Tak Sekadar Menahan Diri, Kemenag Ungkap Makna Filosofis Puasa yang Sebenarnya
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadan 1446 H, tidak terkecuali Muslim di Indonesia. Puasa diartikan menahan diri dari yang membatalkan atau menahan diri dari hawa nafsu baik yang bersifat harfiah maupun yang rohaniah. Lebih jauh, puasa ternyata memiliki makna filosofis yang dalam.
Pegawai Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Abas mengungkapkan, puasa merupakan penyucian diri melalui spiritualitas. Bahkan, puasa mengajarkan empati dan solidaritas terhadap kaum muskin.
“Berpuasa kita sesungguhnya diharapkan merasakan apa yang mereka rasakan. Di mana mereka selama ini tidak makan sehari, bahkan mungkin tidak makan lebih dari satu hari,” kata Abas dalam video yang tayang di erakini, Selasa (11/3/2025) malam.
Tak hanya itu, puasa kata Abas mengandung makna membiasakan disiplin terutama terkait dalam upayanya menahan hawa nafsu dan melakukan perbuatan baik kepada sesama.
“Kebiasaan agar kita selalu berbuat baik terhadap orang lain,” tuturnya.
Agar mendapatkan ridha dari Allah swt, selain dengan menahan dan meyucikan diri, BMBPSDM juga mengajak umat Islam untuk mengisi bulan Ramadan dengan memperbanyak membaca al-Quran. Kemenag meyakini membaca al-Quran di bulan dapat menjadi penolong umat di akhirat kelak.
















