Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan salah satu penceramah yang mengolok-olok penjual es dalam acara pengajian. Sang Ustadz kemudian viral dan dihujat habis-habisan oleh masyarakat.
Dari kasus di atas, kita belajar betapa pentingnya menjaga lisan dan memiliki akhlak yang baik. Perilaku menghina atau mengolok-olok sesama Muslim merupakan tindakan tercela yang hanya akan merugikan diri sendiri.
Peristiwa itu juga mengingatkan kita pada ajaran para ulama, yang menegaskan bahwa adab lebih tinggi di atas ilmu. dalam konteks ini adalah moral, akhlak dan perilaku kita sebagai umat .
Sebagai pemeluk agama yang baik, seyogyanya umat Islam menjaga setiap tindak tanduknya. Jangan sampai, apa yang kita perbuat, kita ucapkan, justru malah membuat orang lain sakit hati.
Karenana, Hadlratussyekh Hasyim Asy'ari pernah mengutip pendapat para ulama, bahwa adab merupakan hasil akhir dari rangkaian tauhid, iman, dan syariat.
Dilansir dari NU Online, Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa tauhid, iman dan syariat tidak dapat dipisahkan dalam melahirkan adab. Sehingga orang yang memiliki adab hampir dapat dipastikan memiliki kemampuan menjalankan syariat, keimanan, dan ketauhidan secara benar.
Artinya, "Dan sebagian ulama berkata: "Tauhid pasti (melahirkan) iman. Barang siapa yang tidak memiliki iman, maka dia tidak memiliki tauhid. Iman pasti (melahirkan) syariat. Maka barang siapa yang tidak memiliki syariat, maka dia tidak memiliki iman dan tauhid. Syariat pasti (melahirkan) adab. Barang siapa tidak memiliki adab, maka dia tidak memiliki syariat, iman, dan tauhid.
Tak hanya itu, bentuk ibadah tidak sah jika dilaksanakan tanpa ilmu. Imam Al-Zarnuji dalam kitab Ta'limul Muta'allim menegaskan:
Artinya, "Sungguh kelestarian Islam itu terjadi dengan ilmu. Zuhud dan takwa tidak sah disertai kebodohan." (Burhanul Islam Az-Zarnuji, Ta'lim al-Muta'allim, [Beirut, Al-Maktabah Al-Islami : 1981], halaman 66).
Dengan mengutip hadis Nabi Muhammad saw, Imam Al-Ghazali menuturkan bahwa hal yang paling utama sebagai modal dasar menyembah Allah swt adalah pemahaman agama secara mendalam.
Bahkan pemahaman seperti ini merupakan tiang agama. Ia menegaskan dalam kitab Ihya':
Artinya, "Nabi Muhammad saw bersabda: "Allah swt tidak disembah dengan sesuatu yang lebih utama dariapda pemahaman terhadap agama yang benar, ... Setiap sesuatu ada tiangnya dan tiang agama ini adalah pemahaman agama yang benar." (HR At-Thabarani). (Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, [Jeddah, Darul Minhaj lin Nasyr Wat Tauzi': 2011], juz I, halaman 26).
Lalu bagaimana jika seseorang yang pintar, tetapi tidak memiliki akhlak yang baik?
Ini sejalan dengan pendapatnya beberapa ulama yang mengatakan bahwa ketika seorang muslim yang merasa cerdas tapi tidak memiliki pondasi iman, tauhid dan syariat, maka dia akan menjadi pribadi yang sombong dan angkuh.
Oleh sebab itu, sebagai hamba Allah sejatinya harus melakukan refleksi secara mendalam di setiap waktunya.
Lebih lanjut, merujuk Dr Lukman Hakim yang mengutip pendapat Al-Ghazali sebagaimana ditulis dalam catatan kaki kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim, yang dimaksud dengan fiqih atau pemahaman di dalam agama adalah pengetahuan jalan akhirat, pengetahuan detil-detil kerusakan jiwa, dan perusak-perusak amal.
Artinya, "Dan yang dimaksud dengan fiqih di sini adalah ilmu untuk mengetahui jalan akhirat, mengetahui detil-detil bahaya jiwa dan perusak-perusak amal ..." (Asy'ari, 28).