"Ceritanya panjang, jadi ada dorongan di hati. Dulu waktu saya kecil suka dengerin azan, cuma sama orang tua sampai ditegur," ujar Maria Febe dalam program Close UP di UseeTV, dikutip Senin (3/3/2025).
Maria Febe adalah pemain kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, yang pernah menjadi atlet bulutangkus andalan Indonesia di tunggal putri setelah era Susi Susanti. Pada 2010, Maria Febe mencatatkan prestasi yang cukup mentereng. Atlet tunggal putri itu bahkan sampai pernah menyabet posisi ke-18 dalam ranking BWF. Urutan pada ranking versi BWF ini menjadi raihan terbaiknya selama mengenyam profesi pebulu tangkis profesional.
Ini tidak lepas pernah menjadi juara dalam beberapa kompetisi. Maria Febe pernah merebut juara pada kompetisi Bitburger Open, Australia Open. Dalam ajang Selandia Baru Open 2009 menempati posisi runner-up. Maria kemudian memutuskan gantung raket pada tahun 2017.
Bukan hanya prestasinya di lapangan yang layak diapresiasi, namun kisahnya sebagai seorang atletmualaf juga menginspirasi banyak orang. Seperti perjalanannya di lapangan bulutangkis yang dipenuhi tantangan, kisahmualaf Maria Febe menemukan Islam juga dilalui dengan penuh liku. Bagaimana kisahnya?
Maria menceritakan, perjalanan spiritualnya memeluk agama Islam sebenarnya telah diawali saat masih kecil. Perempuan kelahiran 30 September 1989 ini memiliki latar belakang dan tumbuh dari keluarga penganut agama Kristen. Namun, rumah tempat tinggalnya di Boyolali, sebuah kota kecil dekat Kota Solo, memiliki jarak yang cukup dekat dengan masjid.
Lantaran rumahnya dekat dengan masjid, maka setiap waktu Maria selalu mendengar suara azan. Entah kenapa, saat muadzin mengumandangkan azan sebagai tanda masuk waktu salat bagi umat Islam, Maria selalu menikmati lantunannya.
Namun, kesenangannya mendengar suara azan mendapat respons keras dari orang tua. Maria memang selalu bercerita kepada keluargnya tentang ‘keanehan’ itu. Sementara keluarga cukup kental dan taat terhadap agama Kristen, sehingga wajar jika orang tuanya kurang senang mendengar cerita Maria tersebut.
Orang tuanya selalu bingung saat Maria mendengar suara azan. Saat itu orang tuanya tidak tahu apa yang menyebabkan akan hal itu. Sejak tertegun dengan suara azan, Maria pun mulai menunjukkan rasa penasarannya. Bahkan, sampai tidak malu memperlihatkan antusiasnya segala tentang agama Islam.
Rasa antusiasme itu muncul saat Maria menjadi bagian Pelatnas PBSI. Kariernya bermain bulu tangkis di tim tersebut pada 2010. Kebetulan Maria harus menjalankan profesinya di lingkungan Muslim. Karena teman-teman seperjuangan Maria di Pelatnas PBSI kebanyakan menganut agama Islam.
Di pelatnas, Maria Febe sering bertanya soal Islam kepada Aprilia Yuswandari yang kala itu menjadi teman sekamarnya. Sampai ketika sudah tidak di Pelatnas lagi, rekan-rekan lainnya juga turut memberikan Febe informasi soal ajaran agama Islam.
Berbagai kegiatan ibadah di Pelatnas PBSI pun selalu diperhatikan Maria. Seiring berjalannya waktu, ia telah mengetahui beberapa kebiasaan teman-temannya, salah satunya rutin shalat Tarawih selama bulan Ramadan.
“Seiring waktu kan kadang ada kaya mereka tarawih lah, terus ada acara-acara gitu, tergerak gitu lho hatinya,” lanjut istri mantan pebulutangkis Andrei Adistia.
Maria yang semakin penasaran, langsung mencari-cari dan memperdalam tentang ajaran dari agama Islam. Meski orang tuanya masih belum mengetahui niatnya. Sejak itu, Maria akhirnya benar-benar menemukan kedamaian dalam hatinya. Ia memutuskan berpindah agama ke Islam (mualaf) dan meninggalkan kepercayaan lama dari keluarga besarnya yang penganut Kristen.
Maria Febe pada akhirnya berganti nama sejak mualaf. Nama barunya kini berubah menjadi Aisyah Febe, karena melekat dengan agama Islam. Seketika menjadi mualaf, Maria Febe tak langsung menyebarluaskan kabar ini kepada media, bahkan orang tuanya. Dia hanya memberi tahu orang-orang tertentu.
“Yang tahu cuma orang tertentu doang, jadi cuma intinya aja. Aku gamau nyebar-nyebar gitu, dan waktu itu juga orang tua aku belum tau,” ujar Febe.
Meskipun sudah punya nama baru, Aisyah Febe Kusumastuti, Maria tetap memilih untuk menggunakan nama lamanya. Nama baru itu dianggapnya sebagai sesuatu yang special, dan tidak menggantikan nama sebelumnya. Sebab akan melibatkan perubahan dokumen resmi, seperti paspor dan KTP.
Maria Febe mengakhiri profesinya di lapangan dengan memutuskan pensiun di usia 27 tahun, tepatnya pada 2017 setelah mengikuti ajang Indonesia Open 2017. Terkini, ia beralih profesi meski masih di dunia bulu tangkis. Ia hijrah ke Kanada sebagai pelatih, dan beberapa negara lainnya.