Muhammad Ali memutuskan untuk berpindah agama ke Islam (mualaf) setelah bertemu dengan Malcolm X, seorang aktivis HAM dan pemimpin Nation of Islam di AS. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Syahdan, sekitar warsa 1964 dunia tinju dunia diguncang berita menggagetkan. Petinju kelas berat Amerika Serikat Cassius Marcellus Clay Jr dengan karier mencorong saat itu dengan takzim melantunkan dua kalimat syahadat dan memutuskan untuk memeluk Islam. Resmi sebagai seorang Muslim, Cassius pun bersalin nama menjadi Muhammad Ali.
Sejarah tinju menulis bahwa Ali yang lahir pada 17 Januari 1942 dianggap sebagai salah satu petinju terbesar sepanjang masa. Berbagai gelar bergengsi pun telah direngkuh yang dijuluki Si Mulut Besar ini.
Sebenyak 56 kemenangan, 5 kekalahan, dan 37 KO dibukukan Ali semasa kariernya. Ali pensiun pada tahun 1981 di usia 39 tahun. Di balik kesuksesannya di ring tinju, Ali memiliki kisah spiritual yang sangat mendalam dan inspiratif sebagai seorang Muslim. Bagaimana kisahnya?
"Islam telah membantuku menemukan tujuan dan makna hidup. Islam telah membantuku menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih percaya diri," kata Ali di dalam buku karyanya "The Soul of a Butterfly"..
Ali memutuskan untuk berpindah agama ke Islam setelah bertemu dengan Malcolm X, seorang aktivis hak asasi manusia dan pemimpin Nation of Islam di Amerika Serikat. Ali yang terlahir sebagai seorang kristiani dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr kemudian berganti nama menjadi Muhammad Ali dan mulai mempelajari ajaran Islam.
Sepanjang hidupnya sebagai Muslim, Ali telah menyatakan bahwa Islam telah membantunya menemukan tujuan dan makna hidup. Ia juga telah menyatakan bahwa Islam telah membantunya menjadi lebih sabar, lebih kuat, dan lebih percaya diri.
Islam telah memiliki pengaruh yang sangat besar dalam karier tinju Ali. Ia telah menyatakan bahwa doa dan ritual Islam telah membantunya mempersiapkan diri untuk pertarungan tinju. Ali juga telah menyatakan bahwa Islam telah membantunya mengembangkan mentalitas yang lebih kuat dan lebih percaya diri.
Ada satu cerita menarik tentang alasan di balik keputusan Ali berpindah keyakinan menjadi Muslim. Menurut cerita istrinya Belinda seperti dikutip NDTV, alasan utama Ali menjadi seorang mualaf berawal dari sebuah pertengkaran. Pria dengan julukan The Peoples Champ, cerita Belinda, saat itu tengah berada di luar kendali.
Belinda kemudian menginstruksikan Ali untuk duduk dan menulis sebuah esai. Dia meminta Ali untuk menulis tentang mengapa dia menjadi seorang Muslim. Ali lalu mengambil selembar kertas kosong dan pulpen biru dan mulai menulis.
Dalam esai, Ali menceritakan bagaimana masa remajanya di Louisville saat dia dikenal sebagai Cassius Clay Jr. Hingga pada suatu ketika, Ali melihat seorang pria mengenakan jas mohair hitam, menjual koran terbitan Nation of Islam saat ia berjalan-jalan mencari gadis-gadis cantik.
Mengutip buku “The Soul of a Butterfly" disebutkan bahwa Nation of Islam sebenarnya bukan nama yang asing baginya. Ali pernah mendengar organisasi Islam Amerika itu dan pemimpinnya, Elijah Muhammad.
Meski sudah mengetahui namun tidak ada dalam benak Ali untuk serius bergabung dengan kelompok tersebut. Sekadar diketahui, di era itu Nation of Amerika dikenal banyak menggunakan beberapa ajaran Islam untuk memperjuangkan hak orang-orang kulit hitam dan perbaikan diri.
Sebagai seorang yang berlangganan koran, saat sedang membaca matanya tertuju pada sebuah kartun. Kartun itu menunjukkan seorang pemilik budak kulit putih memukul budak kulit hitamnya dan meminta orang tersebut berdoa kepada Yesus. Ali pun menyadari gambar itu memiliki makna yang salah. Kartun yang dilihatnya itu membuat dia tak mau memakai nama Cassius Clay.
Pada tahun 1964, ketika dia memenangkan kejuaraan kelas berat usai menumbangkan Sonny Liston, petinju yang di akhir hayatnya digerogoti penyakit Parkinson itu mengumumkan secara terbuka dan membuat pernyataan independen: "Saya percaya kepada Allah dan dengan damai," katanya.
Ali mengungkapkan, kepindahannya ke agama Islam adalah hal yang wajar dan selaras dengan fitrah yang Alloh ciptakan untuk manusia. Ia meyakini bahwa Islam membawa kebahagiaan untuk semua orang. Menurutnya, Islam tidak membeda-bedakan warna kulit, etnis, dan ras.
"Semuanya sama di hadapan Allah SWT. Yang paling utama di sisi Tuhan mereka adalah yang paling bertakwa."
Keyakinannya terhadap Islam makin bertambah manakala Ali membaca terjemahan Al Qur'an. Setelah membaca Al Qur'an, Ali menjadi yakin bahwa kitab suci tersebut adalah firman Allah yang sebenarnya. Di mata Ali, Al Qur'an memiliki kekuatan untuk mengubah hidupnya dan memberinya tujuan yang lebih tinggi.
"Al Qur'an adalah firman Allah yang sebenarnya. Ia telah membantuku menemukan ketenangan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan hidup." tukas Ali.
Sumber Referensi:
Buku "The Soul of a Butterfly" oleh Muhammad Ali (Penerbit: Simon & Schuster, 2004)
Buku "Muhammad Ali: His Life and Times" oleh Thomas Hauser (Penerbit: Simon & Schuster, 1991)
Buku "Muhammad Ali: The Greatest" oleh Walter Dean Myers (Penerbit: Scholastic Press, 2001)