Peristiwa sejarah di bulan Ramadan yang tak kalah penting adalah berdirinya Daulah Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah merupakan masa kejayaan dalam sejarah peradaban Islam. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) –Peristiwa sejarah di bulan Ramadan yang tak kalah penting adalah berdirinya . Abbasiyah merupakan masa kejayaan dalam sejarah .
Sejumlah sumber sejarah menyebut Dinasti Abbasiyah berdiri pada 2 Ramadan 132 H/13 April 750 M, setelah Dinasti Umayyah runtuh. Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti kedua dalam sejarah pemerintahan umat Islam yang berpusat di Baghdad (kini ibu Kota Irak). Daulah Abbasiyah dipimpin oleh khalifah pertamanya, Abu al-Abbas al-Saffah.
Abbasiyah sendiri berasal dari nama paman Nabi Muhammad SAW, yakni Al-Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Dinasti Bani Abbasiyah didirikan secara revolusioner dengan menggulingkan kekuasaan Bani Umayyah yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Marwan II bin Muhammad.
Dinasti Bani Abbasiyah merupakan salah satu masa paling gemilang dalam sejarah peradaban Islam, yang dikenal sebagai The Golden Age of Islam. Kejayaan ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah ke-5, Abu Ja’far Harun Al-Rasyīd (170-193 H/786-809 M) yang berhasil membawa Dinasti Abbasiyah menjadi pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kemajuan ekonomi.
Di zaman Dinasti Abbasiyah banyak lahir ilmuwan-ilmuwan Islam yang sangat populer. Dinasti Abbasiyah memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu pengetahuan, termasuk matematika, astronomi, dan kedokteran. Dinasti Abbasiyah juga memberikan pengaruh besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Eropa dan dunia Islam.
Banyak penemuan dari masa Abbasiyah yang menjadi fondasi ilmu pengetahuan. Namun, kejayaan tersebut tidak mampu dipertahankan oleh generasi penerus. Kepemimpinan yang lemah dari para khalifah setelahnya menjadi salah satu penyebab utama kemunduran dan keruntuhan Dinasti Abbasiyah.
Dikutip dari Jurnal Ilmiah Multidisiplin dengan judul “Kejayaan Bani Abbasiyah: Membangun Peradaban Islam yang Berkembang”, Dinasti Abbasiyah dikenal sebagai salah satu masa kejayaan Islam (The Golden Age) karena kemajuan luar biasa yang dicapai.
Pada periode ini, Abbasiyah menunjukkan keunggulan dalam berbagai bidang, seperti penerjemahan karya-karya asing, ilmu pengetahuan, ekonomi, keagamaan, sosial, militer, hingga politik.
Perkembangan pesat tersebut terjadi karena Dinasti Abbasiyah tidak hanya terfokus pada satu bidang saja, melainkan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan secara bersamaan. Kemajuan inilah yang menjadikan Abbasiyah sebagai kekhalifahan besar dan disegani, bahkan oleh dunia Barat.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, pengembangan ilmu dilakukan melalui pendirian perpustakaan dan pusat-pusat ilmu, serta dengan menyusun dan menerjemahkan berbagai karya ilmiah. Ilmu yang berkembang mencakup baik ilmu keagamaan maupun ilmu pengetahuan umum. Masa ini merupakan puncak kejayaan peradaban Islam dengan berbagai pencapaian luar biasa.
Lahirnya Ilmuwan Muslim
Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung cukup panjang, sekitar lima abad, dari tahun 132 H/750 M hingga 656 H/1258 M. Pada tahap awal kekuasaan Bani Abbasiyah, para khalifah yang memerintah dikenal karena ketegasan, keadilan, dan otoritas yang kuat. Di masa ini, Bani Abbasiyah mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Salah satu pencapaian penting adalah penerjemahan karya-karya dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Kegiatan penerjemahan ini mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Abbasiyah, ketika para cendekiawan aktif menjelajahi wilayah Byzantium untuk mencari dan mengumpulkan naskah-naskah kuno.
Para ilmuwan Muslim pada masa Abbasiyah membuat kemajuan signifikan dalam bidang matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi, misalnya, dikenal sebagai bapak aljabar dan berperan dalam pengembangan konsep angka nol yang sangat memengaruhi sistem penomoran yang digunakan hingga hari ini. Perkembangan ilmu pengetahuan ini terjadi melalui sejumlah tahapan, yaitu:
1. Pendirian perpustakaan dan pusat-pusat ilmu pengetahuan
Khalifah Harun Al-Rasyid mendirikan Baitul Hikmah sebagai pusat penerjemahan naskah-naskah asing, kegiatan riset, serta kajian keilmuan. Keberadaan lembaga ini menjadi titik awal lahirnya para cendekiawan dan ilmuwan di berbagai disiplin ilmu. Baitul Hikmah merupakan perpustakaan terbesar kala itu dengan koleksi sekitar 100.000 buku.
2. Kegiatan menyusun buku ilmiah
Terdapat tiga tahap dalam menyusun buku ilmiah, yaitu:
a. Tahap pertama, mencatat ide atau percakapan dalam sebuah lembaran kertas.
b. Tahap kedua, pembukuan ide-ide atau hadis-hadis Rasulullah dalam satu buku.
c. Tahap ketiga, penyusunan sesuai bab per bab.
3. Menerjemahkan buku-buku bahasa asing
Penerjemahan buku-buku bahasa asing ke dalam bahasa Arab dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama menerjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi. Tahap kedua menerjemahkan karya-karya dalam bidang filsafat dan kedokteran. Tahap ketiga yaitu penerjemahan karya-karya dalam bidang yang lebih luas.
Hal inilah yang menjadikan berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan pada masa Bani Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan yang ditunjang oleh penerjemahan buku, berdirinya perpustakaan, dan diskusi ilmiah melahirkan berbagai cabang ilmu, seperti:
1. Ilmu Aqli
Ilmu aqli merupakan cabang ilmu yang bersumber dari pemikiran rasional manusia dan dikembangkan oleh para pakar atau ilmuwan yang kompeten di bidangnya.
a. Ilmu Kedokteran
Perkembangan ilmu kedokteran pada masa Dinasti Abbasiyah banyak dipengaruhi oleh institusi pendidikan tinggi di wilayah Persia dan Yunani Timur. Salah satu lembaga pendidikan di Persia yang berperan penting adalah Jundishapur, tempat dilakukan penerjemahan berbagai literatur medis dari bahasa Persia, Yunani, dan India ke dalam bahasa Arab.
Di antara tokoh penerjemah tersebut, Al-Muqaffa dikenal sebagai penerjemah teks kedokteran dari Persia ke Arab, sementara nama yang paling masyhur dalam bidang ini adalah Hunain bin Ishaq.
Tokoh besar lainnya dalam dunia kedokteran Islam antara lain Ali bin Rabban al-Tabari, Al-Razi yang dikenal atas penemuannya terkait penyakit cacar dan campak, serta Ibnu Sina yang terkenal melalui karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Tibb.
b. Ilmu Matematika
Kemajuan ilmu matematika dipicu oleh kebutuhan perencanaan Kota Baghdad yang menuntut perhitungan matematis secara cermat. Dalam proses tersebut, dikenal konsep angka nol yang disebut *sifr*.
c. Ilmu Geografi
Perkembangan ilmu geografi diwujudkan melalui aktivitas perdagangan antarwilayah bahkan lintas benua, yang mendorong pemahaman lebih luas mengenai kondisi geografis berbagai daerah.
d. Ilmu Astronomi
Pada masa Dinasti Abbasiyah, ilmu astronomi mengalami kemajuan pesat dengan kajian yang mengacu pada pemikiran ilmuwan dari berbagai bangsa seperti Yunani, Persia, India, dan Khaldea.
e. Ilmu Filsafat
Ilmu filsafat merupakan bidang ilmu pengetahuan mengenai kebenaran yang dapat diterima oleh akal manusia dan menjadi dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan. Kaum Muslimin mulai mengenal filsafat setelah mendapatkan terjemahan buku-buku berbahasa Yunani, Persia, dan India. Para ahli filsafat meliputi Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali.
2. Ilmu Naqli
Ilmu naqli adalah ilmu yang bersumber dari wahyu Allah SWT, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Ilmu ini dianggap wajib dipelajari oleh umat Islam karena mengandung ajaran akidah, syariah, dan akhlak.
Perkembangan ilmu naqli pada masa Abbasiyah meliputi:
a. Ilmu Fikih
Ilmu fikih mengatur kehidupan umat Muslim. Tokoh besar dalam bidang ini antara lain Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
b. Ilmu Tafsir
Ilmu tafsir membahas penafsiran Al-Qur’an dengan dua metode utama:
1. Tafsir bil ma’tsur, yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan hadis Nabi dan pendapat sahabat. Tokohnya antara lain Ibnu Jarir at-Thabari dan Ibnu Athiyah al-Andalusi.
2. Tafsir bir ra’yi, yaitu penafsiran menggunakan akal ketika tidak terdapat nash atau hadis yang jelas.
c. Ilmu Hadist
Ilmu hadist mempelajari penghimpunan dan keabsahan hadis. Tokohnya antara lain Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Dawud.
d. Ilmu Kalam
Ilmu kalam membahas teologi Islam seperti konsep ketuhanan, dosa, dan pahala. Tokohnya antara lain Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.
e. Ilmu Bahasa
Ilmu bahasa pada masa Abbasiyah meliputi ilmu nahwu (tata bahasa Arab) yang berkembang pesat. Selain itu, sastra Arab juga mengalami kemajuan signifikan dan memperkaya khazanah budaya Islam.