Ilustrasi Nabi Ibrahim dalam cover buku Kisah Nabi Ibrahim karya Ajen Dianawati (cetakan ke-4, 2006).
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Nabi Ibrahim‘alaihissalam menempati posisi penting dalam sejarah dan ajaran Islam. Ia dikenal sebagai salah satu rasul Ulul Azmi, yakni lima rasul dengan tingkat kesabaran tertinggi, sekaligus mendapat kedudukan istimewa sebagai khalilullah atau kekasih Allah SWT. Allah SWT berfirman:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Artinya: Allah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai kekasih. (QS. An-Nisa: 125)
Kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim sejak masa kanak-kanak sarat dengan pelajaran keimanan. Mengutip buku KisahNabi Ibrahimkarya Ajen Dianawati (cetakan ke-4, 2006), Nabi Ibrahim lahir di Babilonia pada 2295 SM, di tengah situasi politik yang penuh kekejaman. Saat itu, Raja Namrud mengeluarkan peraturan untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir karena takut tahtanya digulingkan.
Namrud dikenal sebagai raja zalim yang mengaku sebagai Tuhan. Ia melarang rakyatnya menyembah Allah dan memaksa mereka tunduk kepada patung-patung berhala. Meski orang tua Nabi Ibrahim termasuk penyembah berhala, mereka tidak tega membunuh anaknya sendiri. Ibrahim kecil pun dibawa ke hutan dan ditinggalkan di sebuah gua dengan harapan akan mati dengan sendirinya.
Namun, kehendak Allah berkata lain. Bulan demi bulan berlalu, Ibrahim kecil justru tetap hidup dan tumbuh dengan sehat. Allah SWT memberikan pertolongan-Nya dengan cara yang luar biasa. Tanpa seorang ibu, Ibrahim tetap memperoleh air susu atas izin Allah. Ia juga dilindungi dari gangguan binatang buas selama tinggal di dalam gua.
Suatu ketika, kedua orang tua Ibrahim datang untuk melihat keadaan anaknya. Mereka terkejut mendapati Ibrahim tumbuh sehat dan selamat. Sejak saat itu, Ibrahim mulai sering diajak keluar dari gua, meski harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui Raja Namrud.
Seiring bertambahnya usia, Ibrahim mulai mengenal lingkungan sekitarnya. Ia melihat ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat patung berhala, bahkan kerap diminta membantu membuat dan menjual patung-patung tersebut. Ayahnya juga sering mengajak Ibrahim kecil menyembah berhala dari satu kampung ke kampung lain.
Meski masih kanak-kanak, Nabi Ibrahim telah dianugerahi kecerdasan akal dan kepekaan hati. Ia memahami bahwa menyembah berhala adalah perbuatan yang keliru. Penolakannya terhadap berhala bahkan ditunjukkan dengan sikap menentang, termasuk menginjak patung-patung buatan ayahnya sendiri. Sikap itu membuatnya dianggap menghina “tuhan” masyarakat Babilonia.
Di tengah kebingungannya, Ibrahim mulai merenungi alam semesta. Ia bertanya-tanya tentang siapa pencipta gunung, sungai, tumbuhan, binatang, matahari, dan seluruh keindahan yang ia lihat setiap hari. Rasa ingin tahunya semakin besar, terlebih karena sejak kecil ia tidak pernah mendapatkan pengajaran tentang Allah. Yang ia kenal hanyalah patung-patung berhala.
Setelah peraturan kejam Raja Namrud dicabut, Ibrahim akhirnya dibawa pulang ke rumah. Di sanalah, rasa keingintahuan itu memuncak. Ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar kepada orang tuanya tentang asal-usul penciptaan manusia dan alam semesta.
“Wahai ayah dan ibu, siapakah yang sebenarnya menjadikan diri saya?” tanya Ibrahim.
Orang tuanya menjawab bahwa merekalah yang melahirkannya. Ketika Ibrahim bertanya lagi siapa yang menciptakan ayah dan ibunya, mereka menyebut nenek dan kakeknya. Namun, saat Ibrahim menanyakan siapa pencipta pertama dari segala yang ada, orang tuanya terdiam. Mereka tidak mampu menjawab karena keterbatasan pengetahuan.
Dari sinilah pencarian kebenaran Nabi Ibrahim dimulai, sebuah perjalanan spiritual yang kelak menjadikannya nabi besar yang menentang kemusyrikan dan kezaliman Raja Namrud, serta menegakkan tauhid di muka bumi.