Sejarah Pelaksanaan Ibadah Haji dalam Islam
Abdul Rahman Ahdori
Haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Bagi umat Muslim yang mampu dan telah memenuhi syarat haji, wajib menunaikannya. Pelaksanaan haji hanya dilakukan di Makkah, Saudi Arabia. Hal ini sebagaimana telah disyariatkan oleh ajaran Islam. Dengan demikian, jika tempat pelaksanaan haji bukan di Makkah maka hukumnya haram atau hajinya tidak diterima.
Hal ini sebagaimana ditegaskan para ulama, bahwa pelaksanaan haji di Makkah berkaitan dengan tempat tertentu yang disucikan oleh pemeluknya, yaitu sebuah tempat suci yang menjadi titik kumpul untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dikutip dari NU Online, Syekh Muhammad Afifi Al-Baijuri atau dikenal dengan nama pena Syekh Muhammad Khudari Bek (1872-1927 M) dalam karyanya Tarikh Tasyri Al-Islami menjelaskan, dalil terkait Makkah sebagai tempat berhaji umat Islam diterangkan dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat 43, 34, 67, 26, 27,28, 29, al-Baqarah ayat 127-128 dan al-Imran ayat 96.
Dalam kitabnya tersebut, Syekh Muhammad Khudari Bek juga menegaskan bahwa tradisi penyelenggaraan ibadah haji di kalangan bangsa Arab terus berlangsung sejak zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as sampai Allah mengutus Nabi Muhammad saw. Namun, bangsa Arab telah mengubah banyak ajaran Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as lalu bangsa Arab tersebut menyekutukan Allah dengan patung dan berhala.
Sampai-sampai, bangsa Arab menempatkan berhala di punggung dan sekitar Ka’bah, di bukit Shafa, dan di bukit Marwah. Bangsa Arab meyakini berhala dan patung itu sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tak berhenti sampai di sini, mereka mengubah syi’ar-syiar haji dan menyembelih binatang ternak dengan nama selain Allah swt.

















