Hukum Menggelar Syukuran Usai Haji
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bagi umat Muslim di Indonesia, tradisi syukuran atau selamatan merupakan wujud rasa syukur yang telah mengakar kuat sejak ratusan tahun lalu. Kegiatan ini biasa dilakukan ketika seseorang memperoleh nikmat besar dari Allah swt, termasuk setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Syukuran tersebut umumnya dilakukan dengan mengundang keluarga, tetangga, dan kerabat untuk berkumpul di kediaman orang yang baru pulang haji. Dalam acara ini, biasanya diisi dengan pembacaan pengajian, doa bersama, serta menikmati hidangan secara berjamaah.
Dilansir dari NU Online, Kamis (19/6/2025), secara ajaran, syukuran usai menunaikan haji termasuk amalan yang disunnahkan dalam Islam. Rasulullah saw sendiri memberikan contoh nyata dengan menyembelih hewan kurban setibanya di Madinah usai berhaji, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
عن جابر بن عبدالله رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة نحر جزورا او بقرة. (صحيح البخاري، رقم ٢٨٥٩)
An jaabir bin ‘abdillah radliyallahu ‘anhumaa annannabiyya shallallahu ‘alaihi wasallama lammaa qadimal madiinata nahara jazuuran au baqaratan.
Artinya: Dari Jabir bin Abdullah ra bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah usai melaksanakan Haji, beliau menyembelih kambing atau sapi. (Shahih Bukhari, 2859)


















