Doa Agar Selalu Dilimpahkan Kelancaran Rezeki
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Allah sudah mengatur rezeki setiap makhluk-Nya, termasuk kepada umat Manusia. Oleh sebab itu, seyogianya setiap hamba Allah mensyukuri rezeki yang telah dilimpahkan.
Rezeki di sini tentu bukan uang semata, tetapi segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepada umat Manusia. Bicara soal rezeki, di zaman nabi sendiri, umat Muslim sempat mengeluh soal kehidupannya yang merasa tidak dilimpahkan rezeki alias fakir miskin.
Misalnya, Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid al-Alawi al-Husaini at-Tarimi, dalam salah satu kitab karyanya menceritakan tentang suatu riwayat dari sahabat Sahal bin Sa’ad tentang seorang laki-laki yang hidup dalam kefakiran dan kemiskinan.
Dilansir dari NU Online, salam dan Al-Ikhlas sebelum Masuk Rumah Dalam kitab tersebut, Sayyid Muhammad bin Ali menceritakan bahwa suatu saat datang kepada Rasulullah seorang laki-laki, dengan tujuan untuk mengadukan nasibnya.
Dalam pertemuannya, laki-laki itu menceritakan kepada Rasulullah bahwa dirinya tumbuh menjadi seorang fakir miskin yang hidupnya tidak memiliki penghasilan sedikit pun, kebiasaannya sehari-hari selalu bergantung kepada orang lain; terkadang meminta, kadang juga berutang.
Mendengar kisah kehidupan laki-laki tersebut, Rasulullah kemudian memberikan tips agar terhindar dari hidup dalam keadaan fakir miskin. Rasulullah bersabda,
اِذَا دَخَلْتَ مَنْزِلَكَ فَسَلِّمْ، اِنْ كَانَ فِيْهِ أَحَدٌ، وَاِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ أَحَدٌ فَسَلِّمْ عَلَيَّ وَاقْرَأَ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) مَرَّةً وَاحِدَةً
Artinya, “Apabila engkau memasuki rumahmu maka (ucapkanlah) salam jika di dalamnya ada satu orang, dan jika tidak ada seorang pun di dalamnya, maka (ucapkanlah) salam kepadaku (assalamu alaika ya Rasulallah) dan bacalah (qul huwa Allahu Ahad) satu kali.” (Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid, al-Wasailusy Syafiyah fil Adzkarin Nafi’ah wal Auradil Jami’ah [cetakan pertama: 1405 H], halaman 471).
Sebagai umat Islam, ketika laki-laki tersebut mendengar penjelasan Rasulullah, ia sangat bangga dan bersedia untuk melakukan apa yang telah dijarakah oleh nabi akhir zaman itu. Ia pun pulang dengan sangat lega, meski materi berupa uang dan sesamanya tidak ia terima dari Rasulullah, akan tetapi dengan bacaan itu sudah melebih materi berupa dunia dan isinya.
Sampai di rumah, laki-laki itu langsung mengamalkan apa yang ia terima dari Rasulullah, bahkan ia dengan istiqamah membaca salam ketika hendak masuk ke dalam rumahnya, jika ia tahu di dalam ada orang, dan membaca salam kepada Rasulullah jika tidak ada seorang pun, kemudian dilanjut dengan membaca surat Al-Ikhlas.
Alhasil, Allah memberikan rezeki melebihi apa yang diinginkan sebelumnya,
فَأَدَرَّ اللهُ عَلَيْهِ الرِّزْقَ، حَتَّى أَفَاضَ عَلَى جِيْرَانِهِ وَقَرَابَاتِهِ
Artinya, “Maka Allah mengatur (memberi) kepadanya rezeki, hingga melimpah kepada tetangga dan kerabatnya.” (Muhammad bin Ali Khirrid: 471).
Membaca Shalawat Masih dalam kitab yang sama, halaman yang sama, dan kisah yang juga sama, yaitu sama-sama fakir miskin. Namun kisah ini berasal dari sumber yang berbeda. Sayyid Muhammad bin Ali Khirrid menceritakan kisah Imam al-Qasthalani yang dalam hidupnya juga berbanding lurus dengan kisah laki-laki di atas.
Ia juga salah satu ulama yang sejarahnya juga hidup dalam keadaan fakir dan miskin. Sandang pangan sangat sulit baginya disebabkan tidak adanya penghasilan sedikit pun dalam kesehariannya.
Demikian Imam al-Qasthalani dalam setiap harinya, hingga umurnya yang sudah mendekati senja masih saja dalam hidup yang serba kekurangan.
Akan tetapi, suatu saat ia bermimpi didatangi oleh Rasulullah mimpinya. Tanpa basa-basi, al-Qasthalani langsung menceritakan hidupnya yang sangat melarat kepada nabi pemberi syafaat itu.
Rasulullah kemudian mengatakan kepadanya untuk membaca shalat berikut:
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهَبْ لَنَا مِنْ رِزْقِكَ الْحَلَالِ الطَّيِّبِ الْمُبَارَكِ مَا تَصُوْنُ بِهِ وُجُوْهَنَا عَنِ التَّعَرُّضِ اِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ
Artinya, “Ya Allah limpahkanlah kesejahteraan kepada Nabi Muhammad, dan berilah kepada kami dari rezeki-Mu yang halal, baik, diberkahi, yang dengan rezeki itu bisa menjaga wajah-wajah kami dari bergantung kepada seorang dari makhluk-Mu.”
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dalam ajaran Islam juga diajarkan tentang cara menjadi orang-orang yang terhindar dari fakir miskin (kaya). Islam tidak pernah menutup mata dan membiarkan pemeluknya hidup dalam keadaan melarat.
Hanya saja, tolok ukurnya memiliki beberapa cara; ada yang dengan bekerja dan berusaha, dan ada juga yang bekerja disertai dengan zikir-zikir untuk meningkatkan spiritual kepada pemberi rezeki, yaitu Allah.
Cara yang terakhir ini harus kembali ditumbuhkan dalam diri setiap muslim, bahwa rezeki tidak selalu tentang usaha dan bekerja.
Ada juga yang oleh Allah diberikan dengan cara membaca amalan-amalan tertentu dan bacaan khusus sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada laki-laki dan Imam al-Qasthalani di atas.
















