Poster resmi film 'Pangku' garapan Reza Rahadian. Film ini akan siap ditayangkan di bioskop 6 November 2025 mendatang. (Foto: Cinema 21).
JAKARTA, (ERAKINI)- Aktor papan atas Reza Rahadian resmi melebarkan sayap ke dunia penyutradaraan lewat film panjang pertamanya yang berjudul Pangku. Melalui film ini, Reza menyajikan kisah emosional dan penuh perjuangan tentang seorang perempuan muda bernama Sartika yang tengah mengandung dan berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah kemiskinan dan keterasingan sosial.
Lebih dari sekadar drama, Pangku menyuguhkan realita pahit yang jarang dibahas secara gamblang di layar lebar Indonesia—terutama yang menyangkut kondisi perempuan marjinal. Cerita dalam film ini terinspirasi dari fenomena sosial yang terjadi di sepanjang jalur Pantura, khususnya praktik "kopi pangku" yang selama ini menjadi isu sensitif namun nyata.
Sebelum menyapa penonton Indonesia, Pangku lebih dulu menjalani pemutaran perdananya secara global di ajang prestisius Busan International Film Festival (BIFF) ke-30. Masuknya Pangku ke festival internasional ini menjadi pencapaian besar bagi Reza Rahadian sebagai sutradara baru, sekaligus membuktikan bahwa film Indonesia dengan muatan sosial pun mampu berbicara di panggung dunia.
Setelah debutnya di BIFF pada bulan September, Pangku akan tayang secara serentak di jaringan bioskop tanah air pada 6 November 2025. Kehadirannya telah dinanti oleh para pecinta film nasional, terutama mereka yang penasaran dengan sentuhan penyutradaraan Reza Rahadian di balik kamera.
Film ini juga diperkuat oleh jajaran aktor dan aktris ternama yang telah lama malang melintang di dunia seni peran di antaranya Claresta Taufan, Christine Hakim, Fedi Nuril, Jose Rizal Manua, Devano Danendra, Shakeel Fauzi Aisy, Reza Chandika, Kaan Lativan, Nazira C. Noer, Galabby, T.J. Ruth, Lukman Sardi dan Nai Djenar Maisa Ayu. Berikut ini sinopsisnya!
Sebagaimana dilihat dari trailer yang dirilis oleh kanal YouTube Cinema 21, film ‘Pangku’ mengikuti kisah Sartika, seorang perempuan muda yang sedang hamil dan meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan yang lebih layak.
Ia tiba di sebuah kota kecil di kawasan Pantura, tempat di mana ia bertemu dengan Maya, pemilik warung kopi yang kemudian membantunya melewati masa-masa sulit, termasuk proses persalinan.
Namun di balik kebaikan Maya, tersimpan ajakan yang perlahan menggiring Sartika pada dunia yang tak pernah ia bayangkan. Setelah melahirkan, Sartika diajak bergabung sebagai pekerja di warung tersebut. Di tengah tekanan hidup yang tak kunjung reda, muncul sosok Hadi—seorang sopir truk yang menjadi pelipur lara sekaligus menimbulkan dilema baru dalam hidup Sartika.
Lebih dari sekadar kisah cinta dan perjuangan, Pangku mempertanyakan: sejauh mana seseorang sanggup bertahan di tengah situasi yang menyesakkan tanpa banyak pilihan? Bagaimana keputusan yang diambil dalam keterdesakan dapat mengubah seluruh arah hidup seseorang?
Film ini tidak hanya menyentuh sisi emosional penonton, tetapi juga mengajak mereka untuk merenungi realita yang kerap tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari—terutama bagi kaum perempuan yang hidup di pinggiran sistem sosial.