Nia Dinata sudah tak asing di industri perfilman Indonesia. Namun, siapa sangka Nia Dinata ternyata berasal dari keturunan Pahlawan Nasional. Foto: Instagram/@ibunia
Pemilik nama asli Nur Kurniati Aisyah Dewi ini lahir di Jakarta pada 4 Maret 1969. Nia mewarisi semangat perjuangan dari leluhurnya. Ia adalah cucu dari pahlawan nasionalOtto Iskandardinata dan putri dari Dicky Iskandardinata.
Sekilas tentang Otto Iskandardinata. Otto Iskandardinata adalah Pahlawan Nasional asal Bandung, Jawa Barat. Ia dijuluki Si Jalak Harupat yang kini menjadi nama stadion di Kabupaten Bandung. Otto Iskandardinata lahir di Bojongsoang, Dayeuhkolot, Bandung, pada 31 Maret 1897. Otto meninggal dunia pada 20 Desember 1945.
Kembali ke sosok Nia Dinata. Dirangkum Erakini, Jumat (1/8/2025), perempuan berdarah Sunda-Minang ini tumbuh besar di lingkungan yang kaya akan nilai kebudayaan dan intelektual.
Nia Dinata merupakan seorang sutradara ternama Indonesia. Perjalanan Nia di dunia film dimulai dari hal-hal yang sederhana. Sebelum menjadi sutradara ternama, ia lebih dulu mengasah kreativitasnya lewat pembuatan klip video musik dan iklan televisi. Barulah pada awal tahun 2000, Nia mendirikan rumah produksi independen bernama Kalyana Shira Film, yang menjadi wadah bagi karya-karya filmnya yang berani dan berpikiran maju.
Debut penyutradaraannya dimulai lewat Ca Bau Kan (2002), film yang diangkat dari novel karya Remy Sylado dan berlatar zaman 1930-an. Film ini mengangkat kisah tokoh pejuang Tionghoa-Indonesia dan berhasil menarik perhatian internasional, menyabet berbagai penghargaan festival film luar negeri.
Dua tahun kemudian, Nia kembali mengguncang dunia perfilman Indonesia lewat film Arisan! (2004). Tak hanya sukses secara komersial, film ini juga menuai pujian kritikus karena mengangkat isu-isu yang jarang dibahas di layar lebar Indonesia kala itu. Arisan! bahkan menyabet penghargaan bergengsi di Festival Film Indonesia dan MTV Indonesia Movie Awards, termasuk kategori Sutradara Terbaik.
Karya Nia berikutnya, Berbagi Suami, juga tak kalah menggugah. Film ini mengangkat isu poligami lewat tiga kisah berbeda dan melibatkan banyak aktor kawakan seperti Ria Irawan, Jajang C Noer, dan Tio Pakusadewo. Karya ini mempertegas posisi Nia sebagai sutradara yang berani menyentuh tema-tema sosial yang sensitif namun penting untuk dibicarakan.
Tak hanya aktif di dunia film, Nia juga pernah merambah dunia tari. Salah satu kolaborasi pentingnya adalah bersama maestro tari Tom Ibnur, dalam pertunjukan Legendra Padusi, sebuah karya tari teatrikal yang mengangkat legenda perempuan Minangkabau. Di sini, Nia berperan sebagai penulis naskah. Karya tersebut melibatkan banyak seniman ternama dan dipentaskan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.
Nia mengenyam pendidikan dasar dan menengah di Jakarta, lalu melanjutkan studi ke Elizabethtown College di Pennsylvania, Amerika Serikat, dan kemudian masuk ke program film bergengsi di Tisch School of the Arts, New York University (NYU). Di sanalah ia semakin mendalami dunia sinema secara profesional.
Namanya juga sempat diperbincangkan di kancah internasional. Jane Perlez, jurnalis dari The New York Times, menyebut Nia sebagai “a gifted newcomer to Indonesia’s film scene” (pendatang baru yang berbakat di perfilman Indonesia) pada 2006. Beberapa film yang ia sutradarai atau produseri, seperti Ca Bau Kan, Berbagi Suami, dan Biola Tak Berdawai, bahkan mewakili Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di ajang Academy Awards (Oscar).
Selain layar lebar, Nia juga aktif di dunia sinetron dan serial televisi. Ia pernah menjadi produser Ajang Ajeng (2004), menyutradarai beberapa episode dalam Arisan! The Series (2006), serta menyutradarai sinetron Salon Ci Mey (2013).
Dengan keberanian, idealisme, dan sentuhan seni yang khas, Nia Dinata telah membuka jalan bagi sutradara-sutradara perempuan di Indonesia. Karyanya tak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk berpikir, berdialog, dan peduli pada isu-isu sosial yang membentuk wajah Indonesia hari ini.