Rombongan Kirab Santri 2023 di Pesantren Buntet Cirebon (Foto: Dok PBNU)
SURABAYA, (ERAKINI)-Kirab Santri menjadi salah satu rangkaian dari kegiatan Hari Santri 2023. Kegiatan ini melibatkan jutaan kaum sarungan bersama nahdliyin di seluruh Indonesia. Pakaian sarung sering diidentikkan dengan kaum santri, karena itu kaum sarungan sama dengan kaum santri, padahal dalam perkembangan sejaraahnya tidak demikian, sebab sarung merupakan pakaian tradisonal baik di kalangan masyarakat jawa dan Nusantara pada umumnya bahkan Asia Tenggara.
Kirab hari santri 2023 dilakukan dengan berjalan dari Merak, Banten hingga Kota Surabaya, Jawa Timur, menggunakan kendaraan mobil. Di sela-sela perjalanan, terkhusus di tempat-tempat bersejarah dan pondok pesantren, peserta kirab berhenti sekaligus berziarah ke makam yang ada di tempat tersebut.
Bagi masyarakat Indonesia, pondok pesantren dinilai memberikan kontribusi besar terhadap peradaban, terutama dalam konteks pendidikan keagamaan. Pesantren berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyiaran ajaran agama Islam. Kedua fungsi ini bergerak saling menunjang, pendidikan dapat dijadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah sedangkan dakwah bisa dimanfaatkan sebagai sarana dalam membangun sistem pendidikan.
Sementara kiai menggunakan fungsinya dengan baik, dengan memberikan pendidikan dan pengayoman kepada sesama. Sebagai tokoh agama, kiai sering memberikan pengajaran pengajian dan ceramah agama, keberadaannya sangat dihormati dan dijadikan panutan oleh masyarakat dan umat Islam di Indonesia. Kiai atau ulama selayaknya mendapatkan penghormatan sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW "ulama adalah pewaris para nabi".
Karena hal inilah, para peserta kirab hari santri 2023 melakukan ziarah untuk mengenang dan merefleksikan betapa besarnya peran pesantren dan kiai dalam membentuk jati diri santri.
Peserta kirab yang berjalan dari Merak hingga Surabaya adalah panitia hari santri 2023 yang telah ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Kementerian Agama (Kemenag) selaku penyelenggara kegiatan ini. Kerjasama yang baik antara pemerintah dan organisasi keagamaan ini mencerminkan bagaimana hubungan ulama-umara yang begitu harmonis di Indonesia. Sebab, di sejumlah negara Timur Tengah, antara Umara-Ulama kerap bersinggungan, bahkan disharmoni ini menjadi pemicu utama peperangan di negara-negara tersebut.
Wakil Ketua Panitia Hari Santri 2023 M Nabil Haroen mengatakan, kirab ini menjadi bagian monumental untuk menggerakkan santri di kawasan Jawa.
Bahkan, pria yang buasa disapa Gus Nabil ini menegaskan bahwa Kirab Santri menjadi penanda sejarah tentang perjuangan kaum santri melawan penjajah, terutama ketika Resolusi Jihad yang digaungkan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada 1945.
"Kirab Hari Santri tahun 2023 ini akan melibatkan jutaan warga Nahdliyin di seluruh Jawa," ucap Gus Nabil di Surabaya pada Kamis (19/10/2023).
Ia menjelaskan, rombongan Kirab Santri mulai berangkat pada 19 Oktober 2023 dan diperkirakan akan sampai di Surabaya pada 21 Oktober 2023.
"Kemudian mengikuti berbagai kegiatan Puncak Hari Santri 2023 pada 22 Oktober 2023, yang berpusat di Surabaya," ucapnya.
Di tempat terpisah, panitia Hari Santri 2023, Ayi Fahmi mengatakan, rombongan kirab santri pada Jumat (20/10/2023) malam sudah sampai di Cirebon, Jawa Barat. Para peserta lalu mampir ke pesantren BuntetCirebon.
"Kirab Santri diterima oleh Ketua Umum Yayasan Pendidikan Islam Pondok Buntet Pesantren KH Salman Al Farisi didampingi oleh sejumlah pengurus lainnya. Peserta Kirab tiba di Pondok Buntet Pesantren pada pukul 15.25 WIB. (20/10/2023)," ujar Fahmi.
Ia menambahkan, usai ramah tamah dengan pengasuh pesantren Buntet, KH Salman Al Farisi, rombongan Kirab Santri berziarah ke makam Panglima 10 November KH Abbas dan muassis pesantren Buntet lainnya.
Dalam catatan sejarah, perjuangan melawan penjajah pada 10 November 1945 di Surabaya tidak terlepas dari peran kiai dan santri. Salah satunya KH Abbas.
Kiai Abbas adalah putra sulung KH Abdul Jamil, keturunan Mbah Muqoyyim yang merupakan pendiri Pondok Buntet Pesantren. Lahir 25 Oktober 1879, Kiai Abbas tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia juga sempat menimba ilmu ke Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Kiai yang dijuluki ”Singa dari Jawa Barat” itu menjadi penentu waktu perang.
Banyak orang mengenal KH Abbas Abdul Jamil Buntet Pesantren sebagai sosok ulama yang sakti mandraguna. Berbagai cerita lisan mengisahkan peran heroiknya dalam menumpas sekutu di Surabaya pada Perang 10 November 1945.
Ada yang menyebut sorban, tasbih, hingga kacang hijau yang dilemparkannya mampu menjatuhkan pesawat tempur yang siap membombardir Kota Pahlawan itu. Ada pula yang menyebut alu-alu untuk menumbuk padi beterbangan atas izin Allah swt. melalui perantara doa yang dibacanya.
Kiai Abbas juga dikenal ahli bela diri. Konon, saat itu, sebilah pisau di tangan preman sudah berada di leher Sang Kiai, sedangkan tangan kanan Kiai Abbas tengah membawa Al-Qur’an. Saat santri hendak menyergap preman itu, beliau mencegahnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, keadaan tetiba berbalik, preman berhasil dijatuhkan Kiai Abbas.
Namun, di balik sosoknya itu, Kiai Abbas juga merupakan menguasai berbagai bidang ilmu agama. Pengetahuannya dalam perbandingan mazhab fiqih sangat meluas. KH Ibrahim Hosen mengaku terinspirasi Kiai Abbas untuk mengambil studi perbandingan mazhab fiqih di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Kirab Hari Santri 2023 diharapkan semakin memperkuat peran santri sebagai kelompok masyarakat penerus perjuangan para ulama dalam membangun bangsa.
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengutip definisi santri menurut ulama khos Nahdlatul Ulama (NU), KH Mustofa Bisri.
“Menurut Gus Mus santri adalah murid kiai yang dididik dengan penuh kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat,” kata Gus Men.
Gus Men menambahkan, santri juga dimaknai sebagai kelompok yang mencintai negaranya sekaligus menghormati orang tuanya, meskipun telah tiada. Santri, lanjut Gus Men, adalah mereka yang menyayangi sesama hamba Allah serta mencintai ilmu yang tidak pernah berhenti.
“Santri juga adalah mereka yang menyayangi sesama hamba Allah mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Minal Mahdi ilal lahdi itu definisi Gus Mus atas santri,” ucap Gus Men melanjutkan pendapatnya Mustasyar PBNU tersebut.
Dengan demikian, lanjut Gus Men, santri selalu menganggap bahwa agama sebagai anugerah sekaligus wasilah untuk mendapatkan ridha dari Allah serta hamba yang selalu bersyukur.
“Dari definisi yang disampaikan oleh Kiai Mustofa Bisri ini kesimpulan saya santri ini sangat luas, jadi bukan hanya mereka yang sekarang atau hari ini itu berada di pesantren tetapi orang yang sesuai dengan definisi diberikan oleh Gus Mus itu adalah bagian dari juga dari santri,” tuturnya.