuai domisili KTP) meninggal dunia karena mengalami hipotermia," ujar AKBP Billyandha di Timika, dikutip dari Antara.
Kapolres membeberkan, jenazah Elsa Laksono telah dievakuasi ke RSUD Mimika. Sedangkan jenazah Lilie Wijayanti dijadwalkan akan dievakuasi pada hari ini, Senin (3/3).
Ia menjelaskan, Elsa Laksono meninggal dunia saat perjalanan turun dari Puncak Carstenz Pyramid karena indikasi terkena gejala AMS. Elsa langsung dievakuasi ke RSUD Mimika pada pukul 06.10 hingga 09.26 WIT.
Lilie Wijayanti juga dinyatakan meninggal dunia karena terkena gejala AMS saat turun dari Puncak Gunung Carstenz Pyramid pada Sabtu (1/3) sekitar pukul 02.07 WIT, setelah dievakuasi oleh rekan dan guide pendamping di Teras Dua.
Kedua korban dijadwalkan akan diterbangkan ke Jakarta pada hari ini, Senin (3/3), dengan menggunakan pesawat Lion Air. Dalam misi penaklukan Puncak Carstensz Pyramid, juga terdapat 13 orang lainnya. Rombongan sebelumnya dilaporkan ke Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada Minggu dini hari pukul 00.46 WIT dengan status membutuhkan pertolongan evakuasi.
Basarnas memastikan bahwa ke-13 orang pendaki lainnya dalam kondisi selamat, termasuk Fiersa Besari bersama tiga orang warga negara asing (WNA) asal Turki dan Rusia. Fiersa Besari merupakan musisi asal Kota Bandung, Jawa Barat, sekaligus sebagai pegiat kegiatan alam terbuka.
Sebelumnya, para pendaki itu mengalami kondisi berbahaya. Berdasarkan keterangan yang diperoleh tim SAR, hal itu terjadi karena diduga ada anggota tim terkena gejala AMS (acute mountanin sicknes) saat perjalanan turun setelah summit di bawah puncak atau sebelum melintasi lintasan jembatan tali (tyrolean).
Adapun nama-nama pendaki yakni Fiersa Bestari, Indira Alaika, Furki, Poegiono, Saroni, Ludy Hadiyanto, dua WNA Turki, dan satu WNA Rusia. Selain itu, lima orang guide atau pemandu pendakian atas nama Nurhuda, Alvin Perdana, Arlen Kolinug, Jeni Dainga, dan Ruslan. Para korban selamat sudah berada di Basecamp Lembah Kuning.
"Untuk korban meninggal dunia atas nama Elsa Laksono sudah berhasil dievakuasi menggunakan helikopter, termasuk tiga korban selamat. Saat ini sudah ada di RSUD Timika," kata dia.
Wayan menyebutkan, evakuasi dihentikan sementara pada Minggo sore WIR dikarenakan cuaca yang tidak mendukung. Evakuasi akan dilanjutkan kembali pada hari ini terhadap pendaki yang meninggal dunia atas mama Lilie Wijayanti. dan para pendaki yang selamat.
Proses evakusasi ini turut melibatkan tim petugas gabungan dari TNI AD Timika, TNI AL Timika, Brimob Timika, Polsek Tembagapura dan petugas PT Freeport Indonesia.