Momentum Ramadan menyimpan banyak peristiwa sejarah menarik dalam perkembangan Islam. Salah satunya adalah penaklukan Mesir sekaligus masuknya Islam di Negeri Firaun. Foto: Ilustrasi/Ist
Tepatnya pada 1 Ramadan, Mesir berhasil ditaklukkan oleh bin Wa’il bin Hasyim pada masa Kekhalifahan . Penaklukan ini menjadi salah satu babak paling penting dalam dan memberikan dampak jangka panjang terhadap peradaban dunia.
Dikutip dari sejumlah referensi sejarah, Kamis (19/2/2026), para sejarawan Arab klasik seperti Ibn Abd al-Hakam, Yaqut, as-Suyuthi, al-Waqidi, dan ath-Thabari berpendapat bahwa Amr dan pasukannya menaklukkan Mesir pada 20 H. Namun, ada juga riwayat yang menyebutkan penaklukan terjadi pada 21 H atau 22 H.
Amr bin Ash dikenal salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Islam, seorang komandan militer yang brilian sekaligus diplomat ulung. Ia memainkan peran kunci dalam perluasan kekhalifahan Islam pada abad ke-7 Masehi.
Salah satu pencapaiannya yang paling gemilang adalah penaklukan Mesir, kemenangan yang tidak hanya memperluas wilayah Islam, tetapi juga membawa pengaruh besar terhadap perkembangan peradaban dunia. Sebelum menaklukkan Mesir, Amr telah berhasil menundukkan sejumlah wilayah, termasuk Syam, Palestina, dan Yordania.
Amr bin Ash tidak hanya dikenal sebagai panglima perang yang tangguh, tetapi juga diplomat yang cerdas. Sebelum melakukan serangan militer besar-besaran, ia kerap menggunakan pendekatan diplomatik untuk mengamankan dukungan atau setidaknya memastikan netralitas pihak-pihak yang berpotensi menjadi musuh. Ia menunjukkan bahwa kekuatan diplomasi sama pentingnya, bahkan mungkin lebih penting, daripada kekuatan militer semata.
Dalam penaklukan Negeri Piramida, Amr bin Ash menerapkan strategi militer yang cerdas dan efektif. Ia tidak semata-mata mengandalkan kekuatan pasukan, tetapi juga menggunakan taktik inovatif dan adaptif sesuai kondisi medan dan situasi politik. Strateginya dalam menaklukkan Mesir menunjukkan betapa pentingnya kombinasi antara kekuatan, kebijaksanaan, serta kemampuan memahami situasi politik dan sosial.
Awal Penaklukan Penaklukan Mesir oleh Amr bin Ash menjadi salah satu babak penting dalam sejarah Islam yang berdampak panjang terhadap peradaban dunia. Pasukan kaum Muslimin untuk pertama kalinya menaklukkan Mesir di bawah pimpinan Amr, yang sebelumnya berhasil merebut Suriah, Palestina, dan Yordania.
Mesir kala itu merupakan bagian dari kekuasaan Kekaisaran Bizantium atau Imperium Romawi Timur. Satu dekade sebelumnya, wilayah ini sempat dikuasai Dinasti Sasaniyah dari Persia. Namun, Bizantium berhasil merebutnya kembali sebelum akhirnya tunduk oleh serbuan pasukan Muslim dari Jazirah Arab.
Sebelum wafatnya Nabi Muhammad ﷺ pada 11 H/632 M, Amr bin al-Ash ditugaskan sebagai penarik zakat di kawasan perbatasan Syam (Suriah). Pada era Abu Bakar Ash-Shiddiq (11–12 H), sebagaimana dikutip dari buku Khalid bin Al-Walid: Panglima yang Tak Terkalahkan karya Manshur Abdul Hakim (2010), Amr diberi tugas sebagai salah satu panglima pasukan Muslim.
Peran itu berlanjut pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab (13–14 H). Setelah memukul mundur panglima Arthabun dan pasukannya dari Palestina serta membebaskan Baitul Maqdis dari Romawi, Amr kemudian meminta izin kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menaklukkan Mesir dari cengkeraman Romawi.
Sejarawan kontemporer seperti Husain Haekal, Hasan Ibrahim, dan ash-Shallabi menjelaskan beberapa alasan kuat yang membuat Amr meminta Khalifah Umar agar memberinya izin menaklukkan Mesir.
Secara geografis, Mesir berbatasan langsung dengan Palestina sehingga relatif mudah dijangkau pasukan Muslimin. Mesir juga dikenal sebagai negeri yang kaya sumber daya alam serta pemasok komoditas penting bagi Konstantinopel, pusat Kekaisaran Romawi Timur. Jika Mesir berhasil ditaklukkan, maka kekuatan Romawi akan melemah.
Selain itu, penduduk asli Mesir, yakni bangsa Qibti (Koptik), kerap mendapat perlakuan tidak adil dari pemerintah Romawi. Mereka diyakini telah mendengar tentang keadilan yang ditegakkan umat Islam. Ditambah lagi, adanya janji Rasulullah SAW bahwa umat Islam akan menaklukkan Mesir menjadi motivasi tersendiri bagi Amr.
Amr meyakini bahwa jika Romawi dibiarkan menguasai Mesir, mereka akan kembali memperkuat diri dan menjadi ancaman bagi kaum Muslimin. Setelah mempertimbangkan berbagai argumen tersebut, Khalifah Umar akhirnya mengizinkan Amr untuk memimpin ekspedisi ke Mesir.
Perjalanan ke Mesir bukan perkara mudah. Sebelum membebaskan wilayah itu, Amr dan pasukan Muslimin terlebih dahulu menguasai kota-kota seperti Arisy, Firma (Pelusium), Bilbis, Ummu Danin, serta menghancurkan pasukan Romawi di ‘Ain Syams.
Setelah mendapat izin dari Khalifah, Amr menyerahkan tugas pengepungan Qaisariyah kepada putranya, Abdullah bin Amr. Ia kemudian memimpin sekitar 3.500 hingga 4.000 pasukan menuju Mesir. Mereka berangkat pada malam hari tanpa diketahui penduduk sekitar.
Sementara itu, Khalifah Umar sempat diliputi kekhawatiran atas keselamatan pasukan tersebut. Di Madinah, ia berdiskusi dengan para penasihatnya, dan tidak sedikit yang meragukan keberhasilan ekspedisi tersebut.
Namun, Amr dan pasukannya berhasil menguasai Arisy tanpa perlawanan. Mereka kemudian bergerak menuju Firma, kota kuno berbenteng kuat yang menjadi kunci pertahanan Mesir. Karena kuatnya pertahanan Romawi, kota ini diblokade hampir satu bulan. Sejumlah sejarawan menyebutkan bahwa penduduk Qibti di Firma cenderung tidak memusuhi pasukan Muslimin.
Perang Penaklukan Dimulai
Pada awal September 640 M (20 H), Amr bergerak menuju Benteng Babilonia (kini Kairo). Benteng ini sangat kokoh, dilengkapi persenjataan dan perbekalan melimpah. Saat itu, Sungai Nil sedang meluap sehingga parit di sekeliling benteng dipenuhi air, menyulitkan pengepungan.
Pengepungan berlangsung selama tujuh bulan. Di dalam benteng terdapat pemimpin Mesir, Muqauqis, dengan pasukan sekitar 5.000–6.000 orang. Pasukan Muslimin menggunakan manjaniq (alat pelontar batu) untuk menyerang, sementara Romawi bertahan di balik tembok dan pintu besi yang diperkuat.
Pada Maret 641 M, banjir Sungai Nil mulai surut. Pada saat yang sama, tersiar kabar wafatnya Kaisar Heraklius, yang melemahkan mental pasukan Romawi. Amr memanfaatkan momentum itu dengan memerintahkan penyerbuan.
Upaya penembusan benteng dipimpin oleh Zubair bin ‘Awwam. Pada malam hari, ia memanjat benteng menggunakan tangga dan menyerukan takbir sebagai tanda bagi pasukan Muslimin untuk menyerbu. Serangan mendadak itu membuat pasukan Romawi panik. Gerbang benteng berhasil dibuka dan pasukan Muslimin pun menguasai Babilonia.
Akhirnya, pada Jumat bulan April 641 M (21 H), Mesir berhasil ditaklukkan setelah pengepungan selama tujuh bulan. Keberhasilan ini pun membuka jalan menuju Alexandria, ibu kota Mesir saat itu.
Sebelum mencapai Alexandria, Amr menghadapi perlawanan di Kairon (Kiryaun), yang dipimpin panglima Romawi Theodore. Theodore yang sebelumnya pernah dipecundangi Amr di ‘Ain Syam berhasrat membalas kekalahnnya.
Kairon adalah daerah yang letaknya dekat dengan Alexandria dan menjadi pintu utama Alexandria. Sedangkan Alexandria merupakan kota perdagangan terbesar dan pertama di dunia, sekaligus ibu kota Mesir pada masa pemerintahan kekaisaran Romawi Timur.
Setelah menaklukan benteng Kairon dan mengalahkan Theodore untuk kedua kalinya, Amr dan pasukannya kemudian bergerak menuju kota Alexandria. Pengepungan Alexandria berlangsung sekitar 14 bulan. Khalifah Umar sempat mengirim surat karena lamanya proses tersebut dan mengingatkan pentingnya niat yang tulus dalam perjuangan.
Akhirnya, di bawah komando ‘Ubadah bin ash-Shamit, pasukan Muslimin berhasil menaklukkan Alexandria. Penaklukan ini terjadi sekitar November 641 M, meski terdapat perbedaan pendapat mengenai tahun pastinya. Setelah menaklukkan Mesir, Amr bin Ash diangkat sebagai gubernur oleh Khalifah Umar. Ia mendirikan Fustat, tenda atau kemah, sebagai ibu kota baru Mesir.
Amr bin Ash wafat pada tahun 43 H atau 663 M dalam usia lebih dari 90 tahun. Ia dimakamkan di Fustat. Sepanjang hidupnya, ia meriwayatkan 39 hadis dari Nabi Muhammad SAW. Amr dikenang sebagai sahabat Rasulullah yang berjasa besar dalam perluasan wilayah Islam, termasuk penaklukan Mesir, dengan pendekatan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga kebijakan dan diplomasi.